Cilacap, Jawa Tengah (ANTARA) - PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan Kilang Cilacap menjadi proyek green refinery pertama di Indonesia yang difokuskan untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar.

“Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan,” ujar VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis.

Dengan demikian, Kilang Cilacap berperan strategis dalam memperkuat kemandirian Energi Hijau dan Sustainable Aviation Fuel (SAF) Nasional.

Pemanfaatan bahan baku Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah dalam pengembangan SAF juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya merupakan limbah menjadi bagian dari rantai nilai energi.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular sekaligus menghadirkan alternatif bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Menurut Kitty, pengembangan SAF merupakan bagian dari perjalanan Pertamina Patra Niaga dalam menghadirkan produk dan layanan energi yang relevan dengan perkembangan industri, termasuk kebutuhan sektor penerbangan terhadap bahan bakar yang lebih berkelanjutan.

Pertamina melalui Kilang Unit IV Cilacap, Jawa Tengah menyebutkan proyek kilang bioavtur untuk bahan bakar minyak pesawat udara ramah lingkungan (SAF) berpotensi mendongkrak produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp199 triliun per tahun.

"Kami target proyek itu jalan pada 2027," kata Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro di sela meninjau realisasi program Desa Energi Berdikari di Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis.

Pembangunan kilang bioavtur yang berada pada lahan seluas 17,5 hektare di dekat Kilang Unit IV Cilacap itu diperkirakan membutuhkan total nilai investasi mencapai 1,1 miliar dolar AS dengan target operasi pada 2029.

Saat ini, kapasitas produksi bioavtur (SAF) mencapai 27 kiloliter per hari pada unit Unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) Cilacap sebagai penghasil avtur.

Dengan adanya kilang bioavtur itu nantinya kapasitas produksi meningkat 860 kiloliter per hari sehingga menjadi 887 kiloliter per hari pada 2029.

Tak hanya menambah kontribusi kepada PDB, produksi BBM ramah lingkungan itu juga berpotensi mengurangi emisi tahunan sebesar 600 ribu ton setara karbon dioksida (CO2e) serta menyerap tenaga kerja estimasi sebanyak 5.900 orang.