BANGKAPOS.COM -- Tiga pegawai dikabarkan tewas ditembak KKB Papua, Rabu (9/9/2026) petang.
Satu di antaranya, drh Alfan Mehan (34).
Sedangkan dua pegawai lainnya, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya Aprida Rafi (49) dan ASN Wili Mbuik (24).
Alfan ditembak di Kampung Muliama, Distrik Muliama saat sedang menyalurkan bantuan untuk masyarakat.
Sang dokter diketahui berada dalam rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang saat itu sedang menjalankan tugas di wilayah tersebut.
Rombongan tersebut diketahui tengah melakukan penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat Kampung Muliama.
Baca juga: Akting Rendi Habisi Kakak Adik, Nginap di TKP Pasang Balok, Pura-pura Tenang Kecoh Keluarga 5 Tahun
Alfan dilaporkan mengalami luka tembak di bagian belakang kepala dan tangan kiri.
Ia meninggal dunia di lokasi kejadian.
Aprida Rafi juga ditemukan meninggal di tempat akibat luka tembak pada bagian perut.
Sedangkan Wili Mbuik mengalami luka tembak di bagian pinggang kanan.
Ia sempat mendapat pertolongan dan dibawa ke RSUD Wamena, tetapi kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Sebelum insiden terjadi, rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya berangkat dari Wamena untuk melihat kegiatan cetak sawah.
Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya di Provinsi Papua Pegunungan.
Saat perjalanan kembali, rombongan berjumlah 11 orang tersebut diduga dihentikan oleh kelompok bersenjata.
Petugas memperoleh informasi bahwa delapan warga asli Papua yang ikut dalam rombongan, termasuk seorang anak, diduga dipisahkan dari tiga pegawai yang disebut merupakan warga pendatang.
Baca juga: Daftar 21 Nama Polisi Dipecat PTDH Irjen Pol Arif Budiman, Kapolda Maluku Utara Alumni Akpol 1994
Tiga pegawai tersebut kemudian diduga menjadi sasaran penembakan.
Sementara itu, lima orang lainnya berhasil menyelamatkan diri.
Mereka kemudian mencari perlindungan di Puskesmas Muliama.
Muliama merupakan distrik di Kabupaten Jayawijaya yang berada di wilayah pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.780 meter di atas permukaan laut.
Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Adarma Sinaga, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan proses penanganan perkara ini kepada petugas keamanan. Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz bersama Polres Jayawijaya akan mengusut tuntas aksi penembakan ini dan berupaya semaksimal mungkin mengungkap serta menangkap para pelaku sesuai dengan ketentuan hukum," tuturnya.
Alfan Mehan diketahui berasal dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pria berusia 34 tahun itu menjalankan tugas sebagai dokter hewan di lingkungan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Hingga kini, informasi mengenai keluarga, kehidupan pribadi, maupun tempat tinggal Alfan belum diungkap secara lengkap oleh pihak berwenang.
Kabar meninggalnya Alfan juga mendapat perhatian dari kalangan profesi dokter hewan.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, drh Mirjawal MM, menyampaikan rasa duka atas kepergian Alfan dan dua pegawai lainnya.
Mirjawal menyebut gugurnya Alfan ketika menjalankan tugas merupakan kehilangan bagi profesi dokter hewan di Indonesia.
Menurutnya, dokter hewan yang bekerja di lapangan, terlebih di wilayah dengan medan geografis serta situasi keamanan yang menantang, memiliki tanggung jawab sekaligus risiko besar.
Baca juga: Jadwal 3 Laga Krusial Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Peluang Lolos Grup A-Prediksi Pemain
Selain menangani kesehatan hewan, keberadaan mereka juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat, produksi peternakan, ketahanan pangan, serta pelayanan kepada warga di daerah yang sulit dijangkau.
"drh. Alfan Mehan gugur bukan ketika meninggalkan tugasnya, tetapi justru ketika sedang menjalankan pengabdian. Di balik pelayanan peternakan dan kesehatan hewan sampai ke pelosok, ada dokter hewan dan petugas lapangan yang meninggalkan keluarga, menempuh medan yang tidak mudah, dan menghadapi berbagai risiko agar pelayanan negara tetap hadir bagi masyarakat," katanya.
Mirjawal menambahkan, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan para dokter hewan yang bertugas di lapangan juga perlu mendapat perhatian.
Ia menilai perlindungan bagi profesi dokter hewan bukan hanya terkait kesejahteraan dan kepastian hukum, tetapi juga jaminan keselamatan saat menjalankan pelayanan untuk masyarakat dan negara.
"Hari ini keluarga besar dokter hewan Indonesia berduka. Kita kehilangan seorang sejawat yang memilih hadir dan bekerja untuk masyarakat hingga akhir pengabdiannya. Semoga pengabdian drh. Alfan Mehan menjadi amal kebaikan dan tidak pernah dilupakan oleh profesi maupun negara," kata Mirjawal.
"Selamat jalan, sejawat drh. Alfan Mehan. Pengabdianmu untuk masyarakat dan profesi akan selalu kami kenang," ujarnya.
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) - Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap III Ndugama Darakma menyatakan klaim bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Pernyataan tersebut disampaikan Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB melalui juru bicara mereka, Sebby Sambom, dalam keterangan tertulis kepada Tribun-Papua.com pada Rabu malam.
Dalam keterangannya, kelompok tersebut menuding ketiga korban yang berstatus ASN sebagai agen intelijen militer pemerintah Indonesia.
"Kami bertanggung jawab atas penembakan tiga orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya," ujar Sebby.
TPNPB juga menyampaikan versi mereka mengenai kronologi kejadian.
Mereka mengklaim kendaraan yang membawa rombongan dihentikan di Jalan Trans Wamena–Tiom.
Baca juga: Profil Rafael Struick, Winger Dewa United Bakal Comeback Bela Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
Baca juga: Profil Miliano Jonathans, Winger Serba Bisa Masuk Radar John Herdman di FIFA ASEAN Cup 2026
Seluruh penumpang disebut diminta tetap berada di dalam kendaraan untuk menjalani pemeriksaan.
Kelompok tersebut kemudian mengeklaim tiga korban panik dan berusaha melarikan diri.
"Karena panik dan kaget ketiga korban akhirnya melarikan diri, oleh sebab itu kami tembak mati," klaim kelompok tersebut.
TPNPB menyebut penembakan dilakukan karena mereka khawatir keberadaan pasukannya akan diketahui oleh aparat keamanan.
Kelompok tersebut juga mengklaim terjadi kontak tembak dengan aparat keamanan di sekitar lokasi pada sekitar pukul 17.00 WIT.
Namun, mereka mengaku belum mengetahui apakah terdapat korban dari pihak aparat dalam kontak senjata tersebut.
Hingga kini, tudingan TPNPB mengenai status ketiga korban sebagai agen intelijen maupun versi kronologi penembakan masih berupa klaim sepihak dan belum terverifikasi secara independen.
(Tribun Papua/Surya.co.id/Bangkapos.com)