TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Seorang petani durian di Kabupaten Pekalongan memilih mempertahankan pohon-pohon varietas lokal.
Dia memilih mengembangkan durian setempat, di tengah semakin populernya varietas premium seperti musang king, duri hitam, dan bawor.
Aroma durian menguar dari kebun di Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan.
Di antara ratusan pohon yang tumbuh menghijau, buah-buah durian bergelantungan menunggu matang.
Sebagian merupakan varietas modern yang tengah digandrungi pasar, tetapi Saronto tetap memberi ruang bagi durian lokal.
Bagi pria 55 tahun tersebut, durian lokal bukan sekadar buah musiman yang dipanen kemudian dijual.
Di balik setiap pohon, tersimpan cita rasa khas yang menurutnya menjadi bagian dari kekayaan Desa Rogoselo dan Kabupaten Pekalongan.
Saronto, kepala Desa Rogoselo sekaligus petani durian, memilih mempertahankan pohon-pohon lokal, di tengah semakin populernya varietas premium seperti musang king, duri hitam, dan bawor.
"Kalau durian lokal, ini buah lezat milik rakyat. Masyarakat masih mampu, membeli dengan harga yang standar. Rp 35 ribu sampai Rp 100 ribu sudah bisa dapat durian lezat," kata Saronto saat ditemui di kebunnya, Rabu (9/9/2026).
Harga yang relatif terjangkau, menjadi salah satu alasan Saronto mempertahankan durian lokal.
Menurut dia, tidak semua masyarakat mampu membeli durian premium, yang harganya dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk satu buah.
Namun, ekonomi bukan satu-satunya alasan.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting bagi Saronto, yakni menjaga keberagaman rasa yang lahir dari pohon-pohon durian lokal.
Menurut dia, durian lokal di Rogoselo memiliki karakter yang sangat beragam.
Bahkan, dua pohon yang tumbuh tidak jauh satu sama lain dapat menghasilkan buah dengan rasa berbeda.
"Durian lokal itu seribu macam rasa. Setiap pohon punya ciri khas sendiri. Ini yang tidak dimiliki, oleh varietas modern," ujarnya.
Keragaman tersebut menjadi kekayaan tersendiri bagi Rogoselo.
Selama ini, sejumlah durian lokal lebih banyak dikenal berdasarkan lokasi pohonnya tumbuh. Ada yang disebut Rogoselo, Kaum, Tembelang Wetan, Sandong, hingga Jati.
Nama varietas, bagi Saronto, bukan persoalan utama.
Baginya, jauh lebih penting memastikan pohon-pohon dengan karakter buah yang baik tetap hidup dan dapat dikembangkan.
Upaya pelestarian dilakukan dengan memperbanyak tanaman melalui entres.
Pohon yang diketahui menghasilkan buah berkualitas, dicari entresnya untuk kemudian dikembangkan pada pohon lain.
Cara tersebut menjadi salah satu upaya, agar karakter durian lokal tidak hilang ketika pohon induknya menua atau tidak lagi produktif.
"Kalau ada durian lokal yang bagus, masyarakat biasanya mencari entresnya untuk dikembangkan lagi," kata Saronto.
"Jadi, itu cara kami menjaga durian lokal agar tidak sampai punah," sambungnya.
Lebih tahan
Pengalaman bertahun-tahun merawat durian, membuat Saronto menemukan keunggulan lain dari varietas lokal.
Menurut dia, sejumlah durian lokal relatif lebih kuat, menghadapi musim kemarau dibandingkan beberapa varietas modern.
Ketika curah hujan rendah dan air terbatas, pohon durian lokal masih mampu bertahan meski tidak mendapatkan penyiraman secara intensif.
"Kalau lokal, lebih ringan perawatannya. Musim kemarau panjang pun kalau tidak disiram masih kuat, buahnya malah tambah manis," ujar Saronto.
Menurut pengalaman Saronto, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah varietas modern yang membutuhkan pasokan air lebih banyak agar pertumbuhan dan kualitas buah tetap terjaga.
"Durian modern, kalau kekurangan air, kualitasnya bisa turun," imbuhnya.
Oleh karena itu, Saronto tidak memilih untuk meninggalkan varietas modern. Ia justru mengembangkan keduanya secara berdampingan.
Di lahan miliknya seluas sekitar empat hektare, terdapat kurang lebih 600 pohon durian.
Sekitar 200 pohon di antaranya merupakan varietas modern.
Selain mengelola kebun sendiri, Saronto bersama keluarganya juga membantu mengelola sejumlah kebun milik warga.
Posisinya sebagai petani, sekaligus kepala desa membuatnya melihat durian dari dua sisi.
Sebagai petani, ia memahami pentingnya mengembangkan varietas yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Namun, sebagai kepala desa, ia juga merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga potensi lokal desanya.
"Kepala desa itu pengabdian. Salah satu pengabdian saya menjaga durian lokal agar tidak ditinggalkan," katanya.
Menembus pasar
Durian dari Rogoselo ternyata tidak hanya dinikmati masyarakat sekitar.
Pasarnya mulai menjangkau konsumen dari luar daerah, bahkan hingga Jakarta.
Saronto menceritakan, seorang pelanggan dari Jakarta awalnya hanya mencicipi beberapa buah durian saat berkunjung.
Setelah merasa cocok dengan rasanya, pelanggan tersebut kemudian memesan secara rutin.
Pengiriman dilakukan melalui jasa travel dan dalam kondisi tertentu bisa berlangsung hingga dua kali dalam sepekan.
"Durian lokal tidak kalah saing, rasanya bisa diadu. Datang ke sini saja, saya bisa tunjukkan durian lokal dengan kualitas rasa dan buah yang super," kata Saronto.
Bagi Saronto, semakin luasnya pasar menjadi bukti bahwa durian lokal masih memiliki tempat.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberadaannya.
Potensi tersebut juga ingin ia kembangkan lebih jauh.
Menurut dia, kebun durian tidak semestinya hanya menjadi tempat menghasilkan buah.
Kebun dapat dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi, sekaligus wisata desa.
Apalagi Kecamatan Doro dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil durian di Kabupaten Pekalongan.
Salah satu durian lokal yang menjadi perhatian adalah Mingsri, durian khas Dukuh Mingsri, Desa Rogoselo, yang memiliki daging tebal dengan rasa manis dan legit.
Di tengah popularitas musang king, duri hitam, dan bawor, dia tetap menanam varietas premium untuk memenuhi permintaan pasar.
Namun, durian lokal tetap saya pertahankan.
"Sebab, baginya, durian lokal bukan sekadar komoditas. Setiap pohon memiliki cerita. Setiap pohon menyimpan karakter rasa yang berbeda," tuturnya.
"Dan ketika satu pohon lokal hilang tanpa sempat dikembangkan, yang lenyap bukan hanya sebuah pohon. Bisa jadi, satu warisan rasa Pekalongan ikut hilang untuk selamanya," tandasnya. (Indra Dwi Purnomo)