Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - Suasana haru menyelimuti Pelabuhan Bolok, Kabupaten Kupang, Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 08.45 WITA, saat jenazah almarhumah Wili Mbuik, salah satu korban penembakan di Papua Pegunungan, tiba untuk selanjutnya dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Rote Ndao.
Jenazah Wili Mbuik diantar menggunakan kapal feri KM Lakaan dari Pelabuhan Bolok menuju Kabupaten Rote Ndao.
Prosesi pemulangan jenazah tersebut turut mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tampak Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, bersama sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) hadir langsung di Pelabuhan Bolok untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus mengantar jenazah Wili Mbuik hingga naik ke kapal.
Baca juga: Kisah Wili Mbuik, Alumni Undana yang Lulus CPNS dan Gugur dalam Penembakan di Papua
Kehadiran keluarga dan kerabat turut menambah suasana haru di Pelabuhan Bolok.
Mereka datang menggunakan sepeda motor maupun mobil untuk mengantarkan almarhumah menuju kampung halaman terakhirnya.
Tampak pula Kapolres Rote Ndao, AKBP Hendry Eko Irawan, S.I.K., hadir di Pelabuhan Bolok untuk menjemput dan mengawal proses pemulangan jenazah Wili Mbuik ke Rote Ndao.
Kepala ASDP Kupang, Ardian, juga tampak berada di lokasi untuk memastikan proses keberangkatan jenazah berjalan dengan baik.
Sebelum jenazah dibawa masuk ke dalam kapal, terlebih dahulu dilaksanakan upacara pelepasan.
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma. Selanjutnya, jenazah diserahkan kepada kapten KM Lakaan untuk dibawa menuju Kabupaten Rote Ndao.
Prosesi pelepasan tersebut disaksikan keluarga, kerabat, serta para penumpang yang hendak melakukan perjalanan menggunakan KM Lakaan.
Wakil Gubernur NTT bersama jajaran pimpinan OPD tampak menunggu hingga jenazah Wili Mbuik dibawa masuk ke dalam kapal.
Setelah seluruh proses pelepasan selesai, KM Lakaan kemudian bersiap membawa jenazah Wili Mbuik menuju Rote Ndao, tempat almarhumah akan dimakamkan.
Rencananya, jenazah Wili Mbuik akan dimakamkan pada Minggu (13/9/2026) di kediamannya di Desa Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao.
Kepergian Wili Mbuik meninggalkan duka mendalam bagi keluarga di Nusa Tenggara Timur.
Perempuan muda asal Kabupaten Rote Ndao itu merantau ke Papua bukan sekadar untuk mencari pekerjaan.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Wili memilih pergi ke Papua untuk membantu kakaknya menjaga anak.
Namun, perjalanan hidupnya di tanah rantau berakhir tragis.
Baca juga: Tangis Keluarga Sambut Jenazah Wili Mbuik di Kupang, Korban Kekerasan di Papua
Sebelumnya, Wili Mbuik menjadi satu dari tiga korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu, 9 September 2026, sekitar pukul 15.53 WIT.
Kabar duka itu kemudian sampai kepada keluarga di Kupang dan Rote.
Osa Mbuik, sepupu kandung Wili, menuturkan bahwa almarhumah merupakan sosok muda yang belum berkeluarga.
Setelah menyelesaikan kuliah, Wili memilih berada di Papua untuk membantu kakaknya.
"Dia habis kuliah, dia mau ke sana untuk bantu dia punya kakak, jaga kakak punya anak," tutur Osa saat diwawancarai POS-KUPANG.COM melalui telepon, Kamis, 10 September 2026.
Setibanya di Papua, Wili kemudian mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan.
Perjalanan hidupnya perlahan berubah ketika pemerintah membuka seleksi CPNS. Wili tidak melewatkan kesempatan tersebut. Ia mengikuti tes CPNS dan dinyatakan lulus.
Bagi keluarga, kelulusan itu menjadi kebanggaan. Wili yang awalnya datang ke Papua untuk membantu keluarganya akhirnya mendapat kesempatan membangun masa depan melalui jalur pengabdian sebagai aparatur sipil negara.
Ia kemudian ditempatkan di Dinas Pertanian. Namun, masa pengabdiannya sebagai CPNS ternyata tidak berlangsung lama.
Wili baru memulai perjalanan barunya sebagai pegawai ketika insiden penembakan terjadi.
"Dia baru lulus tes CPNS itu," kata Osa.
Keluarga masih mengingat komunikasi terakhir dengan Wili setelah dirinya dinyatakan lulus CPNS.
Setelah itu, kata Osa, tidak ada lagi komunikasi hingga keluarga menerima kabar mengenai insiden penembakan tersebut.
