Mendagri Tito Minta Belanja Pemda Dioptimalkan untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Mochamad Dipa Anggara September 09, 2026 10:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, MEDAN –  Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta pemerintah daerah (Pemda) mengoptimalkan realisasi belanja untuk menjaga perputaran uang dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurut Tito, belanja pemerintah menjadi salah satu dari empat komponen utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, selain konsumsi rumah tangga, investasi, serta ekspor dan impor.

“Jadi kalau ingin kita mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia maupun daerah empat komponen ini harus dikuasai,” tegas Tito saat membuka Rapat Koordinasi Gubernur se-Sumatera di JW Marriott Hotel, Kota Medan, Sumatera Utara, Rabu (9/9/2026).

Ia menjelaskan, pendapatan daerah yang tinggi perlu diikuti dengan realisasi belanja yang optimal agar uang beredar di masyarakat sekaligus menjadi stimulus bagi sektor swasta.

Karena itu, Pemda perlu memastikan anggaran yang telah direncanakan dapat direalisasikan secara optimal dan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi.

Selain belanja pemerintah, Tito meminta daerah menjaga konsumsi rumah tangga dengan memperkuat daya beli masyarakat.

Daya beli, menurutnya, akan meningkat apabila masyarakat memiliki pekerjaan dan penghasilan yang memadai.

Pemda juga perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui kemudahan perizinan agar penanaman modal dapat masuk dan membuka lapangan kerja.

Pada sektor perdagangan, daerah diminta mengoptimalkan produk unggulan untuk meningkatkan ekspor sekaligus mengendalikan impor.

Selain itu, Tito meminta kepala daerah tidak sekadar melihat angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melakukan diagnosis terhadap komponen yang memengaruhinya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II 2026 terdapat dua provinsi di Sumatera yang pertumbuhan ekonominya menyamai atau melampaui rerata nasional sebesar 5,29 persen, yakni Kepulauan Riau sebesar 6,99 persen dan Lampung sebesar 5,29 persen.

Karena itu, Tito meminta Pemda bersama pihak terkait, seperti BPS dan Bank Indonesia, menganalisis penyebab perbedaan pertumbuhan antardaerah.

Jika pertumbuhan suatu daerah lebih rendah, perlu diketahui apakah penyebabnya berasal dari konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, atau kinerja ekspor.

“Ibarat kita mencari penyakit, mengobati penyakit, kita mencari mendiagnosa dulu masalahnya apa dari empat komponen itu. Setelah kita tahu penyakitnya oh ini masalahnya baru kita melakukan terapi, terapinya melakukan tindakan kebijakan,” jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.