Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar
TRIBUNFLORES.COM,LABUAN BAJO-Ketika bangunan sekolah retak dan dinilai tidak lagi aman, kegiatan belajar mengajar tidak serta-merta berhenti.
Di SDN Kampung Baru, Pulau Longos, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, NTT guru dan warga memilih membangun ruang kelas darurat dengan bahan seadanya agar puluhan siswa tetap bisa bersekolah.
Sekolah darurat bagi siswa di sekolah itu dibangun menggunakan kayu dan daun pohon lontar guna menyelamatkan pendidikan pascagempa Flores bagi masa depan 40 anak.
Kepala SDN Kampung Baru, Amiruddin, mengatakan dua ruang bangunan lama di sekolah tersebut mengalami keretakan cukup parah setelah gempa berkekuatan sekitar 7,7. Retakan terlihat pada bagian sudut-sudut bangunan sehingga pihak sekolah khawatir bangunan tersebut sewaktu-waktu roboh.
Baca juga: Gunung Ile Lewotolok Tak Henti Bergemuruh, 11 Desa di Lembata NTT Bertahan di Tengah Hujan Abu
“Rasanya kalau mau digunakan sudah tidak layak. Takutnya tiba-tiba roboh. Saya tidak bisa mengambil risiko itu,” ujar Amiruddin, saat diwawancarai TRIBUNFLORES.COM via telpon pada Senin (7/9/2026).
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah mengambil langkah cepat. Bersama para guru dan masyarakat Kampung Baru, mereka membangun ruang kelas darurat secara swadaya.
Bahan bangunan pun diperoleh dari lingkungan sekitar sekolah. Kayu digunakan sebagai struktur bangunan, sementara daun dari pohon gebang, yang banyak ditemukan di sekitar wilayah tersebut, dimanfaatkan untuk atap dan bagian dinding.
Pembangunan dilakukan selama empat hari, mulai Kamis hingga Minggu. Warga ikut turun tangan mengerjakan ruang belajar tersebut. Meski belum sepenuhnya selesai, ruangan darurat itu kini telah digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Guru dengan warga di sini berinisiatif membuat sekolah darurat karena sekolah yang lama sudah tidak layak digunakan,” ujarnya.
Sekolah darurat tersebut digunakan untuk siswa kelas 1 hingga kelas 4. Sementara siswa kelas 5 dan 6 masih menempati ruangan bangunan yang kondisinya relatif lebih aman. Total terdapat 40 siswa dan sembilan guru di SDN Kampung Baru.
Keterbatasan ruang sebenarnya sudah menjadi persoalan sekolah tersebut bahkan sebelum gempa. SDN Kampung Baru hanya memiliki empat ruang, dengan satu ruangan digunakan sebagai ruang guru dan tiga lainnya untuk kegiatan belajar. Ruang-ruang tersebut kemudian disekat untuk memenuhi kebutuhan enam tingkat kelas.
SDN Kampung Baru sendiri resmi menjadi sekolah definitif pada 2014 setelah sebelumnya berstatus sebagai sekolah yang masih bergantung pada sekolah induk. Sejak awal berdiri, menurut Amiruddin, belum ada perbaikan besar terhadap bangunan lama yang kini mengalami keretakan.
Di tengah keterbatasan itu, sekolah memilih untuk tidak menunggu terlalu lama. Apalagi pembelajaran daring bukan pilihan realistis karena akses jaringan komunikasi di wilayah tersebut sangat terbatas.
Bahkan di lingkungan sekolah tidak tersedia jaringan telekomunikasi yang memadai.
“Daripada anak-anak tidak belajar. Sudah beberapa minggu,” ungkap Amiruddin.
Kegiatan belajar tatap muka akhirnya kembali berlangsung di ruang kelas darurat. Hari ini menjadi awal siswa kembali belajar setelah sekolah mengambil langkah swadaya tersebut.
Namun, ruang belajar dari kayu dan daun itu bukan solusi jangka panjang. Pihak sekolah masih membutuhkan bantuan, terutama tenda, terpal, material bangunan serta pembangunan ruang kelas permanen.
Kebutuhan itu semakin mendesak karena musim hujan akan segera tiba. Kondisi lingkungan sekolah yang mudah berlumpur dikhawatirkan akan membuat proses belajar semakin sulit.
Amiruddin bahkan telah menyampaikan laporan kerusakan sekolah dan mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah melalui koordinasi antarkepala sekolah. Namun hingga kini, belum ada pemeriksaan langsung dari pemerintah ke lokasi sekolah untuk melihat kondisi bangunan yang terdampak.
Karena itu, pihak sekolah memilih tetap bergerak sambil menunggu bantuan.
“Yang saya harapkan ada perhatian dari pemerintah untuk dibuatkan bangunan yang baru karena bangunan yang lama sudah tidak layak,” ujarnya.
Untuk sementara, Amiruddin bersama masyarakat bahkan telah memikirkan solusi yang lebih tahan lama. Jika tersedia dana, mereka berencana membuat lantai agar tidak berlumpur, kemudian membangun struktur sederhana menggunakan tiang kayu dan atap seng.
Menurutnya, konstruksi sederhana seperti itu setidaknya dapat bertahan lebih lama dibandingkan penggunaan terpal yang hanya mampu bertahan dalam waktu singkat.
Bagi SDN Kampung Baru, ruang kelas darurat bukan sekadar bangunan sementara. Di balik kayu, daun gebang, dan meja-kursi lama yang kembali digunakan, ada upaya guru dan masyarakat mempertahankan hak 40 anak untuk tetap belajar di tengah keterbatasan pascagempa.
Sembari menunggu perhatian dan pembangunan kembali dari pemerintah, sekolah sederhana itu menjadi satu-satunya tempat bagi anak-anak Kampung Baru untuk kembali membuka buku dan melanjutkan pelajaran.(Iar)