Antara Kesehatan dan Perut: Cerita Pedagang di Padang Bertahan di Tengah Ancaman Kabut Asap
Rahmadi September 10, 2026 02:02 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Ancaman bahaya kabut asap yang menyelimuti wilayah Kota Padang tidak hanya merusak kualitas udara, tetapi juga menempatkan para pedagang kecil di kawasan GOR H Agus Salim dalam posisi yang sangat dilematis.

Bagi para pedagang kaki lima di depan Kolam Renang Teratai, memilih bertahan di rumah demi menjaga kesehatan saluran pernapasan bukanlah pilihan yang mudah untuk diambil.

Pantauan jurnalis TribunPadang.com, Arif Ramanda di lokasi pada Kamis (10/9/2026), kabut asap terlihat memaparkan kawasan terbuka tersebut. 

Di tengah udara yang tidak sehat, sejumlah pedagang tampak tetap nekat membentangkan lapak dan menjajakan barang dagangan mereka.

Napas Sesak demi Sambung Hidup

Ijus, seorang pedagang minuman di kawasan tersebut, menjadi salah satu warga yang harus merasakan dampak langsung paparan asap pekat ini pada tubuhnya.

Baca juga: Update Kerangka Manusia di Agam: Belum Teridentifikasi, Warga Juga Tak Lapor Kehilangan

Sehari-hari beraktivitas di ruang terbuka tanpa pelindung memadai membuat kesehatan fisiknya mulai menurun drastis seiring memburuknya kualitas udara.

Ia mengaku sudah seminggu terakhir merasakan gangguan berupa rasa sesak di bagian dada setiap kali menarik napas saat melayani pembeli.

"Saya saja sudah seminggu agak lain atau sesak dada saat bernafas," ungkap Ijus saat menceritakan kondisi fisiknya di tengah kepungan asap.

Taruhan Kesehatan Pekerja Informal

Meski menyadari bahaya gangguan pernapasan mengintai keselamatan jiwanya, Ijus mengaku tidak memiliki jalan lain selain terus mengetuk pintu rezeki di jalanan.

Tekanan ekonomi pascarelokasi akibat proyek revitalisasi GOR H Agus Salim memaksa dirinya untuk mengesampingkan rasa sakit di dada.

Baca juga: Jeritan Pedagang GOR Agus Salim Padang: Sudah Sepi Imbas Revitalisasi, Kini Diserang Kabut Asap

Ia menuturkan, sejak pindah sekitar tiga bulan lalu ke lokasi baru ini, kondisi penjualan memang sudah tergolong sangat sepi dan belum stabil.

Kemunculan kabut asap makin memperparah situasi lantaran warga Kota Padang menjadi enggan keluar rumah jika tidak memiliki urusan yang mendesak.

Bertahan di Tengah Kepungan Asap

Kondisi kesehatan yang kian menurun akibat paparan udara kotor juga dirasakan oleh Desi, pedagang lain yang berjualan di area depan Kolam Renang Teratai.

Sama halnya dengan Ijus, Desi mengaku setiap hari diliputi rasa takut saat harus menghirup udara beracun di tempat usahanya.

Sensasi sesak pada dada juga mulai menyiksanya ketika ia bertugas menjaga lapak dari pagi hingga sore hari.

"Saya juga takut terus berjualan di tengah kabut asap, nafas sudah mulai sesak," tutur Desi mengekspresikan kecemasannya.

Baca juga: Jadwal Kapal Padang-Mentawai September 2026 KMP Ambu-Ambu dan Gambolo, Cek Rute dan Jam Berangkat

Dilema Pahit: Sakit atau Tak Makan

Namun, ketakutan akan ancaman penyakit paru-paru harus ia kubur dalam-dalam demi memastikan roda dapur rumah tangganya tetap bisa berputar.

Desi mengibaratkan pilihan yang dihadapinya saat ini bagaikan buah simalakama yang sangat menyiksa bagi rakyat kecil seperti dirinya.

Jika memutuskan berhenti berjualan demi menghindari kabut asap, ia memang terbebas dari ancaman penyakit pernapasan, tetapi kebutuhan hidup sehari-hari dipastikan tidak akan terpenuhi.

"Tapi jika tidak berjualan nanti tidak nafas saja yang sesak, bisa-bisa jadi berhenti nafas," ucap Desi berseloroh dengan senyuman pahit menggambarkan kepasrahannya.

Harapan Terakhir di Tengah Ancaman

Guna meminimalisasi paparan asap pada pembeli, Desi kini lebih banyak melayani pesanan makanan dan minuman yang dibungkus (take away) untuk dibawa pulang.

Baca juga: Jadwal Wali Kota Padang Hari Ini: Bahas Jalan hingga Bertolak ke Vietnam

Ia menyadari betul bahwa ancaman kabut asap ini kian nyata setelah pemerintah mulai meliburkan anak-anak sekolah tingkat SD dan SMP.

Di satu sisi, ia sangat mendukung kebijakan libur sekolah tersebut demi menjaga kesehatan generasi muda dari bahaya penyakit pernapasan.

Namun di sisi lain, keputusasaan tetap menggelayuti pikirannya mengingat kelompok pelajar SMA/SMK merupakan pelanggan utama yang menjadi penopang sisa-sisa pendapatan usahanya.

Di tengah gumpalan kabut asap yang kian pekat dan mengancam keselamatan jiwa, para pedagang kecil di kawasan GOR H Agus Salim Padang kini hanya bisa pasrah menanti kepedulian dan keajaiban. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.