TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mendorong penguatan konektivitas transportasi antarkota, termasuk pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya.
Menurut Dudy, keberadaan transportasi alternatif penting ketika terjadi gangguan pada moda transportasi lain. Penutupan sementara sejumlah bandara di Jakarta akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi contohnya.
Saat sejumlah penerbangan terganggu, masyarakat beralih menggunakan moda transportasi darat, termasuk kereta api. Dudy mengatakan, kondisi tersebut membuat layanan kereta api mengalami peningkatan permintaan hingga tiket habis terjual.
"Kemarin kereta full. Tambah layanan itu berarti kita harus headwaynya harus di ini pelintasannya, supaya pelintasan bisa ngukur kita sehingga jumlah frekuensinya bisa kita tambah itu yang paling penting," kata Dudy kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut Dudy, pemerintah perlu menyiapkan kapasitas transportasi yang cukup sehingga masyarakat tetap memiliki pilihan ketika terjadi gangguan penerbangan.
"Ini kan Jawa gunung apinya banyak, kita masih punya alternatif mau jalur utara jalur tengah, jalur selatan ketika salah satu tidak berfungsi, masih lain yang masih bisa jalan," tegas dia.
Baca juga: Beban Utang Kereta Cepat Beralih ke Kemenkeu, Purbaya Ungkap Skemanya
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Allan Tandiono mengatakan, pembangunan konektivitas kereta api yang lebih cepat diperlukan untuk mengantisipasi kondisi serupa di masa mendatang.
Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan kereta cepat Jakarta ke Surabaya.
"Ke depannya itu yang sempat harus kembali ke Jakarta lewat Bali, atau Surabaya, berharap ada kereta cepat karena ada yang naik mobil 10 jam dari Bandara Juanda ke Jakarta," tutur Allan.
"KAI harus berani investasi kereta lebih banyak, lebih cepat," imbuhnya menegaskan.
Baca juga: Menkeu Purbaya Ambil Alih Seluruh Saham BUMN di Proyek Kereta Cepat
Sebagai informasi, pada Minggu (6/9/2026) lalu, operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, dan Bandara Husein Sastranegara sempat ditutup sementara akibat terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kondisi tersebut membuat pemerintah dan operator transportasi harus menyiapkan sejumlah alternatif perjalanan bagi masyarakat, termasuk melalui jalur darat dan kereta api.