Desa wisata, terutama yang masih rintisan bisa nebeng ke desa wisata yang memang sudah kategorinya maju

Semarang (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena meminta pengelola desa wisata saling bersinergi untuk mengembangkan potensi pariwisata dan memasarkan produk unggulan masing-masing daerah.

"Desa wisata, terutama yang masih rintisan bisa nebeng ke desa wisata yang memang sudah kategorinya maju," kata Samuel saat meninjau Desa Wisata Jatirejo, Semarang, Jawa Tengah, Jumat.

Samuel menjelaskan konsep tersebut dilakukan dengan menitipkan produk unggulan desa wisata rintisan ke desa wisata yang lebih maju sehingga sekaligus menjadi sarana promosi.

Menurut dia, setiap desa wisata memiliki produk unggulan yang berbeda sehingga kolaborasi diperlukan untuk memperluas pemasaran dan memperkenalkan potensi masing-masing desa.

Ia mencontohkan Desa Wisata Jatirejo memiliki sejumlah produk unggulan, seperti kolang-kaling, jahe merah, cabai merah, dan edukasi wisata. Desa tersebut bertetangga dengan Desa Wisata Kandri yang lebih dikenal.

"Kalau ini juga bisa dipromosikan di Kandri, kenapa enggak? Karena Kandri tidak punya produk kolang-kaling, kerupuk kolang-kaling dan lain-lain," katanya.

Menurut Samuel, pengelola desa wisata dapat saling melengkapi dengan mempromosikan produk yang tidak dimiliki desa wisata lain melalui jaringan wisata yang sudah lebih berkembang.

"Jadi, apa yang Kandri punya yang tidak dimiliki desa lain bisa diisikan. Apa yang Kandri tidak punya, dimiliki oleh desa lain bisa mengisi ke Kandri," ujarnya.

Samuel juga menekankan pentingnya suvenir sebagai produk khas yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus media promosi desa.

"Suvenir ini sesuatu yang merupakan hal kecil, tapi bisa menjadi topik untuk kita mempromosikan keberadaan suatu tempat," katanya.

Ia mengingatkan suvenir tidak dibuat secara asal, melainkan perlu dirancang secara baik agar memiliki keunikan, ciri khas, cerita, dan mudah dibawa wisatawan.

Sementara itu, Ketua Desa Wisata Jatirejo Deny Wikuncoro mengatakan wilayah Desa Jatirejo memiliki luas 238,130 hektare yang terbagi dalam empat rukun warga dan 14 rukun tetangga.

Ia menyebut Desa Jatirejo memiliki sejumlah potensi unggulan, antara lain kebun kolang-kaling, bumi perkemahan, wisata edukasi Green Fresh Farm (GFF), serta kampung tematik Kokolaka, Kambera, dan Kajera.

"Masyarakat juga berinovasi membuat nasi guling yang lauknya terbuat dari kolang-kaling. Ini merupakan upaya untuk mengolah potensi yang dimiliki," katanya.