Kepala BGN Sumut Akhirnya Dicopot Gara-gara 353 Siswa Keracunan MBG, Sempat Bikin Sudaryono Geram
Salomo Tarigan September 09, 2026 09:54 AM

TRIBUN-MEDANcom,MEDAN - Kepala Badan Gizi Nasional Sumut Agung T Kurniawan akhirnya dicopot dari jabatannya.

Pencopotan diduga terkait peristiwa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menimpa ratusan siswa di Berastagi Kabupaten Karo Sumut.

Pencopotan terhadap Agung T Kurniawan diakui Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Medan Donal Simanjuntak saat dikonfirmasi Tribun-Medan.com, Selasa (8/9/2026). 

Kepala BGN Sumut Agung T Kurniawan saat diwawancarai beberapa waktu lalu. Kini, Agung dicopot dari jabatannya
Kepala BGN Sumut Agung T Kurniawan saat diwawancarai beberapa waktu lalu. Kini, Agung dicopot dari jabatannya (TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani)

Ratusan pelajar tersebut mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah menyantap makanan yang disajikan.

Para siswa yang menjadi korban di antaranya dirujuk ke rumah sakit di Medan.

Masih ada beberapa siswa yang belum pulih.

KERACUNAN MBG - Ratusan siswa di Berastagi Karo mengalami mual dan pusing usai menyantap menu MBG, Kamis (13/8/2026). Hingga kini, masih ada sejumlah siswa yang harus menjalani pengobatan karena belum pulih
KERACUNAN MBG - Ratusan siswa di Berastagi Karo mengalami mual dan pusing usai menyantap menu MBG, Kamis (13/8/2026). Hingga kini, masih ada sejumlah siswa yang harus menjalani pengobatan karena belum pulih ( (TRIBUN MEDAN/istimewa))

Mereka menjalani rawat jalan.

Donal menjelaskan,  keputusan Agung dicopot dari jabatannya per 31 Agustus 2026 lalu.

 Namun, ia tak membeberkan alasan pencopotan tersebut. 

"Sudah Tergantikan (Agung dicopot dari jabatannya). Keputusannya per 31 Agustus kemarin," jelasnya kepada Tribun-Medan.com.

KERACUNAN MBG- Screenshoot video sejumlah siswa digotong ke RS menggunakan ambulance, Kamis (13/8/2026).  Siswa yang dibawa ke RS ini Diduga karena keracunan MBG
KERACUNAN MBG- Screenshoot video sejumlah siswa digotong ke RS menggunakan ambulance, Kamis (13/8/2026). Siswa yang dibawa ke RS ini Diduga karena keracunan MBG (IST/FACEBOOK)

Donal mengatakan, saat ini kepala BGN Sumut diisi oleh  Yoga Arizanto. 

"Diganti oleh Yoga Arizanto,"jelasnya. 

Diketahui, Yoga  sebelumnya merupakan Koordinator  Wilayah BGN Kabupaten Deliserdang. 

Kepala BGN Sudaryono Geram

Diketahui, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meluapkan kegeramannya atas lambatnya proses pencopotan Kepala Regional (Kareg) BGN Sumatera Utara.

Padahal, keputusan pencopotan sudah ditegaskan dan evaluasi telah dilakukan.

Hal ini terungkap melalui unggahan Don Muzakir, Selasa (1/9/2026).

Dengan nada kesal, Sudaryono mempertanyakan mengapa keputusan tersebut belum dijalankan.

KERACUNAN MBG- Kepala BGN Sudaryana saat menjenguk ;siswa keracunan MBG di RS Haji Medan,Minggu (16/8/2026).
KERACUNAN MBG- Kepala BGN Sudaryana saat menjenguk ;siswa keracunan MBG di RS Haji Medan,Minggu (16/8/2026). (TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani)

“Lama kali. Mana tim saya? Semenjak pergi kemarin, masa tidak selesai-selesai mencopotnya?” ujarnya.

Kondisi ini menjadi sorotan karena proses yang berlarut-larut dinilai tidak sejalan dengan ketegasan keputusan yang telah ditetapkan.

Sudaryono menegaskan, tidak boleh ada pembiaran dalam pelaksanaan pencopotan. Jika keputusan sudah jelas, maka eksekusi harus segera dilakukan tanpa menunda-nunda.

Sudaryono sebelumnya mengaku marah sekaligus sedih atas kejadian ini. Ia berjanji akan menyerahkan hasil investigasi kepada aparat penegak hukum.

"Ini nyawa seseorang. Kami akan selesaikan masalah ini dan menyerahkan hasil investigasi kepada aparat,” ucapnya.

Sebelumnya, terkuak penyebab keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Sebanyak 353 siswa dari lima sekolah mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG pada Kamis (13/8/2026).

Investigasi awal menyebutkan sumber keracunan berasal dari ikan yang tidak dimasukkan ke freezer selama 10–12 jam.

“Ikan basah tidak ditaruh ke dalam freezer, itu suatu kebodohan dan kelalaian,” tegas Sudaryono.

Sebagai langkah cepat, BGN menutup dapur penyedia makanan dan mencopot Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sudaryono menekankan, pejabat yang tidak mampu mengelola bahan makanan dengan baik lebih baik mundur.

