Alee Tunjang Kembali Dihidupkan Setelah Lama Vakum di Aceh Utara, Piasan Pasee Jadi Momen
Muhammad Hadi September 09, 2026 10:23 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON - Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara ikut mengambil bagian dalam rangkaian Piasan Pasee dalam rangka memperingati 800 tahun Samudera Pasai dengan menampilkan sejumlah kesenian tradisional Aceh.

Sejumlah kesenian yang ditampilkan maupun disiapkan untuk tampil antara lain Rapai Geleng, Seni Poh Kipah, Seudati, Alee Tunjang, pembacaan hikayat, serta Rapai Uroh Duek.

Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya MAA memperkenalkan dan menghidupkan kembali kesenian tradisional Aceh kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Ketua MAA Aceh Utara melalui anggota bidang adat istiadat, Tgk Banta Chairullah kepada Serambinews.com, Rabu (9/9/2206), mengatakan beberapa penampilan kesenian MAA telah digelar sejak Selasa malam.

Salah satunya adalah Rapai Geleng yang dibawakan Sanggar Poh Cakra Lhoksukon. Sebanyak 12 personel tampil dalam pertunjukan tersebut.

Para pemain sebelumnya telah menjalani latihan untuk mempersiapkan penampilan dalam rangkaian Piasan Pasee.

Selain Rapai Geleng, Seni Poh Kipah yang dipimpin Syeh Yusran Yus juga tampil pada Selasa malam. Pertunjukan tersebut melibatkan sekitar 20 personel yang sebelumnya telah melakukan persiapan dan latihan.

Sementara itu, Seudati dari grup Sanggar MAA Aceh Utara juga disiapkan untuk tampil. “Para pemainnya masih menunggu jadwal penampilan,” ujar Tgk Banta.

Grup tersebut beranggotakan sekitar 10 hingga 12 orang yang berasal dari sejumlah kecamatan di Aceh Utara.

Salah satu penampilan yang akan mendapat perhatian adalah Alee Tunjang. Kesenian tersebut merupakan salah satu seni tradisional yang sebelumnya telah lama dibentuk di Aceh Utara, tetapi sempat vakum dan tidak ditampilkan dalam waktu yang cukup lama.

Baca juga: Lomba Tradisional Enggrang Meriahkan Milad 8 Abad Samudera Pasai, Diikuti 44 Siswa

Menurut Tgk Banta, MAA kembali mengembangkan Alee Tunjang dengan melibatkan generasi muda. Sebanyak 12 personel muda disiapkan untuk membawakan kesenian tersebut.

Dalam penampilan untuk piasan pasee, Alee Tunjang tidak berdiri sendiri. Kesenian tersebut dikemas melalui kolaborasi dengan Rapai Geleng dan alat musik tradisional Serune Kalee.

“Alee Tunjang sempat vakum lama di Aceh Utara dan baru kali ini dimunculkan kembali,” kata Tgk Banta.

Menurutnya, kemunculan kembali Alee Tunjang menjadi bagian penting dari upaya menghidupkan kesenian tradisional Aceh Utara sekaligus memberikan ruang kepada generasi muda untuk mempelajarinya.

Selain pertunjukan musik dan tari tradisional, MAA juga menyiapkan pembacaan hikayat sejarah Samudera Pasai yang dilakukan bersama Seniman Tradisi Aceh Utara (Setara), Zaki Munandar.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menyampaikan sejarah Samudera Pasai melalui tradisi lisan yang berkembang dalam kebudayaan Aceh.

Kesenian lainnya yang juga dijadwalkan tampil adalah Rapai Uroh Duek dari Kecamatan Kuta Makmur.

Tgk Banta menegaskan, keterlibatan MAA dalam Piasan Pasee lebih diarahkan pada penampilan dan pelestarian kesenian tradisional. MAA tidak menggelar perlombaan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

“Penampilan kesenian yang ditampilkan oleh MAA dan tidak ada lomba yang dilakukan MAA. Kalau pun nantinya ada lomba, itu mungkin dilakukan oleh dinas lain,” ujarnya.

Ziarah dan Meuseuraya

Selain menampilkan kesenian, MAA Aceh Utara sebelumnya juga terlibat dalam sejumlah kegiatan adat dan keagamaan dalam rangkaian peringatan 800 tahun Samudera Pasai.

Baca juga: Ketua DPRA Ajak Generasi Muda Pase Rawat Adat Budaya dan Sejarah

MAA menginisiasi ziarah ke makam Sultanah Nahrasiyah dan Sultan Malikussaleh. Kegiatan tersebut dirangkai dengan zikir dan doa bersama serta santunan kepada anak yatim.

Kegiatan juga dilanjutkan dengan meuseuraya, yakni gotong royong membersihkan kompleks makam bersejarah.

Agenda meuseuraya tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sebelum acara utama Piasan Pasee. Dalam rundown kegiatan, gotong royong merawat dan membersihkan situs kompleks makam bersejarah dijadwalkan berlangsung di kompleks makam Sultan Malik Al-Shaleh dan Ratu Nahrasiyah dengan melibatkan unsur pemerintah daerah dan masyarakat.

MAA juga mengambil bagian dalam penguatan kembali unsur adat dalam peringatan tersebut. Salah satunya melalui upacara adat pengibaran bendera Pancacita.

Dalam pelaksanaan upacara adat tersebut dikenal istilah Ulee Sago sebagai inspektur upacara yang dijalankan oleh Bupati Aceh Utara, serta Ulee Uphara sebagai komandan upacara Zulfakri (Ketua Setara)

Bagi MAA, rangkaian kegiatan tersebut bukan sekadar pelengkap perayaan Milad ke-800 Samudera Pasai. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kembali sejarah, adat, seni tradisional, dan generasi muda dalam satu rangkaian perayaan.(*)

Baca juga: Rapai Pase Menggelegar Saat Pembukaan Milad 800 Tahun Samudera Pasai di Aceh Utara

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.