Madrid lolos secara ajaib dari ancaman Inter: kemenangan yang tampak meyakinkan ini justru menyamarkan kelemahan dalam susunan pemain pilihan Mourinho.
Kemenangan susah payah sang raksasa Spanyol memunculkan pertanyaan besar tentang keputusan "The Special One".
Real Madrid mengalahkan Inter Milan 2-1 di Santiago Bernabeu pada laga pembuka Liga Champions mereka. Namun, skor itu terlalu memihak tuan rumah. Los Blancos harus bekerja keras sepanjang pertandingan menghadapi wakil Italia tersebut, dan hasil akhir itu menutupi serangkaian kekeliruan pelatih asal Portugal, Jose Mourinho, dalam menentukan XI terbaiknya.
Jika tiga poin dikesampingkan, Inter Milan tampil lebih baik dalam rentang waktu yang panjang. Mereka mampu memaksakan gaya bermain sendiri dan beberapa kali mengancam gawang Real, sebelum digagalkan Thibaut Courtois. Kehebatan sang penjaga gawang menggagalkan peluang-peluang berbahaya yang bisa saja mengubah wajah pertandingan.
Sebaliknya, Real Madrid nyaris tidak perlu membangun serangan dengan rapi untuk mencetak gol. Mereka memanfaatkan kesalahan naif para bek Inter dan juga kiper mereka, yang memberi keuntungan kepada tuan rumah, meski keunggulan itu tak pernah benar-benar terasa wajar, terutama pada babak pertama yang justru lebih banyak dikuasai Nerazzurri.
Bahkan dalam situasi itu, para penyerang Real tetap membuang peluang emas yang seharusnya bisa menutup pertandingan saat unggul 2-0. Pemborosan itulah yang membuat penderitaan Los Merengues berlanjut hingga menit-menit akhir. Hasil ini memang menguntungkan Mourinho, tetapi penampilan tim dan pilihan pemainnya memunculkan banyak pertanyaan mengenai wajah Real Madrid dalam ujian Eropa pertama mereka.
Kombinasi yang tidak cocok
Jose Mourinho memasuki pertandingan ini dengan krisis lini tengah yang serius. Tiga pemain harus absen sekaligus karena skorsing: Eduardo Camavinga, Bernardo Silva, dan Arda Guler, semuanya menjalani hukuman akibat kartu merah yang mereka terima pada edisi sebelumnya di Liga Champions. Situasi itu membuat pelatih Portugal tersebut menghadapi teka-teki berat di salah satu area terpenting di lapangan.
Aurelien Tchouameni juga tidak banyak membantu karena belum sepenuhnya bugar setelah baru pulih dari cedera. Karena itu, Mourinho mengambil risiko dengan menggeser Trent Alexander-Arnold ke lini tengah untuk berduet dengan Fede Valverde. Taruhan itu gagal total. Real Madrid tak pernah menemukan keseimbangan permainan, dan susunan tersebut memperlihatkan dengan jelas kelemahan cara bermain Los Blancos.
Dengan hanya memainkan Alexander-Arnold dan Valverde di tengah, Real Madrid praktis menyerahkan ruang kepada Inter Milan. Tim Italia itu memenuhi area tersebut dengan lima pemain, memberi mereka keunggulan jumlah yang sangat jelas serta kontrol bola yang jauh lebih besar. Mereka leluasa mengalirkan bola, mempertahankan penguasaan, dan membangun serangan sesuka hati, sementara Real Madrid kesulitan menghubungkan lini pertahanan dengan lini serang.
Inter terus menekan. Gelombang demi gelombang serangan datang tanpa henti, dan jarak kualitas permainan kedua tim makin terlihat. Real Madrid sangat bergantung pada kecemerlangan Thibaut Courtois untuk menahan ancaman. Kiper Belgia itu melakukan penyelamatan demi penyelamatan, menjaga timnya tetap bertahan dalam laga sekaligus menegaskan kelemahan rencana Mourinho: lini tengah ini memang tidak dibangun untuk menghadapi tim yang memiliki jumlah pemain dan kendali sebesar itu di pusat permainan.
