SURYA.co.id, Banyuwangi — Suasana lengang menyelimuti Pondok Pesantren Mansyaul Huda, Jl. Raya Tegaldlimo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (7/9/2026).
Sehari sebelumnya, pesantren ini menjadi saksi pertemuan lintas iman dalam hajatan Maulid Nabi dan Istighotsah untuk bangsa dan negara yang dipimpin KH Fathullah Suyuti Toha atau Mbah Yai.
Pertemuan tersebut mempertemukan tokoh Katolik AM Putut Prabantoro dengan Mbah Yai, meneguhkan semangat persatuan lintas agama.
Putut yang juga, penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), mengaku hubungan batinnya dengan Mbah Yai terasa dekat meski baru empat kali bertemu.
“Sejak pertama berkenalan, saya tidak melihat Mbah Yai beragama apa ataupun embel-embelnya. Saya hanya melihat Mbah Yai sebagai orang tua yang harus dihormati karena suri tauladannya dan semangat nasionalismenya,” ujar Putut.
Dalam setiap pertemuan, Mbah Yai menunjukkan kerendahan hati. Bahkan saat berpamitan, Mbah Yai memeluk Putut layaknya ayah dan anak. Hubungan keduanya semakin erat karena Mbah Yai kerap menelpon Putut agar hadir dalam acara dzikir Nurul Wathon.
Mbah Yai menegaskan tiga pesan utama yang selalu diusung jamaah Nurul Wathon:
“Persaudaraan ini bersifat inklusif dan tidak mengenal diskriminasi,” tegas Mbah Yai.
Menanggapi pesan tersebut, Putut menilai persatuan bangsa semakin mahal sejak diberlakukannya otonomi daerah.
“Saya melihat adanya ancaman serius soal persatuan bangsa di tahun-tahun mendatang setelah 2004. Ancaman itu berlatar belakang SARA, pertentangan mayoritas–minoritas, putera daerah–pendatang yang memicu konflik horisontal,” ujarnya.
Sebagai pengajar ideologi di Lemhannas, Putut kerap mengingatkan pentingnya persatuan. Ia mengusung prinsip Si Vis Pacem, Para Panem — jika ingin perdamaian, siapkan kesejahteraan. Menurutnya, perdamaian hanya terwujud jika kesejahteraan berdiri di atas persatuan.
Putut yang juga anggota Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan KWI menegaskan bahwa umat Katolik terpanggil menjaga persatuan dan Pancasila.
Ia pernah memimpin delegasi lintas agama ke Vatikan dan Rusia, serta mendampingi audiensi dengan Paus Fransiskus pada 2024.
“KH Suyuti Toha merupakan energi kuat bagi saya untuk terus menggelorakan semangat persatuan dan perdamaian bangsa,” ujarnya.
Kunjungan ke Ponpes Mansyaul Huda pada Sabtu (29/8/2026) berlangsung singkat, namun pelukan hangat Mbah Yai kepada Putut menjadi simbol kuat komitmen persatuan lintas iman.