TRIBUNNEWS.COM - Pasukan Israel dilaporkan menembaki pinggiran Desa Tarnaja di Provinsi Quneitra, Suriah barat daya, pada Rabu (9/92026).
Serangan tersebut menggunakan tembakan artileri, menurut laporan media pemerintah Suriah.
Televisi Alikhbariah milik pemerintah Suriah melaporkan bahwa tentara Israel menargetkan wilayah pinggiran desa tersebut dengan tembakan artileri.
Hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada informasi mengenai korban jiwa maupun kerusakan akibat penembakan.
Insiden di Tarnaja terjadi sehari setelah pasukan Israel memasuki Desa Bariqa di pedesaan Quneitra.
Menurut Alikhbariah, pasukan Israel saat itu menggerebek dan menggeledah sebuah rumah.
Quneitra dalam beberapa hari terakhir juga mengalami sejumlah serangan dan penembakan yang dikaitkan dengan pasukan Israel.
Pada Minggu, pasukan Israel dilaporkan menembakkan sebuah peluru artileri ke sekitar Desa Samadaniyah, mengutip Anadolu Agency, Kamis (10/9/2026).
Baca juga: Pakar: Ketahanan Iran Bukan Berkat Rusia-China, Teheran Bangun Kekuatan Sendiri
Sehari sebelumnya, enam peluru ditembakkan ke pinggiran Kota Rafid.
Selain penembakan, lima kendaraan militer Israel juga memasuki kawasan sekitar kota tersebut sebelum akhirnya mundur.
Tidak ada penangkapan yang dilaporkan dalam insiden itu.
Wilayah Suriah selatan, terutama Provinsi Quneitra dan Daraa, telah mengalami infiltrasi dan serangan Israel hampir setiap hari.
Aktivitas tersebut dilaporkan mencakup penggerebekan, penggeledahan, penangkapan, serta pendirian pos pemeriksaan militer.
Israel sendiri telah menduduki sebagian besar Dataran Tinggi Golan Suriah sejak 1967.
Situasi di kawasan semakin berubah setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024.
Israel menyatakan Perjanjian Pelepasan Pasukan tahun 1974 telah runtuh dan kemudian menduduki zona penyangga Suriah serta sejumlah posisi lainnya, termasuk sisi Suriah dari Gunung Hermon.
Perkembangan tersebut memicu ketegangan antara Damaskus dan Tel Aviv, sementara aktivitas militer Israel di Suriah selatan terus menjadi sumber kecaman pemerintah Suriah.
Di tengah ketegangan tersebut, Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa mengatakan pada 26 Juli bahwa pemerintahnya sedang berupaya, dengan melibatkan sejumlah negara lain, untuk mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel.
Al-Sharaa mengatakan kesepakatan yang berhasil dicapai dapat membuka jalan bagi perdamaian komprehensif.
Namun, ia menegaskan bahwa proses tersebut tidak akan mengorbankan hak Suriah atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki.
Dengan kembali terjadinya penembakan di Quneitra, ketegangan di perbatasan Suriah-Israel masih berlanjut di tengah upaya diplomatik Damaskus untuk mencapai pengaturan keamanan dengan Israel.
(*)