Liputan6.com, Jakarta - Surah Al-Lail sarat dengan makna mendalam tentang perjalanan hidup manusia. Surat ini mengajak setiap insan untuk merenungkan hakikat perjuangan hidup di dunia dan bagaimana setiap usaha serta pilihan yang diambil akan berujung pada dua kemungkinan: kemudahan atau kesulitan.
Surat Al-Lail yang berarti "Malam" ini terdiri dari 21 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Surat ini memiliki keistimewaan karena membuka pembahasannya dengan sumpah Allah SWT terhadap tiga ciptaan-Nya yang agung: malam, siang, dan penciptaan laki-laki serta perempuan.
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa sumpah ini menunjukkan betapa pentingnya waktu dan ciptaan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang patut direnungkan. Menurut pandangan ulama Ar-Razi, pergantian malam dan siang menggambarkan siklus kehidupan manusia yang senantiasa bergerak dan beraktivitas.
Surat Al-Lail menjadi replika kehidupan manusia yang berbicara tentang bagaimana manusia menyikapi kehidupan yang dialami, terutama terkait harta dan kenikmatan, yang nantinya mengarahkan mereka menjadi dua golongan, apakah golongan yang beruntung ataukah yang merugi.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah ulasan mendalam mengenai surah Al-Lail ayat 1-11 beserta arti dan pesan kehidupan.
Berikut adalah teks lengkap Surah Al-Lail ayat 1-11 beserta transliterasi dan terjemahannya:
وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ (١)
Latin: Wal-laili iżā yaghsyā
Artinya: "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)"
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ (٢)
Latin: Wan-nahāri iżā tajallā
Artinya: "Demi siang apabila terang benderang"
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰ (٣)
Latin: Wa mā khalaqaz-zakara wal-unṡā
Artinya: "Dan penciptaan laki-laki dan perempuan"
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ (٤)
Latin: Inna sa'yakum lasyattā
Artinya: "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda"
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ (٥)
Latin: Fa ammā man a'ṭā wattaqā
Artinya: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa"
وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ (٦)
Latin: Wa ṣaddaqa bil-ḥusnā
Artinya: "Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)"
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ (٧)
Latin: Fasanuyassiruhū lil-yusrā
Artinya: "Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah"
وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ (٨)
Latin: Wa ammā man bakhila wastaghnā
Artinya: "Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup"
وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ (٩)
Latin: Wa każżaba bil-ḥusnā
Artinya: "Serta mendustakan pahala yang terbaik"
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ (١٠)
Latin: Fasanuyassiruhū lil-'usrā
Artinya: "Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar"
وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّىٰ (١١)
Latin: Wa mā yugnī 'anhu māluhū iżā taraddā
Artinya: "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa"
Sumpah Allah dengan Malam dan Siang
Allah Ta'ala memulai surat ini dengan sumpah yang agung. Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu, yaitu waktu yang di dalamnya manusia melakukan berbagai aktivitas dengan keadaan yang berbeda-beda. "Demi malam apabila menutupi" maksudnya malam menyelimuti seluruh makhluk dengan kegelapannya. Ketika itu, setiap orang kembali ke tempat tinggalnya dan beristirahat dari keletihan serta kepayahan.
Dr. Firanda Andirja, Lc., MA menjelaskan bahwa Allah bersumpah dengan malam karena malam hari merupakan anugerah Allah yang besar untuk hamba-hamba-Nya, di mana orang-orang beristirahat dengan tenang di rumahnya masing-masing setelah seharian bekerja mencari nafkah. Seorang hamba yang beriman akan menyisihkan waktunya di malam hari untuk berkhalwat dengan Allah beribadah kepada-Nya, terutama di waktu sahur.
Kemudian Allah bersumpah dengan siang yang mana Allah menjadikan siang hari sebagai waktu bagi manusia untuk mencari penghidupan mereka. Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa siang adalah waktu ketika tampak jelas bagi manusia, sehingga mereka mendapatkan cahaya dari sinarnya dan bertebaran untuk mengurus berbagai keperluan mereka.