Hingga Selasa (18/8/2026) lalu, tercatat 64 pelajar masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Berastagi.

Baca juga: Fakta Baru Tewasnya Winda Lorenza, Siapa Tersangka? Status Kasus Naik ke Penyidikan Polrestabes

Beberapa sempat kritis, namun kondisi mulai membaik.

Seorang pasien di RS Haji Medan yang dirawat di ruang PICU kini sudah bisa duduk dan berbicara.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Hamid Rijal Lubis, menyebut hasil laboratorium makanan sudah keluar, namun pengumuman resmi akan dilakukan oleh Dinkes Karo.

Ia juga mengonfirmasi   satu siswa yang dirujuk ke RS Adam Malik karena kondisi tidak stabil.

Tunggu Pertanggungjawaban BGN

Keluarga korban masih menunggu kepastian penyebab keracunan serta bentuk pertanggungjawaban dari BGN dan pihak terkait.

Satu di antara siswa yang masih menjalani rawat jalan yakni Febiona atau Yona br Purba (16).

Yona merupakan siswi SMK Swasta Bersama Berastagi, Karo yang ikut menjadi korban keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Yona yang sempat dikabarkan pulih, mengalami gangguan ingatan dan sulit bicara.

Febiona harus berpindah-pindah rumah sakit.

KERACUNAN MBG - Ratusan siswa di Berastagi Karo mengalami mual dan pusing usai menyantap menu MBG, Kamis (13/8/2026). Hingga kini, masih ada sejumlah siswa yang harus menjalani pengobatan karena belum pulih
KERACUNAN MBG - Ratusan siswa di Berastagi Karo mengalami mual dan pusing usai menyantap menu MBG, Kamis (13/8/2026). Hingga kini, masih ada sejumlah siswa yang harus menjalani pengobatan karena belum pulih (TRIBUN MEDAN/istimewa)

Mulai dari RSU Kabanjahe, RS Efarina Berastagi, RS Umum Haji Medan, hingga RSUP H Adam Malik.

Setiap kali pulang, ia kembali mengalami kejang dan harus dilarikan lagi ke fasilitas kesehatan.

Datangi RS Adam Malik Lagi

 Febi Yona  masih harus menjalani perawatan berobat jalan di RSUP H Adam Malik, Kota Medan.

Febi didampingi ibunya, Elvinus Lusiana br Sitanggang, kembali mendatangi RSUP H Adam Malik untuk melakukan kontrol medis lanjutan, Selasa (8/9/2026).

Daftar Siswa Korban MBG yang Masih Butuh Perawatan Lanjutan

1. Febiona Purba

Siswi SMK Bersama Berastagi ini kembali menjalani pemeriksaan di RSUP H Adam Malik Medan.

Ayahnya, pak Purba, mengatakan dokter menemukan indikasi paparan racun jamur pada saraf anaknya.

“Menurut pemeriksaan dokter di Adam Malik, hasilnya ada racun jamur di saraf kepala anak saya,” ujarnya.

Febiona kini harus menjalani kontrol berkala selama enam bulan hingga satu tahun.

Keluarga merasa terpukul menghadapi ketidakpastian kondisi kesehatan anak mereka.

2. Agnesia P Silitonga

Siswi ini mengalami gangguan ginjal. Beberapa hari terakhir kondisinya memburuk hingga harus dibawa ke RS Efarina Berastagi.

Ibunya, Fitriani Br Sijabat, menyebut dokter menyarankan pemeriksaan lebih lanjut di Medan.

“Kata dokter, anak saya mengalami gangguan ginjal, hingga disarankan melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit di Medan,” ujarnya.

Keluarga menghadapi beban ekonomi karena biaya pemeriksaan lanjutan tidak lagi ditanggung seperti perawatan pertama.

3. Karissa Zefania Aritonang

Korban lain yang kini harus dirawat akibat gangguan jantung.

Kondisi jantung Karissa disebut sudah ada sebelumnya, namun memburuk setelah keracunan MBG.

“Keracunan MBG itu membuat sakit jantungnya kambuh dan makin parah. Makanya saat kena racun MBG kemarin, anak kita langsung sesak,” kata orangtua Karissa.

Karissa sempat dirawat di RS Amanda selama tiga hari, lalu dirujuk ke RSUP H Adam Malik Medan untuk pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis jantung.

4. Krismas Dayanti Sihite

Siswi SMAN 1 Berastagi ini sempat mengalami keluhan sakit perut dan ulu hati setelah mengonsumsi MBG.

Kondisinya berangsur membaik setelah mendapatkan perawatan medis, namun keluarga tetap memantau perkembangan kesehatan Krismas secara ketat. 

Sebelumnya, sang ayah, pak Sihiter, mengatakan dokter menemukan indikasi paparan racun jamur pada saraf putrinya.

Keempat siswi ini menunjukkan bahwa dampak keracunan MBG tidak berhenti pada perawatan awal.

Mereka masih harus menjalani pemeriksaan medis jangka panjang, dengan beban psikologis dan ekonomi yang berat bagi keluarga

Baca juga: Kritik Mahfud MD soal Kasus Keracunan MBG, Nilai Sudaryono Gagal Karena Terjebak Kebijakan

(Cr5/mns/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.