TRIBUNBENGKULU.COM - Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menjadi perhatian warga di sejumlah wilayah.
Selain menempel di halaman, teras rumah hingga kendaraan, abu vulkanik juga dapat berdampak terhadap kesehatan jika terhirup atau mengenai tubuh.
Salah satu dampaknya terlihat pada mata.
Dalam sebuah video yang diunggah akun Threads @khatrinsucisaraswati, ia memperlihatkan kondisi matanya yang memerah setelah terkena abu vulkanik.
Bagian putih mata warga tersebut tampak memerah cukup jelas hingga terlihat seperti darah.
Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa paparan abu vulkanik tidak bisa dianggap sepele, terutama jika mengenai mata maupun saluran pernapasan.
Dokter sekaligus figur publik, dr. Tirta Mandira Hudhi, turut mengingatkan masyarakat yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk lebih berhati-hati.
Melalui unggahan di akun TikTok miliknya, dr. Tirta membagikan sejumlah tips bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik.
"Buat kawan-kawan yang tinggal di Jabodetabek, Jawa Barat sekitarnya yang terdampak abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau, ini saran dari saya, kebetulan dulu saya pernah terdampak abu Gunung Kelud ya, abu gunung merapi," kata dr. Tirta di akun Instagram pribadinya.
Dr. Tirta mengingatkan masyarakat untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
"Yang pertama adalah kalian kalau ke mana-mana aktivitas outdoor walaupun abunya tipis itu harus memakai masker," ujarnya.
Ia menjelaskan, abu vulkanik yang terlalu sering terhirup dapat menyebabkan reaksi alergi hingga gangguan pada saluran pernapasan.
Dalam kondisi yang lebih parah, paparan tersebut bahkan dapat menyebabkan bronkitis.
Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama abu vulkanik masih beterbangan.
Abu vulkanik yang menempel di halaman, teras rumah maupun kendaraan juga perlu dibersihkan.
Namun, dr. Tirta mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyapu abu dalam kondisi kering.
"Yang kedua adalah kalau kalian mau bersihin abu yang ada di rumah, di halaman jangan disapu, beneran itu tambah terbang, tambah sesak napas, batuk-batuk, tapi yang benar disiram pakai air," ungkapnya.
Hal senada disampaikan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengingatkan warga untuk menggunakan perlindungan diri saat membersihkan abu vulkanik.
Perlengkapan yang digunakan antara lain masker, kacamata pelindung, sarung tangan, pakaian lengan panjang dan sepatu tertutup.
"Perlengkapan tersebut membantu mengurangi risiko abu terhirup serta mencegah iritasi pada mata dan kulit," kata Ani dalam keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).
Ani juga mengingatkan agar abu tidak langsung disapu dalam kondisi kering.
"Sebelum menyapu, percikkan air secukupnya agar abu menjadi lebih berat dan tidak mudah beterbangan," ujarnya.
Meski demikian, warga tidak dianjurkan menyiram abu dengan air secara berlebihan.
Abu yang menggumpal dapat masuk ke saluran air dan berpotensi menyebabkan saluran tersumbat hingga menimbulkan genangan.
Cara tersebut dapat diterapkan untuk membersihkan abu yang menempel di teras, kendaraan maupun lingkungan sekitar rumah.
Mata Terkena Abu, Jangan Digosok
Paparan abu vulkanik juga perlu diwaspadai jika mengenai mata.
Karena itu, warga diimbau tidak menggosok mata secara langsung.
Jika mata terkena abu, sebaiknya dibilas menggunakan air bersih.
Dr. Tirta juga memberikan imbauan apabila abu mengenai wajah.
"Terus yang ketiga kalau kena muka, itu segera gunakan sabun cuci muka yang proper, jangan langsung kegesek karena bisa baret-baret," imbaunya.
Jangan Lupa Bersihkan Diri
Setelah selesai membersihkan abu vulkanik, masyarakat juga dianjurkan tidak langsung masuk ke dalam rumah.
Dinkes DKI menyarankan masker dilepas di luar rumah sebelum masuk.
Warga kemudian dianjurkan mandi dan keramas serta mengganti pakaian.
"Setelah selesai melakukan aktivitas di lingkungan yang terpapar abu, masyarakat disarankan untuk melepaskan masker di luar ruangan sebelum masuk ke rumah, mandi dan keramas, serta mengganti seluruh pakaian," kata Ani.
Pakaian yang terkena abu vulkanik juga sebaiknya dicuci secara terpisah.
Olahraga Outdoor Sebaiknya Dikurangi
Dr. Tirta juga mengingatkan masyarakat yang terbiasa berolahraga di luar ruangan untuk sementara beralih ke aktivitas indoor.
Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi jumlah abu vulkanik yang mungkin terhirup saat berolahraga.
"Terus buat teman-teman yang hobi berolahraga outdoor diganti dulu di indoor daripada Anda berisiko terhirup abu vulkanis makin banyak, kecuali Anda olahraga outdoornya mau pakai masker," jelas dr. Tirta.
Ia juga meminta masyarakat memaklumi jika terdapat aroma berbeda saat abu vulkanik turun.
"Yang keempat maklumi kalau baunya agak aneh, namanya juga abu vulkanik," ujarnya.
Masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pun diimbau tetap menggunakan masker, melindungi mata dan kulit serta mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi tersebut masih terjadi.