Wali Kota Magelang Dorong Sehari Berbahasa Jawa di Sekolah, Perkuat Karakter Siswa
Yoseph Hary W September 08, 2026 06:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pemerintah Kota Magelang berencana menerapkan pembiasaan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus memperkuat pendidikan karakter dan tata krama peserta didik.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Magelang Damar Prasetyono saat membuka Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Bregada XXXV Tahun 2026 di Aula Cendikia Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang, Selasa.

Menurut Damar, pembelajaran bahasa Jawa tidak hanya mengajarkan kemampuan berbahasa, tetapi juga menanamkan nilai unggah-ungguh, etika, dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

“Pembelajaran bahasa dan tata krama Jawa tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga mengajarkan unggah-ungguh, etika, serta cara berinteraksi dengan orang lain,” ujarnya.

Peran guru

Ia menilai guru memegang peran strategis sebagai teladan bagi siswa. Cara berbicara, bersikap, hingga perilaku guru dinilai menjadi contoh nyata dalam membentuk karakter generasi muda.

Karena itu, Damar meminta ilmu yang diperoleh para peserta pawiyatan tidak berhenti sebagai keterampilan pribadi, tetapi diterapkan secara nyata di sekolah melalui pembiasaan berbahasa Jawa.

“Bahasa Jawa dapat digunakan secara tepat dalam keseharian, sementara unggah-ungguh dibiasakan melalui praktik dan keteladanan,” katanya.

Bekal panatacara 

Kepala Disdikbud Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Santoso, menjelaskan pelatihan tersebut diikuti 83 guru SD dan SMP dari seluruh Kota Magelang.

Selain dibekali kemampuan menjadi panatacara dan pamedhar sabda berbahasa Jawa, para guru juga dipersiapkan menjadi duta kebudayaan di sekolah masing-masing.

“Sebagai tindak lanjut, para guru diharapkan menyusun dan menerapkan program pembiasaan berbahasa Jawa di sekolah, setidaknya satu hari dalam seminggu,” ujar Nurwiyono.

Program tersebut nantinya akan diintegrasikan ke dalam kurikulum khas sekolah sebagai bagian dari penguatan nilai luhur, budi pekerti, dan identitas budaya lokal.

Disdikbud juga berharap pembiasaan ini menjadi bekal bagi siswa untuk mengikuti berbagai ajang bahasa dan sastra Jawa, seperti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang melombakan geguritan, sesorah, macapat, hingga mendongeng.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.