TRIBUN-MEDAN.COM,- Ulta Levenia Nababan, pendukung Prabowo Subianto tengah jadi sorotan warganet.
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden itu memicu pro kontra setelah bicara soal fenomena gunung api.
Di media sosial miliknua, Levenia sempat membahas proyek High-frequency Active Auroral Research Program atau HAARP yang selama ini kerap dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi.
Ia mengaku sebagai sosok yang skeptis dan tidak ingin begitu saja menerima sebuah penjelasan hanya karena dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.
“Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?” tulis Ulta dalam unggahannya.
Sontak, pernyataannya itu pun memicu gelombang pro kontra.
Ada yang masih mendukung Levenia, tapi tak sedikit pula yang melontarkan hujatan.
Lantas, seperti apa profilnya?
Baca juga: Profil Brigjen Cpm Anggiat Napitupulu, Akmil 1997 Mantan Danpomdam I/Bukit Barisan
Ulta Levenia Nababan merupakan peneliti Indonesia yang dikenal memiliki fokus pada kajian konflik, kontra-terorisme, serta keamanan internasional.
Jika dilihat dari namanya, Ulta Levenia Nababan ini merupakan orang Batak.
Sebab, Nababan adalah marga dari suku Batak Toba.
Baca juga: Profil Mohammad Yusafrihardi Girsang, Hakim yang Vonis Bebas Anak Eks Dandim Terdakwa Dugaan Korupsi
Marga ini termasuk dalam kelompok persatuan marga Toga Sihombing, bersama dengan tiga marga lainnya yaitu Silaban, Lumbantoruan, dan Hutasoit.
Meski ia memiliki latar belakang suku Batak, ternyata Levenia ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Dalam kariernya, ia memiliki rekam jejak sebagai peneliti, konsultan keamanan, hingga keterlibatan dalam berbagai forum nasional maupun internasional yang membahas isu pertahanan dan keamanan.
Baca juga: Harta Kekayaan Tiorita Surbakti yang Digadang Jadi Bupati Langkat Capai Rp 5,1 M
Selain aktif di bidang akademik dan penelitian, Ulta Levenia Nababan juga dikenal pernah terlibat dalam dunia kebijakan publik.
Berbagai media melaporkan bahwa pada 2026 ia menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP).
Adapun latar belakang pendidikannya, Ulta Levenia Nababan menempuh pendidikan tinggi di bidang ilmu politik dan keamanan.
Ia meraih gelar Sarjana (S1) Ilmu Politik dari Universitas Indonesia.
Baca juga: Harta Kekayaan Bupati Langkat Syah Afandin atau Ondim Melejit Rp 1,8 M Sebelum Ditangkap KPK
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan studi Magister (S2) di University of Leeds, Inggris.
Pada jenjang ini, fokus kajiannya berkaitan dengan insurgensi, radikalisme, dan terorisme, yang kemudian menjadi bidang penelitian utamanya.
Selain pendidikan formal, Ulta juga dilaporkan mengikuti program studi mengenai keamanan Indo-Pasifik di salah satu lembaga pertahanan di Prancis sebagai bagian dari pengembangan kompetensi di bidang keamanan regional dan strategi pertahanan.
Karier profesional Ulta Levenia Nababan dimulai sebagai peneliti pada 2015.
Baca juga: Profil Syah Afandin atau Ondim, Bupati Langkat Kader PAN Harta Kekayaan Rp 10,6 Miliar
Sejak saat itu, ia aktif melakukan kajian mengenai konflik bersenjata, ekstremisme, serta dinamika keamanan di kawasan Asia dan dunia.
Dalam perjalanan kariernya, ia disebut pernah menjalankan sejumlah peran penting, antara lain:
Pada bidang politik, berbagai media melaporkan bahwa pada 2024 Ulta Levenia Nababan dipercaya sebagai juru bicara sekaligus Wakil Komandan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran.
Baca juga: Profil Irjen Pol Purn Bambang Ghiri Arianto, Eks Kakorsabhara Baharkam Terseret Korupsi Smartboard
Selanjutnya, pada 2026, sejumlah laporan media menyebut ia menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP).
Satu hal yang membedakan Ulta Levenia Nababan adalah pengalaman penelitian lapangan di berbagai wilayah yang memiliki dinamika konflik.
Beberapa lokasi yang disebut pernah menjadi bagian dari kegiatan risetnya meliputi:
Baca juga: Profil Tiorita Surbakti, Istri Pemilik Kerangkeng Manusia Berpotensi Jadi Pj Bupati Langkat
Pengalaman tersebut memperkaya kajiannya mengenai penanganan konflik, pencegahan ekstremisme, keamanan masyarakat, hingga strategi kontra-terorisme.
Selain melakukan penelitian, ia juga kerap menjadi pembicara dalam seminar, diskusi, maupun forum yang membahas isu keamanan nasional, ideologi, serta hubungan internasional.
Baca juga: Profil Antonius Devolis Tumanggor, Anggota DPRD Medan yang Dilapor Gebuki Tetangga Hartanya Rp 4,6 M
Ia juga dilaporkan pernah berkolaborasi dengan berbagai lembaga riset atau think tank di tingkat nasional maupun internasional.
(ray/tribun-medan.com)