TP Jazz Fest 2026 Satukan Jazz, Budaya, dan Lintas Generasi: “Sound to the Soul”
Siti Fatimah September 08, 2026 05:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebuah festival jazz tak lagi cukup hanya menawarkan deretan nama besar di atas panggung. The Papandayan Jazz Fest (TPJF) memasuki tahun ke-11 justru menjadikan musik sebagai pintu masuk untuk mempertemukan seni, budaya, komunitas, dan lintas generasi. 

Semangat itu menemukan titik temu dengan Kota Baru Parahyangan (KBP), yang tahun ini ikut hadir dalam ekosistem TPJF 2026 pada 3–4 Oktober di The Papandayan Hotel Bandung.

Founder TP Jazz, Bobby Renaldi, mengatakan perjalanan TP Jazz sejak awal memang dibangun dengan cita-cita menciptakan wadah yang mampu menopang keberadaan dan keberlangsungan musisi jazz asal Bandung agar dapat berkembang ke level nasional hingga suatu saat menjadi duta musik Indonesia di panggung internasional.

“Dahulunya berangkat dari niatan utama para kurator. Waktu itu kami ingin memiliki sebuah wadah yang dapat mendukung keberadaan dan keberlangsungan produksi musisi-musisi jazz dari Kota Bandung menuju level nasional hingga menjadi ambassador Indonesia di level internasional,” ujar Bobby saat jumpa pers di The Papandayan Hotel, beberapa waktu lalu.

Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi ekosistem yang tidak hanya berbicara mengenai festival. 

Selama lebih dari satu dekade, TP Jazz menjalankan berbagai program, mulai dari TP Jazz on The Weekend, TP Jazz Universe, TP International Online Jazz Competition (TPJC), TP Podcast Resonance, hingga The Papandayan Jazz Fest sebagai puncak perayaan.

Dalam perjalanan itu, TP Jazz juga mendapat dukungan dari musisi asal Bandung, Dwiki Dharmawan, yang disebut Bobby terus memberikan dorongan, supervisi, sekaligus terlibat langsung dalam pengembangan ekosistem tersebut.

Memasuki tahun ke-11, TP Jazz juga memperluas cakupannya melalui TP Jazz Universe, sebuah program yang membawa pembicaraan lebih jauh ke ranah seni, budaya, musik, lintas genre, dan lintas generasi.

Bagi Bobby, perluasan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa budaya yang bertanggung jawab dan berkelanjutan harus mulai dibangun sejak sekarang.

Semangat keberlanjutan itulah yang kemudian mempertemukan TP Jazz dengan Kota Baru Parahyangan (KBP).

Keduanya menemukan irisan visi yang kuat dalam melihat seni, budaya, komunitas, serta pembangunan yang berorientasi jangka panjang.

Marketing Manager Kota Baru Parahyangan, Joseph Ijong Dachlan, mengatakan KBP sejak awal pembangunannya pada sekitar 2000 tidak hanya membawa konsep pengembangan kawasan permukiman, tetapi juga mengusung pendekatan community-based development.

Menurut Joseph, salah satu pilar yang sejak awal menjadi perhatian KBP adalah budaya, sejarah, dan pendidikan.

“Budaya itu sebuah aktivitas manusia untuk tumbuh lebih baik dan termasuk di dalamnya ada seni. Di situ pastinya ada penikmat, ada komunitas dan lain-lain. Sehingga itu yang menjadi irisan kuat,” ujar Joseph.

Selain budaya, kata dia, terdapat satu kata kunci lain yang mempertemukan KBP dan TP Jazz, yakni keberlanjutan.

Joseph menilai kegiatan seni dan budaya juga dapat menjadi bagian dari cara sebuah kawasan membangun manusia dan komunitas.

Bahkan, ia mengaku pernah menyaksikan langsung bagaimana orang yang awalnya datang ke KBP untuk menikmati festival budaya atau musik kemudian tertarik untuk memiliki hunian di kawasan tersebut.

“Acara-acara seperti ini bisa membangun manusia utuh, lebih madani,” ujarnya.

Kolaborasi dengan TP Jazz juga membuka kemungkinan bagi kegiatan musik dan budaya yang lebih jauh, termasuk gagasan menghadirkan pertunjukan jazz di ruang terbuka.

Semangat kolaborasi tersebut juga menjadi salah satu fondasi TPJF 2026. Event Director TPJF, Tyagita, mengatakan pihaknya tidak memandang jazz sebagai genre yang kaku dan memiliki batas-batas yang terlalu ketat.

Justru, menurut dia, kekuatan jazz terletak pada improvisasi, dialog, eksperimen, dan kemampuannya membuka ruang pertemuan dengan berbagai bentuk musik maupun seni.

