Bukan Sekadar Diare, IDAI Peringatkan Efek Jangka Panjang Keracunan Makanan
Willem Jonata September 11, 2026 07:20 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keracunan makanan sering kali dipahami masyarakat sebagai kondisi yang selesai ketika muntah dan diare sudah berhenti.

Padahal, dampak keracunan makanan tidak selalu berhenti pada gejala yang terlihat dalam beberapa jam atau hari pertama.

Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi & Penyakit Metabolik IDAI Prof DR Dr Damayanti Rusli, SpA, Subsp NPM(K) menjelaskan keracunan makanan atau foodborne illness merupakan salah satu penyakit yang muncul akibat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Persoalan yang perlu diperhatikan adalah adanya efek jangka panjang yang terkadang tidak langsung dikenali sebagai akibat dari keracunan makanan.

Keracunan makanan bukan sekadar muntah dan diare

Menurut Prof Damayanti, keracunan makanan merupakan bagian dari reaksi simpang makanan.

Reaksi simpang makanan dapat muncul ketika seseorang mengonsumsi sesuatu kemudian mengalami reaksi yang berada di luar kondisi yang diharapkan.

Baca juga: Stop Keracunan MBG, IDAI Minta Keamanan Pangan Diperketat: Satu Anak Sakit Tak Boleh Dianggap Angka

Reaksi tersebut dapat berupa gatal-gatal, diare dan berbagai keluhan lainnya.

Namun, terdapat perbedaan ketika keluhan tersebut hanya dialami satu orang dibandingkan ketika dialami banyak orang secara bersamaan.

Jika hanya satu orang yang mengalami keluhan, terdapat kemungkinan penyebab lain seperti alergi, food intolerance, maupun psikosomatis.

Sementara ketika banyak orang mengalami kejadian yang sama setelah mengonsumsi makanan, kondisi tersebut perlu dipikirkan sebagai keracunan makanan.

“Jadi kalau yang kejadian bersama-sama banyak orang maka yang kita pikirkan adalah keracunan makanan. Sekarang kita lihat yang namanya keracunan makanan itu dalam bahasa inggrisnya disebutnya foodborne illness yaitu salah satu penyakit yang muncul akibat makan yang. terkontaminasi,"ungkapnya pada media briefing virtual, Jumat (11/9/2026). 

Karena itu, perhatian terhadap keracunan makanan tidak cukup hanya melihat apakah seseorang mengalami muntah atau diare.

Ada penyebab dan dampak yang perlu dilihat lebih jauh.

Efek jangka panjang justru sering tidak dikenali

Prof Damayanti mengingatkan bahwa gejala keracunan makanan yang muncul segera setelah seseorang mengonsumsi makanan memang mudah terlihat.

Muntah dan diare, misalnya, dapat menjadi keluhan yang langsung dikenali.

Namun, yang justru dikhawatirkan adalah dampak jangka panjang.

Dampak tersebut dapat muncul jauh setelah kejadian keracunan berlangsung.

Karena jarak waktunya tidak langsung, masyarakat dapat tidak menghubungkan gangguan kesehatan yang muncul kemudian dengan keracunan makanan yang pernah dialami.

Akibatnya, penanganan terhadap kondisi tersebut juga dapat terlambat.

“Nah, yang kita takutkan dari gejala keracunan makanan itu efeknya. Yang kelihatan sehari-hari kan ibu bisa lihat semuanya, ada muntah, mencret, misalnya seperti itu. Tetapi, itu adalah efek yang saat itu. Yang kita takutkan justru adalah efek jangka panjangnya,"kata dr Damayanti. 

"Kalau kita lihat efek jangka panjangnya, sering kali tidak dikenali bahwa efeknya itu karena keracunan makanan. Jadi, akhirnya penatalaksanaannya terlambat sehingga juga memengaruhi, apa namanya, lamanya hidup kita," sambungnya. 

Menurut Prof Damayanti, sejumlah gangguan kesehatan dapat berkaitan dengan patogen tertentu yang sebelumnya menyebabkan keracunan makanan.

Ia mencontohkan sejumlah kondisi yang dapat muncul dalam jangka panjang, mulai dari penyakit autoimun tertentu, Guillain-Barré, gangguan pada usus hingga kesulitan menyerap makanan, gangguan neurologi, gagal ginjal, dan kelainan perilaku.

Setiap kuman dapat membawa dampak berbeda

Dampak jangka panjang tersebut juga berbeda bergantung pada jenis kuman yang menyebabkan keracunan.

Prof Damayanti memberikan sejumlah contoh. Campylobacter dapat berkaitan dengan paralisis dan kondisi lain.

E.coli dapat menyebabkan kidney failure atau gagal ginjal dan juga dapat berkaitan dengan diabetes.

Sementara Listeria dapat menyebabkan meningitis. Salmonella juga tidak hanya berkaitan dengan gangguan pada saluran pencernaan.

Kuman tersebut dapat berkaitan dengan artritis serta peradangan pada pembuluh darah dan kondisi lainnya.

Artinya, jenis kuman yang masuk ke tubuh menjadi salah satu hal yang menentukan dampak yang dapat muncul.

Karena itu, keracunan makanan tidak selalu dapat dipahami hanya sebagai gangguan pencernaan sementara.

Anak termasuk kelompok yang sensitif

Prof Damayanti menjelaskan terdapat kelompok yang lebih sensitif terhadap keracunan makanan. Kelompok tersebut antara lain lansia dan anak-anak di bawah usia lima tahun atau balita.

Anak dengan daya tahan tubuh rendah juga menjadi kelompok yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut tidak harus berarti anak mengalami penyakit berat. Status gizi yang kurang saja dapat memengaruhi daya tahan tubuh anak.

Menurut Prof Damayanti, ketika seorang anak mengalami weight faltering, daya tahan tubuhnya sudah dapat menurun sehingga lebih mudah terkena infeksi.

Ibu hamil juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian.

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.