Laporan Wartawan Warta Kota Network, Ikhwana Mutuah Mico
WARTAKOTALIVE.COM, PALMERAH - Menjadi orangtua dari anak penyandang disabilitas bukan perjalanan mudah. Berbagai kekhawatiran tentang masa depan, pendidikan, hingga potensi anak menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran.
Hal inilah yang turut dirasakan Triana Oktavia, ibu dari Savia Aulia Rachmawati atau yang dikenal sebagai "sinden cilik". Savia terlahir sebagai penyandang tunadaksa dengan kondisi tidak memiliki tangan dan kaki kiri. Meski demikian, keterbatasan fisik tersebut tidak menghalanginya untuk mengembangkan bakat di bidang seni, khususnya seni suara dan sinden.
Seperti apa perjuangan Triana mendampingi Savia hingga mampu berada di atas panggung dan tampil di hadapan Presiden pada 17 Agustus 2026 lalu? Berikut wawancara eksklusif reporter Warta Kota Network Ikhwana Mutuah Mico bersama Savia Aulia Rachmawati dan ibunya, Triana Oktavia di kediamannya di Ciledug, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Tanya: Seperti apa awalnya ibu mengetahui kondisi Savia dan bagaimana perasaan Ibu saat itu?
Jawab: Savia ini benar-benar rezeki buat saya. Savia terlahir dengan kondisi tidak memiliki kaki kiri dan tangan kiri. Jadi, kategorinya adalah tunadaksa. Kalau perasaan saat pertama kali mengetahui kondisinya, sebagai manusia tentu ada rasa sedih. Saya sempat berpikir, "Ya Allah, nanti anak saya bagaimana?" Apalagi Savia perempuan. Kekhawatiran itu pasti ada. Kami sebagai orangtua terkadang berpikir terlalu jauh tentang masa depan anak. Namun, dukungan terbesar datang dari suami, orangtua saya dan mertua. Kami saling menguatkan bahwa apa pun yang Allah berikan kepada kami adalah yang terbaik. Dari situ saya belajar berdamai dengan hati, jiwa dan mental. Karena ketika memiliki anak dengan kondisi khusus, orangtua juga harus menerima dan menguatkan diri terlebih dahulu.
Sejak kecil, bagaimana ibu membangun kepercayaan diri Savia hingga akhirnya memiliki keberanian untuk tampil dan berkesenian? Sejak kecil saya selalu mengajak Savia berbicara dan memberikan semangat. Ketika menyusui, saya sering bilang, "Kamu hebat, kamu kuat, kamu rezeki Bunda". Saya tanamkan kepercayaan diri itu sejak dia masih kecil. Kemudian bakatnya mulai terlihat. Sekitar usia satu hingga dua tahun, Savia terlihat ceria, memiliki daya tangkap yang baik dan suka menyanyi. Awalnya hanya menyanyi seperti anak-anak pada umumnya. Namun, sekitar dua tahun terakhir, dia mulai serius belajar nyinden. Savia awalnya suka menonton wayang. Bahkan dulu dia bercita-cita menjadi dalang. Namun, karena keterbatasan fisik dan proses latihan yang panjang, dia mencari bidang seni yang menurutnya bisa dilakukan. Karena sudah memiliki dasar suka menyanyi, akhirnya dia memilih menjadi sinden. Sebagai orang tua, saya hanya berusaha mengikuti keinginannya. Kalau anak punya hobi dan memang ingin serius, tugas kami adalah mendukung dan mengarahkannya.
Tanya: Bagaimana perjuangan ibu mendampingi Savia belajar hingga akhirnya bisa tampil di berbagai panggung?
Jawab: Perjuangannya tentu tidak sebentar. Kami mencari guru sinden yang bisa membimbing Savia, salah satunya di Jakarta Timur. Jadi, dari Ciledug ke Jakarta Timur itu cukup jauh, apalagi harus menghadapi kemacetan. Namun, itu bentuk dukungan kami sebagai orangtua. Kalau ada pementasan, saya juga selalu mengembalikan keputusan kepada Savia. Saya tanyakan apakah dia siap, apakah tidak terlalu lelah. Saya tidak ingin memaksakan. Kalau dia memang ingin, kami berusaha semaksimal mungkin mendukung. Awalnya dia tampil untuk menguji mental di Lenteng Agung bersama Ki Warseno Slank. Setelah itu tampil di Pura Mangkunegaran, Solo. Dari sana mulai banyak panggilan untuk pentas, baik di Jakarta, Tangerang maupun beberapa daerah di Jawa Tengah. Bagi kami, menggunakan sebutan "Sinden Cilik" juga merupakan bagian dari proses. Savia masih belajar dan berkembang. Harapannya, melalui seni sinden, dia juga bisa ikut melestarikan budaya Indonesia.
Tanya: Apa yang ibu rasakan ketika akhirnya Savia mendapat kesempatan tampil di hadapan Presiden dan apa harapan ibu untuk perjalanan Savia ke depan?
Jawab: Rasanya campur aduk, antara haru, bangga dan tidak percaya. Awalnya kami hanya diberi tahu ada acara untuk kementerian dan dalam rangka HUT RI. Sampai akhirnya diberi tahu bahwa Savia akan tampil di istana dan menyinden di hadapan Presiden. Kami sampai berpelukan dan menangis. Saya merasa ini seperti jawaban dari doa-doa yang selama ini kami panjatkan. Apalagi banyak orang juga mendoakan agar Savia suatu saat bisa tampil di istana. Yang paling membuat saya terharu, Savia dipercaya menjadi bagian dari pembukaan dan tampil di hadapan Bapak Presiden. Bagi saya, itu merupakan pencapaian yang luar biasa.
Saya hanya berdoa semoga di mana pun Savia berada, dia selalu berada dalam lindungan Allah dan dikelilingi orang-orang baik yang menerima serta mendukungnya. Untuk orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas, jangan pernah malu. Kita harus berdamai dengan diri sendiri dan menerima kondisi anak. Kemudian, gali potensi anak karena setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Saya percaya, Allah yang menciptakan pasti memberikan jalan. Yang terpenting adalah terus mendukung anak, karena bisa jadi bakat yang kita kembangkan hari ini menjadi pintu rezeki dan kesuksesan mereka di masa depan.
Tanya: Apa yang Savia rasakan setelah bisa tampil di hadapan Presiden dan apa cita-cita Savia ke depan?
Jawab: Rasanya tentu sangat terharu, bangga dan senang. Apalagi saya sebagai penyandang disabilitas bisa mendapat kesempatan tampil dan mewakili teman-teman disabilitas lainnya. Saya ingin membuktikan keterbatasan bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu yang kita sukai. Untuk ke depannya, saya ingin terus belajar dan mengembangkan kemampuan saya sebagai sinden. Cita-cita saya bisa membawa budaya Indonesia ke tingkat internasional. Saya ingin memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat luas, bahkan kalau bisa sampai ke luar negeri. Saya ingin menyampaikan kepada teman-teman penyandang disabilitas agar tetap semangat dan percaya diri. Kalau memiliki potensi, terus gali dan kembangkan dengan sungguh-sungguh. Jangan pernah merasa rendah diri karena saya percaya bahwa produk Tuhan tidak ada yang gagal. (m30)
Dapatkan informasi lain dari Wartakotalive.com lewat WhatsApp di sini