Kenaifan bertahan dan serangan yang mematikan
Inter Milan sedang menekan dan tampil lebih baik ketika Real Madrid menerima hadiah pertama mereka. Oriel Bisseck kehilangan bola di area berbahaya, Brahim Diaz langsung memanfaatkannya, dan Kylian Mbappe menyelesaikannya menjadi gol. Gol itu datang benar-benar berlawanan dengan jalannya pertandingan, memberi Los Merengues keunggulan saat Inter justru sedang terlihat lebih mengancam.
Inter bahkan belum sempat mencerna gol pertama dan menata ulang permainan ketika kiper Josep Martinez melakukan kesalahan yang lebih ceroboh lagi. Ia mencoba menggiring bola melewati Fede Valverde, kehilangan penguasaan, lalu hanya bisa melihat bola masuk ke gawangnya sendiri. Real Madrid unggul dua gol tanpa balas, padahal alur pertandingan menunjukkan cerita yang sangat berbeda dari papan skor.
Real Madrid mengubah dua kesalahan individu menjadi dua gol tanpa harus menampilkan permainan terbaik atau mengambil alih kendali laga. Tim Italia itu lebih unggul dalam penguasaan bola, kontrol permainan, dan jumlah peluang. Mereka membayar sangat mahal atas kelengahan di lini belakang saat menghadapi lawan yang mampu menghukum celah sekecil apa pun.
Saat turun minum, gambaran pertandingan sudah sangat jelas. Inter Milan adalah tim yang lebih baik di atas lapangan, tetapi Real Madrid memimpin dua gol. Persamaan itulah yang merangkum perbedaan kedua tim pada momen-momen penentu: Nerazzurri menyia-nyiakan peluang mereka, sedangkan Real memaksimalkan setiap hadiah yang datang dan menutup babak pertama dalam posisi unggul dengan usaha yang relatif minim.
Kemenangan yang menipu
Real Madrid sebenarnya punya peluang untuk mengakhiri pertandingan pada babak kedua. Inter mendorong semua lini ke depan demi mengejar kebangkitan, meninggalkan ruang di belakang, dan celah-celah itu memberi Klub Kerajaan lebih dari satu serangan balik berbahaya. Namun, penyelesaian akhir yang boros membuat mereka gagal mencetak gol ketiga yang seharusnya bisa menuntaskan segalanya.
Inter terus datang menekan pertahanan Real Madrid, dan ketika laga menyisakan kurang lebih seperempat jam, Augusto memperkecil ketertinggalan. Kecemasan pun kembali menyelimuti Klub Kerajaan. Mourinho langsung bereaksi dengan memasukkan Aurelien Tchouameni untuk menambah keseimbangan di lini tengah dan mengendalikan menit-menit penutup.
Gol itu membuat Real Madrid nyaris sepenuhnya mundur. Para pemain mereka turun sangat dalam untuk menjaga keunggulan, sementara Inter berusaha memanfaatkan kemunduran itu dan terus menekan hingga akhir. Klub Kerajaan tetap bertahan. Mereka berhasil menjaga keunggulan sampai peluit panjang berbunyi dan membawa pulang tiga poin meski harus melalui penderitaan besar.
Karena itu, kemenangan atas Inter Milan ini tetap merupakan kemenangan yang menipu. Hasil akhirnya memberi Mourinho awal yang sempurna di Liga Champions, tetapi penampilan tim memperlihatkan masalah yang nyata dalam susunan pemain, keseimbangan permainan, dan penyelesaian akhir. Mengandalkan kecemerlangan individu Courtois, kesalahan lawan, atau satu momen kualitas dalam menyerang setiap pekan bukanlah fondasi yang sehat. Mourinho harus segera memikirkan ulang pendekatannya dan menemukan bentuk tim yang lebih baik, karena upaya individu tidak akan selalu menyelamatkan Real Madrid atau menutupi kekurangan mereka.