SURYA.co.id, SURABAYA - Rumah Sakit Kementerian Kesehatan (RS Kemenkes) Surabaya mencatat sekitar 600 pasien stroke mendapatkan penanganan, termasuk tindakan operasi, dalam satu tahun terakhir.
Namun, sebagian besar pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi terlambat sehingga berisiko mengalami kecacatan.
RS Kemenkes Surabaya memiliki layanan unggulan di bidang saraf, termasuk penanganan stroke. Layanan tersebut menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan prioritas kanker, jantung, stroke, dan gagal ginjal (KJSU).
Baca juga: Hari Pelanggan Nasional, PLN UID Jatim Ajak Warga Surabaya Kenali Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Direktur RS Kemenkes Surabaya, dr Martha ML Siahaan, mengatakan stroke menjadi salah satu layanan yang mendapat perhatian. Sebab, penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian hingga kecacatan.
Menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk.
Stroke juga menjadi salah satu penyakit katastropik dengan pembiayaan tertinggi. Pada 2023, pembiayaannya mencapai Rp5,2 triliun atau terbesar ketiga setelah penyakit jantung dan kanker.
"Tadi yang saya bilang, angka kematiannya rata-rata 350.000 per tahun. Belum lagi angka kecacatannya," kata Martha ketika dikonfirmasi di Surabaya.
Menurut Martha, kondisi tersebut membuat pencegahan dan penanganan stroke perlu dilakukan bersama. Salah satunya dengan memastikan pasien yang mengalami gejala segera mendapatkan pertolongan medis.
Penanganan cepat menjadi semakin penting ketika stroke terjadi pada usia muda. Sebab, semakin lama pasien tidak mendapatkan penanganan, semakin besar risiko mengalami kecacatan.
"Kalaupun harus kena stroke karena sesuatu dan lain hal, itu harus segera ke rumah sakit supaya angka kecacatannya ditekan," ujarnya.
Martha juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali tanda awal stroke. Gejala tersebut antara lain rasa kebas, kelemahan mendadak, hingga gangguan bicara.
Masyarakat diminta tidak menganggap gejala tersebut sebagai masuk angin atau kondisi biasa.
"Kalau tiba-tiba menyeng atau kebas-begitu, itu tanda-tanda stroke yang harus kita atasi," katanya.
Gejala stroke yang kemudian menghilang dalam waktu tertentu juga tidak boleh dianggap sudah sembuh. Kondisi tersebut dapat merupakan Transient Ischemic Attack (TIA).
TIA merupakan gangguan aliran darah ke otak yang menimbulkan gejala seperti stroke, tetapi gejalanya dapat menghilang dalam waktu tertentu. Kondisi ini tetap membutuhkan pemeriksaan medis karena dapat menjadi tanda peringatan stroke.
Karena itu, deteksi dini juga penting dilakukan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas.
"Itu bisa tapi jangan anggap itu sembuh. Jangan anggap itu sembuh. Itu pasti penyakit belum sembuh," tegas Martha.
Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Kemenkes Surabaya, Dr Adhy Nugroho, mengatakan salah satu tantangan terbesar dalam penanganan stroke adalah keterlambatan pasien datang ke rumah sakit.
Untuk stroke akut yang masih berada dalam periode emas penanganan, RS Kemenkes Surabaya rata-rata menangani sekitar 10 pasien setiap bulan.
"Kalau untuk stroke yang akut, yang kita bisa tangani dengan cepat, yang tidak ada gejala sisa, dalam empat jam dibawa ke sini, itu sebulan rata-rata kita ada 10 pasien," kata Adhy.
Namun, pasien yang datang terlambat jumlahnya jauh lebih banyak. Adhy menyebut jumlahnya bisa mencapai sekitar lima kali lipat dibandingkan pasien yang datang dalam periode emas.
"Ada lima kali lipat yang datangnya sudah terlambat. Datangnya sudah sehari, datangnya sudah di atas 24 jam. Bahkan ada yang sudah dua, tiga hari di rumah sudah stroke baru dibawa ke sini," ujarnya.
Padahal, waktu sangat menentukan keberhasilan penanganan stroke akut. RS Kemenkes Surabaya berupaya melakukan pemeriksaan hingga pemberian obat dalam waktu kurang dari 30 menit bagi pasien yang memenuhi kriteria.
"Apabila dalam empat jam itu kita tangani kurang dari 30 menit, pemeriksaan sampai obat, itu hasilnya bisa kembali ke awal. Jadi, angka kecacatannya itu bisa sangat ditekan," jelas Adhy.
Menurut Adhy, pasien stroke yang datang ke RS Kemenkes Surabaya juga didominasi warga Surabaya. Sementara pasien dari daerah lain di Jawa Timur porsinya sekitar 10 persen.
Adhy mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pertolongan yang justru berisiko memperburuk kondisi pasien. Ia mencontohkan anggapan bahwa pasien stroke perlu ditusuk-tusuk, diberi rokok rempah, atau diminumi kopi.
"Kalau ini biasanya kita tusuk, jangan. Terus ada lagi rokok rempah, jangan. Terus diminumin dulu, pakai kopi, jangan juga," katanya.
Menurut Adhy, pertolongan pertama yang paling penting adalah memastikan pasien dan penolong berada dalam kondisi aman. Setelah itu, segera minta bantuan.
"Yang paling pertama harus dilakukan sebenarnya adalah minta bantuan. Panggil ambulans, panggil tetangga, panggil tenaga kesehatan," ujarnya.
Pasien dapat diposisikan duduk atau terlentang selama kondisinya aman dan tidak berisiko jatuh. Namun, masyarakat diminta tidak sembarangan mengangkat pasien, terutama jika sebelumnya mengalami jatuh.
Sebab, pasien bisa saja mengalami cedera pada leher atau bagian tubuh lainnya.
"Kalau jatuh, kita mau angkat tapi kita enggak tahu bahwa lehernya mungkin ada patah atau apa. Dengan kita angkat makin parah. Yang tadinya mungkin tidak lumpuh bisa jadi lumpuh," jelasnya.
Adhy menegaskan masyarakat harus segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan begitu menemukan tanda-tanda stroke.
"Pokoknya begitu lihat orang pelo, cadel, tangannya kebas, menyeng, sudah enggak usah mikir mau ngapain, bawa ke fasilitas terdekat," katanya.
Di sisi lain, RS Kemenkes Surabaya tahun ini genap berusia dua tahun. Peringatan HUT kedua dilakukan secara sederhana bersama jajaran rumah sakit. Perayaan ditandai dengan pemotongan kue ulang tahun.
Ada pula hal berbeda dalam perayaan HUT tahun ini. Rumah sakit memilih mengganti tradisi pemberian bunga papan dengan bingkisan berupa tanaman.
Menghadirkan perayaan yang lebih ramah lingkungan, tanaman tersebut kemudian ditanam di lingkungan rumah sakit.