BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU- Berawal dari keresahan mengelola sampah Objek Wisata Gua Lowo, Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Rejo Lestari menjelma jadi pemecah masalah persampahan di Kecamatan Kelumpang Hilir, Kotabaru.
Perjalanan TPS 3R Rejo Lestari tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak cerita, keringat, dan tantangan hingga kini dielu-elukan masyarakat dengan berbagai penghargaan yang diraih.
Kejelian dan keuletan pengelola menjadi kunci utama dalam pengelolaan. Dari sampah yang awalnya menjijikan, kini berubah jadi cuan yang menguntungkan.
Dituturkan Ketua TPS 3R Rejo Lestari, Mashudi, Kelompok Pengguna dan Pemanfaat (KPP) TPS 3R ini dimulai 2019 silam, dengan TPS sementara.
Baca juga: Lihat Langsung Karhutla di Banjarbaru, Wapres Gibran Minta Maaf ke Warga Kalimantan
Baca juga: Hujan Alami di Kalsel Diperkirakan Turun Oktober, BNPB Terus Upayakan Operasi Modifikasi Cuaca
Saat itu, dengan bantuan TPS 3R dari Dinas PUPR Kotabaru, ada sekitar 450 pelanggan dari desa setempat yang memasok sampah dengan total kisaran 50 sampai 60 ton per bulan.
Namun kini di 2026, dengan keanggotaan mencapai 1.100 lebih, produksi juga meningkat di atas 100 ton per bulan. "Tantangannya, sejak awal sangat menarik. Kita juga sempat terseok-seok dan bingung. Tapi berhasil keluar dari titik itu," sebutnya, akhir pekan lalu.
Guna kelangsungan TPS 3R yang dikelola, ia mengenakan iuran bagi masyarakat dengan besaran yang varitif. Mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 50.000 per bulan, tergantung volume sampah yang dihasilkan.
Ada berbagai jenis sampah yang juga bernilai ekonomis setelah dilakukan pemilahan. Seperti plastik bekas, kertas bekas, RDF, duplek, yang dipres.
Pengelolaan sampah yang tepat, menurut Mashudi, juga jadi bagian peduli terhadap lingkungan dan kualitas hidup.
"Memang harus diseriusi dalam pengelolaan sampah ini, karena jika berserakan di mana-mana dan tidak terkendali bagaimana lingkungan dan anak-anak kita nantinya," ujarnya.
Di enam tahun perjalananya, TPS 3R Rejo Lestari juga telah merengkuh berbagai penghargaan tingkat provinsi hingga nasional.
Baru-baru ini juga disambangi kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengenai pengembangan Proklim Lestari dengan membina 10 desa atau kelompok.
Tak hanya persoalan sampah yang teratasi, hadirnya TPS 3R Rejo Lestari di Desa Tegalrejo, juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Hingga saat ini, setidaknya ada 12 orang pengelola, termasuk ketua TPS yang bertanggungjawab setiap detail produksi yang dihasilkan.
Untuk memilah dan pengangkutan masing-masing tiga orang, tukang press satu orang, pemungut iuran satu orang, keuangan satu orang. Mereka juga mendapat gaji dari setiap tugas yang dikerjakan, hasil dari pungutan dan penjualan hasil produksi.
"Saat ini kita masih perlu mesin press dengan kapasitas besar dan pencacah sampah organik," ujarnya.
Penambahan fasilitas ini juga akan membuka peluang produksi lebih banyak dan diyakini membuka peluang serapan pekerja lebih banyak lagi.(Muhammad Tabri)
- Berawal dari keresahan mengelola sampah Objek Wisata Gua Lowo, Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Rejo Lestari menjelma jadi pemecah masalah persampahan di Kecamatan Kelumpang Hilir, Kotabaru.
Perjalanan TPS 3R Rejo Lestari tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak cerita, keringat, dan tantangan hingga kini dielu-elukan masyarakat dengan berbagai penghargaan yang diraih.
Kejelian dan keuletan pengelola menjadi kunci utama dalam pengelolaan. Dari sampah yang awalnya menjijikan, kini berubah jadi cuan yang menguntungkan.
Dituturkan Ketua TPS 3R Rejo Lestari, Mashudi, Kelompok Pengguna dan Pemanfaat (KPP) TPS 3R ini dimulai 2019 silam, dengan TPS sementara.
Saat itu, dengan bantuan TPS 3R dari Dinas PUPR Kotabaru, ada sekitar 450 pelanggan dari desa setempat yang memasok sampah dengan total kisaran 50 sampai 60 ton per bulan.
Namun kini di 2026, dengan keanggotaan mencapai 1.100 lebih, produksi juga meningkat di atas 100 ton per bulan. "Tantangannya, sejak awal sangat menarik. Kita juga sempat terseok-seok dan bingung. Tapi berhasil keluar dari titik itu," sebutnya, akhir pekan lalu.
Guna kelangsungan TPS 3R yang dikelola, ia mengenakan iuran bagi masyarakat dengan besaran yang varitif. Mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 50.000 per bulan, tergantung volume sampah yang dihasilkan.
Ada berbagai jenis sampah yang juga bernilai ekonomis setelah dilakukan pemilahan. Seperti plastik bekas, kertas bekas, RDF, duplek, yang dipres.
Pengelolaan sampah yang tepat, menurut Mashudi, juga jadi bagian peduli terhadap lingkungan dan kualitas hidup. "Memang harus diseriusi dalam pengelolaan sampah ini, karena jika berserakan di mana-mana dan tidak terkendali bagaimana lingkungan dan anak-anak kita nantinya," ujarnya.
Selain itu sukses pengelolaan TPS 3R Rejo Lestari, tak lepas dari peran serta perusahaan yang ada di sekitar. Satu di antara perusahaan swasta yang berperan banyak dalam perkembangan TPS 3R Rejo Lestari adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) Plant 12 Tarjun.
Perusahaan semen ini tidak hanya membantu berupa sarana dan perlengkapan produksi, sampah yang telah tersortir jadi Refuse Derived Fuel (RDF) juga dibeli untuk campuran batu bara sebagai bahan bakar.
Diungkapkan Mashudi, mereka sangat terbantu dengan dukungan PT ITP ini, terlebih saat ini juga dibantu berupa uang operasional sekitar Rp 18 juta per tahun.
Di enam tahun perjalananya, TPS 3R Rejo Lestari juga telah merengkuh berbagai penghargaan tingkat provinsi hingga nasional.
Baru-baru ini juga disambangi kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengenai pengembangan Proklim Lestari dengan membina 10 desa atau kelompok.
Tak hanya persoalan sampah yang teratasi, hadirnya TPS 3R Rejo Lestari di Desa Tegalrejo, juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Hingga saat ini, setidaknya ada 12 orang pengelola, termasuk ketua TPS yang bertanggungjawab setiap detail produksi yang dihasilkan.
Untuk memilah dan pengangkutan masing-masing tiga orang, tukang press satu orang, pemungut iuran satu orang, keuangan satu orang. Mereka juga mendapat gaji dari setiap tugas yang dikerjakan, hasil dari pungutan dan penjualan hasil produksi.
"Saat ini kita masih perlu mesin press dengan kapasitas besar dan pencacah sampah organik," ujarnya.
Penambahan fasilitas ini juga akan membuka peluang produksi lebih banyak dan diyakini membuka peluang serapan pekerja lebih banyak lagi.(Muhammad Tabri)