Allah berfirman, "dan penciptaan laki-laki dan perempuan". Jika kata mā dimaknai sebagai kata sambung (maushulah), maka ini adalah sumpah dengan Dzat Allah yang mulia, yaitu Dia yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Jika dimaknai sebagai kata dasar (mashdariyah), maka ini adalah sumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri. Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah bahwa Allah menciptakan dari setiap jenis makhluk hidup yang Dia kehendaki.
Usaha Manusia yang Berbeda-beda Setelah bersumpah dengan tiga hal tersebut, Allah menyatakan: "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda". Ini menunjukkan bahwa perjalanan hidup manusia sangat beragam. Ada yang baik dan kurang baik. Ada yang tampan dan ada yang pas-pasan.
Dua Golongan Manusia
Golongan Pertama: Orang yang Memberi dan Bertakwa
Allah berfirman: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah". Orang yang bertakwa kepada Allah serta senantiasa menginfakkan sebagian hartanya untuk kebaikan akan mendapatkan kemudahan. Yaitu, kemudahan untuk beramal baik, serta kemudahan untuk menjalankan ketaatan dan meninggalkan larangan.
Golongan Kedua: Orang yang Bakhil dan Merasa Cukup
Allah berfirman: "Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar". Mereka yang kikir terhadap hartanya dan merasa tidak membutuhkan Allah akan dimudahkan menuju kesulitan.
Hartanya Tidak Bermanfaat Ayat kesebelas menegaskan: "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa". Ini menjadi peringatan tegas bahwa harta yang dikumpulkan dengan sikap bakhil tidak akan menolong pemiliknya saat ia menghadapi kematian dan hisab di akhirat.
1. Kehidupan adalah Pilihan antara Dua Jalan
Surah Al-Lail mengajarkan bahwa setiap manusia dihadapkan pada dua pilihan jalan: jalan kemudahan (yusrā) bagi mereka yang memberi dan bertakwa, atau jalan kesulitan ('usrā) bagi mereka yang kikir dan mendustakan kebenaran.
Pilihan ini bukanlah nasib yang digariskan tanpa usaha, melainkan konsekuensi logis dari sikap dan perbuatan manusia selama hidup di dunia. Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Juz Amma, surat ini menerangkan bahwa orang yang bertakwa akan dimudahkan Allah mengerjakan perbuatan takwa sehingga memperoleh kebahagiaan.
2. Kedermawanan dan Takwa Adalah Kunci Kemudahan Hidup
Allah menjanjikan kemudahan bagi orang yang memiliki tiga sifat: memberi (a'ṭā), bertakwa (ittaqā), dan membenarkan pahala terbaik (ṣaddaqa bil-ḥusnā). Kedermawanan bukan hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga menyucikan diri dan harta.
Orang yang gemar bersedekah dan bertakwa akan dimudahkan dalam segala urusannya, baik di dunia maupun di akhirat. Ini mengajarkan bahwa kemudahan hidup tidak datang dari kekayaan atau kekuasaan, melainkan dari kedekatan dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama.
3. Kekikiran dan Kesombongan Mengantarkan pada Kesulitan
Sebaliknya, orang yang bakhil, merasa cukup (istagnā), dan mendustakan kebenaran akan dimudahkan menuju kesulitan. Kekikiran dan kesombongan adalah penyakit hati yang menjauhkan manusia dari rahmat Allah.
Orang yang merasa tidak membutuhkan orang lain apalagi Allah akan mendapatkan kesulitan hidup, baik secara materi maupun spiritual. Pesan ini mengingatkan bahwa harta yang ditahan tidak akan membawa keberkahan, justru akan menjadi beban di akhirat kelak.
