Aktivitas Bandara Soekarno-Hatta Kembali Normal, PM2,5 Masih di Atas Batas Aman
Laksmi Anindita September 10, 2026 12:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, telah kembali berjalan setelah sebelumnya terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik.

Meski demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menemukan konsentrasi partikulat halus PM2,5 di sejumlah area luar ruangan bandara masih berada di atas batas aman.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena partikulat berukuran sangat kecil tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono melakukan pemantauan kualitas udara secara langsung di sejumlah titik Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (9/9/2026).

Pemantauan dilakukan menggunakan particulate counter untuk mengukur konsentrasi partikulat, khususnya PM2,5.

Hasil pengukuran menunjukkan masih terdapat area luar ruangan dengan konsentrasi PM2,5 di atas batas aman. Salah satunya berada di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta.

Di titik tersebut, konsentrasi PM2,5 tercatat mencapai 63 µg/m⊃3;. Sementara batas aman PM2,5 yang disebutkan Kemenkes berada pada angka 25 µg/m⊃3;.

Prof. Dante menjelaskan terdapat perbedaan antara aspek keamanan penerbangan dan kesehatan masyarakat dalam melihat kondisi udara.

Baca juga: Firasat Istri Jurnalis Bagus sebelum Hilang, Sempat Dilarang Berangkat Liput Erupsi Anak Krakatau

“Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi,” ujar Prof. Dante, dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan, Kamis (10/9/2026).

Menurut Dante, kondisi udara tidak cukup dinilai hanya berdasarkan apakah abu vulkanik masih terlihat atau tidak.

Partikulat yang berukuran lebih kecil, seperti PM2,5, masih dapat ditemukan melalui pengukuran meskipun kondisi udara secara kasatmata tampak membaik.

Pemantauan Kemenkes pada 8 September 2026 juga menunjukkan sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta dan wilayah sekitarnya masih memiliki konsentrasi PM2,5 dan PM10 yang melebihi batas aman.

Pengukuran dilakukan secara berkala oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) dan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) menggunakan Air Quality Detector atau particulate counter.

Karena itu, Kemenkes mengimbau masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan untuk tetap memperhatikan perlindungan diri.

Prof. Dante meminta masyarakat tetap menggunakan masker selama konsentrasi partikulat halus masih tinggi.

“Saya mengimbau kepada masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan tetap menggunakan masker karena particulate matter-nya yang 2,5 masih di atas normal,” ujar Dante.

Kemenkes juga meminta masyarakat mengurangi paparan abu vulkanik dan partikulat. Aktivitas di luar ruangan dianjurkan diminimalkan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan penyakit tertentu.

Jika mengalami gejala gangguan pernapasan, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan.

Kekhawatiran terhadap kualitas udara tersebut juga berkaitan dengan kondisi kesehatan yang sedang dipantau Kemenkes.

Hingga 6 September 2026, Kemenkes mencatat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.771 kasus terjadi pada kelompok usia 0-5 tahun, sedangkan 12.988 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.

Data Kemenkes juga menunjukkan kejadian ISPA pada 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa dampak kesehatan akibat sebaran abu vulkanik tidak selalu berakhir ketika abu yang terlihat mulai berkurang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.