- Operasi pencarian rombongan jurnalis yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, memasuki hari ketiga pada Kamis (10/9/2026).
Peneliti Krakatau, Prof. Tukirin Parto Miharjo, turut memberikan analisis mengenai kondisi pulau-pulau di sekitar Krakatau.
Ia menjelaskan peluang bertahan hidup jika para korban terdampar di salah satu pulau.
Menurut Tukirin, peluang tersebut bergantung pada lokasi korban dan sumber daya yang tersedia.
Pulau Rakata, misalnya, masih memiliki kemungkinan menyediakan air dan makanan tertentu seperti tangkil, salam, pepaya hutan meski sifatnya musiman.
"Di Rakata, kalau ada peralatan, bisa gali sumur untuk mendapatkan air tawar. Ada juga tumbuhan yang bisa dimakan seperti tangkil, salam, cabai hutan, dan kadang pepaya hutan, meski sifatnya musiman," ungkap Prof. Tukirin dalam wawancara di saluran YouTube SINDOnews, Kamis (10/9/2026).
Tukirin menyebut kondisi Pulau Rakata berbeda dengan Pulau Sertung.
Menurutnya, ular piton lebih sering ditemukan di Sertung.
Sementara itu, nyamuk berukuran besar disebut hampir tidak ditemukan di Rakata.
Pulau Sertung juga memiliki sumber air tawar yang dinilai penting bagi orang yang terdampar.
"Sertung adalah satu-satunya pulau yang punya sumber air tawar. Walau kemarau, selalu ada air, jadi kalau terdampar di sana mungkin bisa tahan lama," jelas Tukirin.
Berbeda dengan Rakata dan Sertung, kondisi Pulau Panjang dinilai lebih terbatas.
Tukirin mengatakan pulau tersebut mengalami kerusakan akibat tsunami 2018.
Akibatnya, sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dinilai tidak sebanyak di pulau lainnya.
Selain kondisi pulau, faktor aktivitas vulkanik juga menjadi perhatian.
"Gunung berapi itu tak bisa diduga, tiba-tiba bisa meletus. Kita tak bisa bilang hari ini baik-baik saja, lalu tiba-tiba meletus," tegasnya.
Kondisi laut di sekitar Krakatau juga menjadi risiko lain.
Pada periode tertentu, gelombang di kawasan tersebut dapat membesar.
Kondisi itu bisa menyulitkan kapal untuk mendekati atau bersandar di pulau.
"Gelombangnya cukup besar pada bulan-bulan tertentu, sehingga perahu tak bisa mendarat karena hempasannya sangat keras," ujar Prof. Tukirin.
"Speedboat biasanya yang paling bahaya itu karena kapalnya pendek. Diangkat gelombang dia biasanya terbalik, nah ini yang mungkin terjadi juga," analisisnya.