Renungan Harian Katolik Jumat 11 September 2026, “Balok dalam Matamu”
Oby Lewanmeru September 11, 2026 02:43 PM

Oleh : Bruder Pio Hayon SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Hari Jumat Biasa Pekan XXIII - 11 September 2026 dari Bruder Pio Hayon SVD dengan tema  “Balok dalam matamu”.

Renungan Harian Katolik dari Bruder Pio Hayon SVD hari ini mengacu pada Bacaan Kitab Suci yang diambil dari Bacaan I: 1Kor. 9: 16-19.22b-27
Injil: Luk. 6: 39-42

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Sering kali kita cepat melihat kesalahan orang lain, tetapi lebih lambat menyadari luka dan kelemahan di dalam diri sendiri.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 10 September 2026, “Kasihilah Musuhmu"

Kita bisa merasa “paling tahu” dan “paling benar”, lalu memberi nasiha, padahal hati kita belum sungguh-sungguh siap untuk bertobat.

Injil hari ini menelanjangi pola rohani yang licik: menegur orang lain dengan kacamata yang kotor. Yesus berkata tentang balok dalam mata kita, sesuatu yang jelas kelihatan sementara kita bersikap seolah “serpih” dalam mata orang lain yang paling utama.


Saudara-saudari terkasih. 

Pada bacaan ini (1Kor. 9:16-19.22b-27) Paulus berbicara tentang panggilannya: ia merasa perlu mewartakan Injil, dan ia tidak boleh bersikap seakan-akan dirinya “paling layak.” Ia justru menjadi hamba bagi semua orang—supaya mereka dapat diselamatkan.

Paulus juga memakai gambaran pertandingan: ia melatih diri, menjaga disiplin, dan membuang sikap yang menghambat iman agar ia sendiri tidak gagal dalam panggilannya. Dan dalam injil (Luk. 6:39-42) Yesus mengajar dengan perumpamaan: orang buta tidak bisa menuntun orang lain.

Lalu Ia menegur kebiasaan rohani yang berbahaya: melihat serpih pada mata orang lain, tetapi tidak menyadari balok pada mata sendiri. 

Yesus tidak melarang koreksi; Ia mengajarkan urutan kasih dan pertobatan: pertama-tama bereskan apa yang ada dalam diri, agar koreksimu tidak menjadi sumber kebanggaan atau kekerasan batin. 

Poin Refleksi kita adalah “Menjadi penuntun”: Kita mungkin memiliki “pengetahuan agama” atau kemampuan menilai, tetapi jika hati belum bertobat, nasihat kita bisa menjadi beban. Maka tanyakan: apakah kata-kataku lebih menyembuhkan atau justru menambah luka? “Balok dalam matamu”: Balok itu sering berupa kebiasaan tersembunyi: kesombongan rohani, kritik yang tajam, kemunafikan, atau tidak mau mengakui kesalahan. 

Kalau balok itu tidak disadari, kita akan terus melihat serpih pada orang lain. “Koreksi yang benar”: Paulus menunjukkan bahwa ia melatih diri agar tidak menjadi munafik: ia tidak hanya berkhotbah, tetapi juga menjalani. Begitu pula, koreksi kristiani harus dimulai dari hidup yang dibenahi, bukan dari kebiasaan menghakimi.


Saudara-saudari terkasih,

Pesan untuk kita, pertama, “Balok dalam matamu” mengingatkan kita untuk tidak menghakimi sebelum bertobat.

Kedua, koreksi kristiani dimulai dari disiplin batin dan kerendahan hati.

Ketiga, kita dipanggil menjadi penuntun melalui hidup yang sedang dibersihkan, bukan melalui kritik yang tajam.    Tuhan memberkati kita. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.