SERAMBINEWS.COM - OpenAI mengklaim telah mencapai terobosan besar dalam matematika: memecahkan persoalan Navier-Stokes, salah satu teka-teki matematika paling sulit di dunia yang telah membuat para ilmuwan kebingungan selama hampir satu abad.
Perusahaan di balik ChatGPT tersebut mengklaim telah menemukan solusi untuk Masalah Navier-Stokes, salah satu dari tujuh Millennium Prize Problems yang ditetapkan Clay Mathematics Institute sebagai tantangan matematika paling bergengsi dan sulit yang belum terpecahkan.
Hadiah untuk masing-masing masalah tersebut mencapai US$1 juta bagi siapa pun yang berhasil memberikan pembuktian yang diakui secara matematis.
Namun, OpenAI mengatakan tidak akan mengajukan klaim hadiah tersebut.
Untuk menyerang persoalan yang selama puluhan tahun menjadi momok para matematikawan itu, OpenAI tidak mengandalkan satu model AI saja.
Perusahaan tersebut mengatakan menggunakan sistem AI internal yang lebih kuat dibandingkan model GPT-6 Astra terbarunya.
Sekitar 10.000 agen AI disebut bekerja secara bersamaan untuk mencari solusi. Setelah proses komputasi berlangsung sekitar 88 jam, sistem tersebut menghasilkan sebuah solusi yang kemudian diverifikasi oleh GPT-6 Astra dalam waktu sekitar 17 jam.
Bagi OpenAI, pencapaian tersebut menunjukkan perubahan besar dalam cara penelitian matematika dilakukan.
Baca juga: Bukan Ponsel, Gadget AI Pertama OpenAI Dikabarkan Berupa Speaker Pintar, Siap Saingi Apple & Amazon
“Tujuan utama pekerjaan kami adalah memberdayakan para ilmuwan untuk memajukan penelitian dan teknologi yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia,” kata peneliti OpenAI dalam pengumumannya.
Navier-Stokes bukan sekadar soal matematika abstrak.
Persamaan tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana fluida seperti air dan udara bergerak. Persamaan ini memiliki peran penting dalam berbagai bidang, mulai dari fisika dan teknik hingga penerbangan dan pemodelan cuaca.
Tantangan matematikanya adalah membuktikan apakah solusi persamaan tersebut selalu berperilaku baik atau dapat mengalami kondisi ekstrem tertentu.
Dalam solusi yang diklaim OpenAI, terdapat kondisi ketika persamaan tersebut dapat “meledak”, dengan kecepatan fluida menjadi tidak terbatas.
Jika pembuktian tersebut benar-benar sah dan lolos pemeriksaan komunitas matematika, dampaknya akan sangat besar.
Di tengah euforia tersebut, muncul persoalan lain.
Tristan Buckmaster, profesor matematika di New York University, mengaku memiliki kekhawatiran setelah mengetahui OpenAI mempercepat penelitian mereka mengenai Navier-Stokes.
Menurut Buckmaster, dirinya dan seorang peneliti lain di Anthropic—perusahaan pesaing OpenAI—juga sedang mengerjakan masalah tersebut dan disebut bersiap mengumumkan terobosan mereka.
Yang membuat situasi semakin sensitif, pekerjaan mereka disebut tersimpan dalam sistem Codex milik OpenAI yang digunakan untuk membantu pemrograman.
Buckmaster mempertanyakan apakah pekerjaan tersebut berpotensi terlihat oleh tim OpenAI.
Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak menuduh OpenAI melakukan pelanggaran.
“Saya tidak tahu apa yang dilakukan model mereka, atau bagaimana caranya. Saya tidak tahu apakah data kami digunakan. Saya tidak menuduh siapa pun melakukan apa pun,” tulis Buckmaster.
OpenAI membantah menggunakan pekerjaan peneliti lain
Peneliti OpenAI Sebastien Bubeck membantah bahwa perusahaan menggunakan pekerjaan Buckmaster atau peneliti Anthropic tersebut.
Dalam konferensi pers, Bubeck mengatakan OpenAI tidak mengakses materi mereka yang tersimpan di server OpenAI.
Meski demikian, OpenAI sendiri mengakui bahwa laporan mengenai kemungkinan terobosan dalam beberapa Millennium Prize Problems ikut mendorong perusahaan untuk memulai proyek tersebut.
OpenAI juga mengatakan tidak dapat sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa data dari penggunaan produk mereka oleh kedua peneliti tersebut ikut berkontribusi terhadap peningkatan model AI mereka.
Pernyataan ini membuat klaim terobosan tersebut semakin menarik perhatian komunitas matematika dan AI.
Klaim terbaru OpenAI bukanlah satu-satunya tanda bahwa AI mulai memasuki wilayah yang selama ini didominasi manusia.
Sebelumnya, OpenAI juga mengklaim kemajuan dalam menyelesaikan persoalan matematika yang telah berusia puluhan tahun.
Namun, Navier-Stokes berada pada level yang berbeda.
Jika pembuktian OpenAI nantinya diverifikasi secara independen dan diterima oleh komunitas matematika, AI tidak sekadar membantu manusia menghitung atau mencari pola.
AI akan tercatat sebagai bagian dari proses pemecahan salah satu masalah matematika terbesar dalam sejarah.
Dari terobosan ilmiah menjadi perdebatan tentang masa depan AI
OpenAI menyebut pencapaian tersebut sebagai “puncak spektakuler” dari perkembangan AI selama setahun terakhir.
Namun, waktunya juga menarik perhatian.
Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan AI menghadapi pertanyaan serius mengenai keamanan sistem yang semakin mampu bertindak secara mandiri.
OpenAI sebelumnya mengungkap adanya agen AI yang berhasil melakukan peretasan dalam sebuah pengujian keamanan siber. Peristiwa serupa juga terjadi pada perusahaan AI lainnya.
Kini, kemampuan AI untuk menyelesaikan persoalan ilmiah yang sangat kompleks justru menambah pertanyaan baru:
Jika AI sudah mampu membantu memecahkan masalah yang membuat matematikawan terbaik dunia buntu selama puluhan tahun, seberapa jauh kemampuan tersebut akan berkembang?
Dan yang tak kalah penting, siapa yang sebenarnya harus mendapatkan pengakuan ketika sebuah penemuan lahir dari ribuan agen AI yang bekerja bersama manusia?
Untuk saat ini, satu hal masih menjadi kunci: klaim OpenAI belum sama dengan kemenangan matematis resmi.
Pembuktian tersebut masih harus diperiksa secara independen dan mendapatkan pengakuan dari komunitas matematika.
Jika akhirnya terbukti benar, dunia mungkin sedang menyaksikan sebuah momen bersejarah:
untuk pertama kalinya, sebuah mesin bukan hanya membantu manusia mengerjakan matematika—tetapi ikut membuka pintu menuju solusi yang selama puluhan tahun tidak mampu ditemukan manusia.(*)