"Sebelum kejadian itu sonde (tidak) ada kontak. Hanya waktu dia lulus CPNS, itu yang ada kontak-kontak sama dia punya saudara," ungkap Osa.
Kini, perjalanan Wili di tanah rantau telah berakhir.
Jenazah Wili dijadwalkan tiba di Bandara El Tari Kupang pada Jumat, 11 September 2026, sekitar pukul 06.00 WITA menggunakan maskapai Batik Air setelah diterbangkan dari Jakarta.
Dari Bandara El Tari, jenazah akan langsung dibawa menuju pelabuhan untuk selanjutnya diberangkatkan menggunakan kapal feri menuju Rote Ndao.
"Kami akan langsung bawa jenazah dari kargo bandara ke pelabuhan. Tidak singgah lagi karena ada kapal pagi," ujar Osa.
Jenazah kemudian akan dibawa ke rumah keluarga di Busalangga, Rote Ndao.
Bagi keluarga, kepulangan Wili ke Rote kali ini tentu berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya.
Ia pulang bukan sebagai anak muda yang membawa cerita dari tanah rantau, bukan pula sebagai CPNS yang baru memulai pengabdian.
Keluarga berharap seluruh proses pemulangan hingga pemakaman Wili dapat berjalan lancar.
Sementara itu, dua korban lainnya berdasarkan informasi yang diterima keluarga masih berada di Wamena. Keduanya direncanakan menyusul dikirim setelah proses doa dan persiapan pemulangan selesai.
"Informasi yang kami dapat, dua jenazah masih di Wamena karena masih berproses dan akan dikirim menyusul ke Kupang," tambahnya.
KKB Dalang Utama
Sebelumnya, Satuan Tugas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026 menyebutkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) asal wilayah Kabupaten Nduga diduga kuat menjadi dalang utama penembakan yang menewaskan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Aksi penyerangan tersebut menimpa rombongan dinas yang melintas di Jalan Trans Wamena-Tiom, Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (9/9/2026) sore.
Insiden berdarah ini bermula ketika rombongan berjumlah 11 orang kembali ke Wamena usai meninjau pelaksanaan program cetak sawah.
Kawanan bersenjata tersebut tetiba menghadang laju kendaraan rombongan di tengah perjalanan sekitar pukul 15.53 WIT.
Pisahkan Warga Asli dan Non Papua
Para pelaku kemudian memisahkan delapan warga asli Papua dari tiga pegawai berstatus warga pendatang.
Kelompok tersebut lantas memberondong ketiga pegawai pendatang itu dengan senjata api hingga gugur di tempat maupun saat penanganan medis.
Identitas korban tewas meliputi AR (49), Kepala Bidang Peternakan yang menderita luka tembak parah di area perut.
Korban kedua berinisial AAM (35) mengembuskan napas terakhir di lokasi akibat luka tembak pada bagian belakang kepala dan tangan kiri.
AAM yakni Alfonsius Albinus Mehan (35), merupakan warga asal Maumere, Kabupaten Sikka, Flores Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu, korban perempuan Willi Mbuik (WB) sempat dilarikan ke RSUD Wamena sebelum dinyatakan meninggal dunia akibat tembakan di pinggang kanan.
Aparat gabungan Satgas Damai Cartenz-2026 dan Polres Jayawijaya langsung menerjunkan pasukan untuk menyisir area Puskesmas Muliama serta lokasi rawan di sekitarnya.
Petugas turut mengamankan delapan saksi selamat guna membedah kronologi utuh serta mengidentifikasi identitas para pelaku.
Kepala Satgas Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol Faizal Ramadhani, mengecam keras aksi brutal yang menyasar para ASN pelayan masyarakat ini.
"Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026 bersama Polres Jayawijaya langsung melakukan langkah-langkah penanganan setelah menerima informasi mengenai kejadian tersebut," ujar Faizal.
Ia menegaskan penegakan hukum akan berjalan secara tuntas dan profesional hingga seluruh anggota kelompok bersenjata tersebut tertangkap.
"Kami memastikan proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi para pelaku, serta memastikan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,"tegas Faizal.
Secara terpisah, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Adarma Sinaga, meminta warga Kabupaten Jayawijaya tetap tenang dan tidak terpengaruh provokasi isu liar.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan proses penanganan perkara ini kepada petugas keamanan,"kata Adarma.
Saat ini personel gabungan terus memperketat pengamanan wilayah sambil mengumpulkan alat bukti hukum untuk membongkar jaringan pelaku penembakan. (Sumber papuatengah.tribunnews.com/pos kupang.com).