Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Novanda Halirat
AMBON, TRIBUNAMBON.COM-penonton penuhi lapangan Merdeka, Kota Ambon pada penutupan Festival Benteng Nieuw Victoria 2026.
Mereka hadir dari berbagai kalangan dan bahkan ada yang dari luar daerah Pulau Ambon.
Penutupan berlangsung meriah dimulai dengan pementasan seni budaya dan aransemen musik.
Penutupan berlangsung sekira pukul 21.00 WIT oleh Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, bersma Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) Maluku, Dody Wiranto.
Penonton memenuhi sisi kiri dan kanan panggung, bahkan tak sedikit dari mereka mengabdikan momen tersebut.
Dibawah rembulan, cahaya lampu sorot dan lampu handphone penonton bersinar terang.
Salah seorang warga, Dian Talakua mengaku senang dengan berbagai kegiatan yang dipentaskan dalam festival budaya tersebut.
Terlebih lagi menurutnya bukan tentang panggung hiburan, tetapi perkenalan budaya yang ada di Indonesia.
Tak hanya mengenal budaya Maluku dan sekitarnya, tetapi juga daerah lain seperti dari pulau Jawa dan Sumatra.
Selain itu keterlibatan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagau wadah tumbuh kembang juga perlu diapresiasi.
"Sangat bagus karena banyak budaya yang ditampilkan," ungkapnya.
Baca juga: Pemprov Maluku Tegaskan Penataan Pendidikan Samasuru Sesuai Hukum, Siswa Jadi Prioritas
Baca juga: Dari Pasahari, Warga Minta Dokumen Tapal Batas TN Manusela Dibuka
Menurutnya, kegiatan seperti ini harus ditingkatkan, sehingga upaya memperkenalkan seni dan budaya dapat diperluas dan optimal.
Ia berharap festival ini dapat diadakan lagi dengan berbagai keunikan dan kebudayaan yang lebih banyak dan beragam.
Sehingga generasi muda dapat mengenal dan juga menjaga budaya baik itu di Maluku maupun daerah lainnya.
"Harus ditingkatkan, dan terima kasih kepada penyelenggara," tutupnya.
Diketahui, Festival Benteng Nieuw Victoria diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku.
Festival yang berlangsung dua hari sejak 7-8 September 2026, menghadirkan panggung kebudayaan yang luar biasa.
Tema yang digagas yakni “Merangkai Warisan Budaya dalam Harmoni” memang dirancang sebagai ruang perjumpaan kebudayaan.
Berbagai kebudayaan Nusantara dipentaskan dalam festival ini. Ada yang dari Maluku hingga luar daerah.
Festival selama dua hari ini berlangsung apik, disaksikan ribuan penonton dari berbagai penjuru daerah. (*)