4. Harta Tidak Bermanfaat Saat Kematian Tiba
Ayat kesebelas menegaskan, "Dan hartanya tidak berguna baginya apabila ia telah binasa". Ini adalah pengingat kuat bahwa kekayaan duniawi tidak akan menolong seseorang ketika ajal menjemput.
Yang tersisa hanyalah amal perbuatan, kebaikan yang telah diberikan dan ketakwaan yang telah dipupuk. Pesan ini mengajak manusia untuk tidak terperdaya oleh gemerlap dunia dan selalu mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
5. Setiap Usaha Manusia Dicatat dan Dibalas Setimpal
Allah menegaskan bahwa usaha manusia beraneka ragam (lasyattā). Setiap orang memiliki jalan dan pilihan masing-masing, dan semuanya akan dicatat serta dibalas setimpal oleh Allah. Tidak ada satu pun amal yang sia-sia, sekecil apa pun. Ini menjadi motivasi untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhi kejahatan, karena semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Ada beberapa riwayat yang memberitakan Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya) Surah Al-Lail. Dalam riwayat Ibnu Hatim dikatakan bahwa Surah Al-Lail turun berkenaan dengan pemilik pohon kurma yang bakhil. Riwayat lain menyebutkan bahwa surah ini turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Beberapa ulama mengemukakan riwayat yang menyatakan bahwa ayat 5 sampai ayat 7 diturunkan menyangkut sahabat Nabi Muhammad SAW. Sebab turunnya ayat ini menceritakan tentang perbedaan sikap manusia dalam berinfak dan bertakwa.
Dalam kitab Asbabun Nuzul disebutkan bahwa Abu Bakar mempunyai peran penting terkait turunnya ayat-ayat ini. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Surah Al-Lail termasuk surat Makkiyah yang diturunkan untuk menegaskan perbedaan antara orang-orang yang beriman dan berinfak dengan orang-orang yang kafir dan bakhil.
1. Apa tema utama Surah Al-Lail?
Tema utama Surah Al-Lail adalah perbedaan dua golongan manusia dalam menyikapi kehidupan, terutama terkait harta dan kenikmatan. Surah ini menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua: orang yang berinfak dan bertakwa yang akan dimudahkan menuju kebaikan, serta orang yang bakhil dan mendustakan hari pembalasan yang akan dimudahkan menuju kesulitan.
2. Mengapa Allah bersumpah dengan malam dan siang dalam Surah Al-Lail?
Allah bersumpah dengan malam dan siang karena keduanya adalah tanda kekuasaan Allah yang tidak dapat dibantah. Malam adalah waktu istirahat dan ketenangan, sementara siang adalah waktu untuk beraktivitas dan mencari rezeki. Sumpah ini juga menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.
3. Apa yang dimaksud dengan "jalan yang mudah" dalam Surah Al-Lail?
"Jalan yang mudah" (al-yusrā) merujuk pada kemudahan yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman, bertakwa, dan berinfak. Kemudahan ini berupa kemudahan untuk beramal baik, menjalankan ketaatan, dan meninggalkan larangan. Ini adalah janji Allah bagi hamba-hamba-Nya yang saleh.
4. Siapa yang dimaksud dengan orang yang bakhil dalam Surah Al-Lail?
Orang yang bakhil adalah mereka yang kikir terhadap hartanya, tidak mau menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah, dan merasa dirinya cukup sehingga tidak membutuhkan Allah. Mereka juga mendustakan adanya pahala terbaik (surga) dan hari pembalasan.
5. Apa pesan utama dari ayat 11 Surah Al-Lail?
Ayat 11 Surah Al-Lail "Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa" menegaskan bahwa harta yang dikumpulkan dengan sikap bakhil tidak akan menolong pemiliknya saat kematian dan hari hisab tiba. Ini menjadi peringatan bahwa harta hanyalah titipan sementara dan tidak boleh menjadi tujuan utama kehidupan.