- Sandi Wiyasa, pemilik speedboat yang digunakan lima jurnalis meliput Gunung Anak Krakatau, mengungkap awal mula ia mengetahui rombongan hilang kontak.
Sandi mengaku pertama kali mendapat kabar bukan dari pemantauan langsung, melainkan dari orang lain.
Seorang Kepala Polisi Sektor mengirimkan foto kepada Sandi dan menanyakan apakah ia mengenal sosok dalam gambar tersebut.
Sandi langsung mengenali foto itu sebagai kaptennya sendiri, Warta.
Dari situ, Sandi mendapat informasi bahwa kapal tersebut belum kembali sejak membawa tamu ke Anak Krakatau.
Keluarga para jurnalis pun disebut sudah menunggu dan mencari kabar keberadaan rombongan.
Sandi awalnya mengira rombongan hanya tertahan karena belum mendapat momen foto yang bagus.
Ia sempat menghubungi nomor telepon rombongan, namun sudah tidak bisa tersambung sejak siang hari.
Setelah menunggu hingga sore dan memastikan kapal lain tidak bertemu rombongan di lokasi, Sandi akhirnya melapor ke Basarnas.
Sandi menjelaskan kapalnya hanya dilengkapi life jacket, GPS, dan kompas manual, tanpa alat komunikasi khusus selain telepon genggam.
TNI AL mengerahkan tiga kapal perang untuk memperkuat pencarian jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Ketiga kapal perang tersebut adalah KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861.
Pengerahan ini dilakukan untuk memperluas area penyisiran pencarian korban.
Selain tiga kapal perang TNI AL, operasi juga melibatkan KN SAR Tetuka, Kal Anyer, dan Kal Pahawang.
Polair turut mengerahkan KP Sanjaya untuk membantu proses pencarian.
Tim SAR dari Banten dan Lampung juga menerjunkan sejumlah unit RIB ke lokasi pencarian.
Hingga saat ini, hasil pencarian masih nihil meski seluruh unsur SAR terus bekerja optimal.
Basarnas mengimbau masyarakat dan kapal yang melintas untuk melapor jika menemukan tanda-tanda korban.