SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Sejumlah pedagang sembako di Pasar Klojen, Kota Malang, Jawa Timur mulai kesulitan mendapatkan pasokan beras dalam sepekan terakhir.
Kiriman beras yang biasanya datang secara rutin kini tersendat, sehingga membuat pedagang merasa waswas stok di kios mereka habis.
Umi, pedagang sembako di Pasar Klojen, mengatakan sudah sekitar 10 hari tidak menerima kiriman beras dari pemasok.
Biasanya, Umi dapat membeli sekitar 20 sak beras dalam sekali kulak, namun pada pengiriman terakhir, Umi hanya memperoleh satu sak berukuran 25 kilogram.
"Sampai sekarang tidak ada lagi kiriman. Saya tidak tahu pasti penyebab tidak adanya kiriman, tapi saya dengar katanya pabrik tidak menggiling lagi," kata Umi, Selasa (8/9/2026).
Menurut Umi, persoalan pasokan seperti ini baru pertama kali dirasakan olehnya sepanjang tahun 2026.
Stok beras yang dimiliki Umi pun kian terbatas, kini hanya menyisakan enam sak ukuran 25 kg, delapan sak beras SPHP kemasan 5 kg, dan 10 sak beras premium kemasan 5 kg.
"Saya sebagai pedagang butuh stabilitas pasokan," ujarnya.
Tersendatnya kiriman mulai berdampak terhadap harga beras premium.
Sebelumnya, Umi membeli beras premium ukuran 25 kg seharga Rp385.000, namun kini melonjak menjadi Rp395.000.
Dampaknya, harga jual beras premium kemasan 5 kg turut naik dari Rp85.000 menjadi Rp87.000, sementara beras SPHP dijual Rp60.000 per kemasan 5 kg.
Kesulitan serupa dialami Andi S, pedagang sembako lainnya di Pasar Klojen.
Baca juga: Sikapi Isu Kelangkaan, Bapanas Cek Harga dan Ketersediaan Beras SPHP di Pasar Kepanjen Malang
Menurut Andi, pasokan mulai sulit diperoleh sejak sekitar satu pekan terakhir, padahal sebelumnya ia bisa melakukan kulak setiap dua hari.
"Seminggu ini barang sulit. Biasanya kan lancar, tiap kulak barangnya ada. Seminggu ini tidak dapat sama sekali," kata Andi.
Kesulitan tersebut khusus terjadi pada komoditas beras.
Menurut Andi, pasokan minyak goreng, telur, dan gula masih berjalan normal.
Tidak ingin kehilangan barang dagangan, Andi akhirnya mencari dari sumber lain dengan terpaksa membeli beras secara eceran di Pasar Comboran meskipun harganya lebih mahal.
"Akhirnya cari eceran, harganya lebih mahal, tapi kalau tidak ada barang, tidak ada yang dijual," ujarnya.
Baca juga: Harga Beras Premium di Kota Malang Naik, Dispangtan Usulkan Bulog Lepas Cadangan Beras
Andi mengatakan harga beras premium ukuran 25 kg yang sebelumnya berada di kisaran Rp370.000 kini mencapai Rp395.000. Bahkan, ada pedagang yang mendapatkannya dengan harga hingga Rp400.000.
Untuk beras premium, Andi mendapatkan harga sekitar Rp15.750 per kg dan menjualnya kembali Rp16.500 per kg.
Andi mengaku belum mengetahui penyebab pasti tersendatnya pasokan beras tersebut.
Untuk sementara, pedagang hanya bisa mencari sumber pasokan lain sekaligus menyesuaikan harga jual dengan harga kulakan.
"Mengikuti kondisinya saja. Semoga cepat pulih," harap Andi.
Di tempat terpisah, Supriyono, seorang pedagang di Pasar Bunulrejo menjelaskan, ia tidak lagi menerima pasokan dari distributor beberapa waktu ini.
"Pasokan beras dihentikan oleh distributor. Biasanya tersedia 20 merek beras dengan stok 5 ton. Sekarang, beras habis," tegasnya.
Supriyono mengungkapkan sejak dua pekan ini tidak ada suplai dari distributor, kecuali pasokan beras SPHP sebanyak 100 sak yang kini tinggal 22 sak kemasan 5 kg.
Selama ini, Supriyono mendapatkan suplai beras komersial kemasan jenis premium dan medium dari lima distributor, tiga agen, dan dua penyuplai beras perorangan.
Baca juga: Warga Sukun Kota Malang dapat Bantuan Beras 30 Kg dari Pemerintah
Kenaikan harga beras kian tak terbendung sejak pasokan terhenti.
Supriyono menceritakan, ia kulakan beras premium Rp80.500 per 5 kg, sedangkan beras medium kemasan 5 kg dibeli seharga Rp72.250 per sak.
Harga beras semakin melonjak setelah komoditas pangan pokok itu menghilang di pasaran.
Kalaupun ada beras medium, harga di agen dipatok Rp83.000 per 5 kg, pedagang menjual Rp85.000 per sak.
"Distributor menghentikan pasokan karena harga di atas HET melebihi ketentuan. Saya beli dari distributor sudah tinggi," ujarnya.
Supriyono mengatakan, pasokan beras tersendat sejak Agustus lalu, kemudian harga melonjak melebihi HET.
Baca juga: Harga Beras, Ayam dan Cabai Naik, Pemkot Malang Bakal Cek Distributor Sebelum Intervensi Pasar
Padahal, HET beras telah diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 299 tahun 2025 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras yang berlaku mulai 22 Agustus 2025.
Badan Pusat Statistik Malang melaporkan, pada 2025, rata-rata konsumsi beras warga di Kota Malang dalam sebulan mencapai 5,81 Kg dengan pengeluaran Rp80.978,75.
Potensi kenaikan bisa mencapai 25 persen saat hari besar seperti Idulfitri.