TRIBUNNEWS.COM - Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu gangguan pada jalur penerbangan antara Malaysia dan Indonesia direspons sigap oleh pihak pengelola Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).
Dilansir dari Bernama, pengelola Bandara KLIA memastikan bahwa ribuan penumpang yang terdampak karena gangguan penerbangan tersebut akan terus mendapatkan perhatian, kenyamanan, serta bantuan penuh melalui pendekatan keramahtamahan khas Malaysia.
Hal ini diutarakan oleh Senior General Manager for Passenger Experience and Operations KLIA, Abd Hasman Abd Muhimin
Muhimin memaparkan bahwa gangguan penerbangan tersebut telah berdampak pada 6.279 penumpang yang melibatkan 59 penerbangan keberangkatan di Terminal 1 dan Terminal 2 sejak Minggu, 6 September 2026.
Kendati demikian, saat ini dilaporkan hanya tersisa 59 penumpang yang masih berada di area Bandara KLIA.
Sebagian besar penumpang yang sebelumnya terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau diklaim Muhimin, telah dibantu untuk mendapatkan akomodasi penginapan di sekitar Kuala Lumpur dan Lembah Klang.
Sebagian lainnya memilih melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Indonesia seperti Surabaya dan Aceh sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Jakarta melalui jalur darat menyusul penutupan wilayah udara ibu kota Indonesia.
"Kami terus memberikan bantuan kepada penumpang agar mereka dapat berada di KLIA dengan nyaman dan juga mendapatkan perhatian dari perusahaan penerbangan," terang Muhimin usai melakukan peninjauan langsung terhadap situasi penumpang di ruang tunggu khusus Terminal 1 KLIA pada Senin, (7/9/2026).
Baca juga: Cara Refund dan Reschedule Tiket Pesawat Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Jangan Sembarangan Cancel
Tim gabungan ini melibatkan tim dari Malaysia Airports, maskapai penerbangan, pihak penanganan darat, serta instansi berwenang terkait guna mengoordinasikan penanganan penumpang secara terpadu.
Sebanyak 11 titik lokasi khusus juga telah disiapkan di area gedung satelit, Contact Piers, serta terminal utama.
Lokasi-lokasi ini difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para penumpang sambil menunggu pembaruan jadwal penerbangan, sekaligus disediakan fasilitas minuman serta makanan ringan gratis.
Bagi penumpang yang memerlukan akomodasi hotel di luar kawasan bandara, pihak pengelola telah menyediakan jalur khusus bekerja sama dengan Departemen Imigrasi Malaysia serta Badan Pengendalian dan Perlindungan Perbatasan Malaysia guna mempermudah perjalanan menuju hotel yang telah ditentukan oleh maskapai.
Bantuan yang diberikan tidak sebatas urusan tiket dan penerbangan semata.
Petugas KLIA juga secara aktif memantau kondisi fisik maupun psikologis para penumpang, menanyakan kebutuhan mendesak, serta membantu menguruskan akomodasi jika diperlukan, dengan memberikan perhatian khusus kepada keluarga yang membawa anak kecil.
"Kami juga memberikan dukungan psikologis dari waktu ke waktu; kami memeriksa kondisi mereka, kami menanyakan keadaan mereka, dan kami juga menanyakan apakah mereka memerlukan hotel," terang Muhimn
Muhimin menambahkan bahwa jika gangguan penerbangan ini terus berlanjut, prosedur darurat penanganan lanjutan telah disiapkan agar penumpang tidak merasa tertekan selama masa tunggu, termasuk penyediaan ruang sementara yang dilengkapi fasilitas dasar.
Baca juga: Khawatir Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Baim Wong Beri Imbauan: Gak Boleh Disepelekan
Pendekatan humanis dan pelayanan optimal yang diberikan oleh pihak KLIA ini pun mendatangkan apresiasi positif dari para penumpang yang terpaksa harus menunggu dalam waktu lama untuk mendapatkan kejelasan jadwal penerbangan mereka.
Keiza Bella, seorang warga negara Indonesia berusia 20 tahun yang tergabung dalam rombongan wisata studi ke Singapura dan Malaysia, mengungkapkan bahwa pelayanan sigap dari staf KLIA sangat membantu mengurangi tingkat stresnya setelah penerbangan menuju Jakarta terpaksa dibatalkan untuk kedua kalinya.
"Bagus! Mereka memberikan informasi jika terjadi pembatalan dan sebagainya," ungkap Keiza kepada Bernama.
Keiza menuturkan bahwa situasi tersebut tidak sampai menimbulkan stres yang berlebihan meskipun dirinya harus menunggu selama beberapa hari guna melanjutkan perjalanan pulang.
Senada dengan Keiza, seorang penumpang wanita asal Indonesia berusia 50-an tahun bernama Fintje Jovita Wondal yang sedang berlibur bersama keluarganya turut menyampaikan pandangan serupa.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa pembatalan penerbangan ini murni disebabkan oleh bencana alam dan bukan kesalahan dari maskapai penerbangan.
"Hingga saat ini, panduan di sini cukup baik. Terima kasih atas semua pelayanannya,"
Gangguan penerbangan ini sendiri dipicu oleh sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang mempengaruhi operasional penerbangan lintas negara antara Malaysia dan Indonesia.
Penutupan wilayah udara Jakarta dilaporkan berlaku hingga pukul 19.00 WIB pada hari Senin. Bagi para penumpang yang memiliki jadwal penerbangan pada hari Senin dan Selasa, diimbau untuk segera menghubungi maskapai masing-masing di Terminal 1 dan Terminal 2 KLIA.
(Tribunnews.com/Bobby)