“Jazz itu kan ada improvisasinya, the way they dialog, bagaimana mereka bisa bereksperimen. Dari situ kami punya banyak sekali potensi dan ide untuk menciptakan special project dan collaboration,” kata Tyagita.

Meski membawa banyak kolaborasi, TPJF tetap mempertahankan jazz sebagai akar utama festival.

Tahun ini, porsi program yang dikurasi sebagai jazz tetap dominan, sementara kolaborasi dan special project digunakan untuk memperluas pengalaman penonton.

Dengan pendekatan tersebut, pertanyaan mengenai apakah sebuah pertunjukan “cukup jazz” atau tidak bukan lagi menjadi satu-satunya ukuran.

“Yang kami lihat adalah the spirit of jazz pada seluruh proses dan pengalaman yang akan kami berikan kepada audiens,” ujar Tyagita.

Ia menyebut TPJF seperti sebuah rumah bagi berbagai musik.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan dalam penyelenggaraan TPJF 2026 melalui enam panggung dengan karakter berbeda.

Panggung utama berada di Suagi Grand Ballroom yang tahun ini menjadi Kota Baru Parahyangan Stage.

Sementara itu, BRI Stage akan berada di HuruBatu Grill Garden, Ron88 Stage di Cimanuk Ballroom, dan Mojang Jajaka Stage di area Tropical Garden.

Selain itu, TP Stage di Ground Floor serta kawasan Pasar Jazz di area parkir The Papandayan menjadi bagian dari pengalaman festival.

Pasar Jazz akan menghadirkan berbagai pilihan kuliner, produk gaya hidup, serta aktivitas komunitas dan hobi.

Kehadiran Mojang Jajaka Stage juga mempertegas upaya TPJF membawa seni budaya masuk ke dalam ekosistem festival.

Area tersebut akan menghadirkan pertunjukan budaya seperti jaipongan dan wayang, sekaligus melibatkan pelaku seni budaya di luar ranah musik.

“Pada saat kami melihat lokasinya, it feels magical. Jadi kami pikir ini cocok sekali untuk dijadikan cultural stage,” katanya.

Secara keseluruhan, TPJF 2026 akan menghadirkan lebih dari 100 penampil, enam panggung tematik, serta lebih dari 30 booth kuliner dan lifestyle.

Line-up yang diumumkan pada fase pertama pun memperlihatkan spektrum musik yang luas.

Pada hari pertama, 3 Oktober, penonton dapat menyaksikan Dadaks, SND, Arumtala, SFG, SimakDialog, Barry Likumahuwa feat. Ambon Jazz Rock, Batavia Collective, Lalahuta feat. Rieka Roslan, Smoove, Diskoria feat. Andien, Ruth Sahanaya, hingga The Gentlemen’s Club yang diperkuat Adikara, Teza Sumendra, dan Bilal Indrajaya dalam proyek “Tribute to Koes Plus”.

Hari kedua, 4 Oktober, akan menghadirkan 5 Petani, Barry Likumahuwa feat. TPJC Winner Players, Andre Dinuth Group feat.

Matthew Sayersz, T-Five x Melly Mono, Freedom Jazz Society yang terdiri dari Winky Wiryawan, Kenny Gabriel, Jevin Julian, Greybox dan Rinni Wulandari, serta Mahalini.

Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah “A Night of Frank Sinatra”, yang mempertemukan Dwiki Dharmawan, Dira Sugandi, Dirly Dave, dan Bandung Jazz Orchestra.

Menurutnya, proyek Dwiki tersebut menjadi salah satu bentuk bagaimana TPJF mencoba menghadirkan kolaborasi yang tidak biasa, namun tetap memiliki semangat jazz yang kuat.

Antusiasme terhadap TPJF 2026 terlihat dari habisnya kuota tiket Early Bird dan Pre-Sale. Penjualan berikutnya berlanjut melalui program Flash Sale 9.9 pada 9 September 2026.

Tiket tersedia dalam sejumlah kategori diantaranya Silver Pass memberikan akses harian ke enam panggung, sementara Gold Pass memberikan akses ke seluruh area yang termasuk panggung utama Suagi Grand Ballroom.

Adapun Platinum Pass memberikan akses selama dua hari dengan fasilitas akses Gold.

Pada periode promo, Silver Ticket ditawarkan mulai Rp150.000 per hari, Gold Ticket Rp325.000 per hari, sedangkan Platinum 2-Day Pass dibanderol Rp500.000.

Tiket tersedia melalui situs resmi TP Jazz Fest dan platform GOERS. Informasi mengenai line-up tambahan, program spesial, aktivitas festival, serta penjualan tiket akan diumumkan secara bertahap.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.