Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Klasis Sabu Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Reading the world always precedes reading the word.”
Paulo Freire, The Importance of the Act of Reading (1983)
POS-KUPANG.COM - Sebuah sekolah kecil di Flores sedang membantu kita memahami kalimat Paulo Freire itu melalui layar digital, genset yang meraung dan ruang belajar yang belum seluruhnya layak. Anak anak di sana tidak meminta teori pembangunan. Mereka hanya ingin belajar.
Mari beri salah seorang anak itu nama Veronika. Ia rekaan, tetapi dunia yang mengitarinya dekat dengan kenyataan kita. Suatu pagi sebuah mobil masuk ke halaman sekolah membawa kardus besar. Anak anak berlari mengejarnya.
Baca juga: Opini: Gempa Bumi dan Problematika Ekologi di Flores
Dari kardus itu dikeluarkan sebuah Interactive Flat Panel atau IFP, layar digital yang dalam percakapan sehari hari lebih gampang disebut smart TV.
Veronika mengelilinginya seperti sedang memeriksa tamu baru. “Pak, ini smart TV?” tanyanya. “Lebih pintar sedikit,” jawab Pak Guru. Veronika menatap layar itu. “Berarti ini masa depan?” Pak Guru tertawa. “Katanya begitu.”
Tidak ada yang salah dengan masa depan itu. Anak di Elar dan berbagai pelosok NTT mempunyai hak yang sama atas pendidikan bermutu. Jarak dari pusat tidak boleh menjadi alasan untuk mempersempit cakrawala mereka.
Anak NTT membutuhkan kesempatan yang sama, tetapi kesempatan itu harus tiba dalam bentuk yang sungguh dapat digunakan.
Persoalan mulai terasa ketika masa depan itu hendak dinyalakan. Genset meraung di belakang sekolah. Solar dituangkan, kabel dipasang dan beberapa lampu menyala. Anak anak menunggu. Layar tetap gelap.
Adegan itu rekaan, tetapi ironi yang melahirkannya nyata. SD Negeri Mboeng di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, menjadi perhatian publik setelah kondisi sejumlah ruang belajarnya dan perangkat digital yang diterima tersiar luas.
Sekolah menggunakan generator diesel, tetapi daya yang tersedia belum mencukupi untuk mengoperasikan perangkat tersebut. Sumber listrik ada, tetapi dayanya belum cukup. Perangkat ada, tetapi belum berfungsi. Masa depan sudah tiba, tetapi belum seluruhnya dapat dinyalakan.
Ironi itu mudah dijadikan bahan tertawaan. Namun persoalannya terlalu serius untuk berhenti sebagai lelucon tentang pemerintah yang mengirim smart TV ke sekolah yang kekurangan daya. Pemerintah memang sedang bekerja.
Pada tahun 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat 576 sekolah di NTT direvitalisasi dan 9.019 IFP disalurkan.
Baca juga: Opini: Ketika Manusia Menghapus Wajah Sesamanya
Berdasarkan data per 7 September 2026, 1.487 satuan pendidikan di NTT menjadi sasaran revitalisasi, termasuk SD Negeri Mboeng. Desain kebijakan juga telah memperhitungkan perbedaan kondisi listrik dan konektivitas sekolah.
Karena itu, persoalannya bukan memilih antara memperbaiki ruang kelas atau menghadirkan teknologi. Anak membutuhkan keduanya.
Tantangannya ialah memastikan program yang baik tidak kehilangan sambungan ketika bertemu keadaan sekolah yang sangat beragam. Pertanyaannya menjadi lebih penting: apakah berbagai intervensi itu sungguh bertemu menjadi satu pelayanan yang bekerja?
Bayangkan Veronika membuat permainan kecil di papan tulis. Ia menulis bahwa listrik ada, perangkat ada dan ruang belajar juga ada. Semuanya diberi tanda centang. “Pak Guru, berarti sudah lengkap?” tanyanya.
Pak Guru memandang papan itu. Veronika kemudian menunjuk layar yang belum menyala. “Kalau semua sudah ada, kenapa belum semuanya bisa dipakai?”
Pertanyaan seorang anak kadang lebih tajam daripada banyak tabel. Ada belum tentu cukup. Cukup belum tentu berfungsi. Berfungsi belum tentu menjadi manfaat belajar.
Amartya Sen (1999) menyebut kemampuan mengubah sumber daya menjadi kesempatan nyata sebagai capability.
Dalam pendidikan digital, perangkat baru menjadi kesempatan belajar ketika bertemu dengan daya yang cukup, ruang yang aman, guru yang siap, konektivitas yang relevan dan pemeliharaan yang dapat diandalkan.
Pengalaman Mboeng memperlihatkan jurang lain yang dapat disebut integration divide, yaitu keadaan ketika bagian bagian pembangunan telah hadir, tetapi belum cukup tersambung untuk menjadi pelayanan yang bekerja.
Mama Maria tentu tidak membaca Amartya Sen. Ia juga tidak mengenal istilah integration divide.
Ketika Veronika pulang dan bercerita tentang layar pintar yang belum dapat digunakan, Mama Maria mungkin hanya menjawab, “Barang itu sonde salah. Kasih dia pung teman teman datang lengkap dulu.”
Barang itu memang tidak salah. Masalahnya muncul ketika listrik, ruang, guru, konektivitas, perangkat dan pemeliharaan datang sendiri sendiri seperti tamu yang lupa membuat janji untuk bertemu.
Pengalaman seperti itu tidak asing bagi NTT. Kita mengenal jalan yang sudah dibangun tetapi air hujan tidak diberi jalan, juga jaringan air yang sudah terpasang tetapi airnya belum mengalir. Polanya sama: sesuatu telah hadir, tetapi belum menjadi pelayanan yang bekerja.
Kritik karena itu perlu bergerak dari jumlah menuju keberfungsian. Kita tetap perlu mengetahui berapa sekolah yang menerima bantuan dan berapa perangkat yang dikirim.
Namun verifikasi tidak cukup menanyakan apakah listrik, konektivitas dan ruang tersedia. Yang perlu diuji ialah apakah daya cukup, koneksi dapat digunakan, ruang aman, guru siap dan perangkat dapat dirawat.
Pertanyaan akhirnya bukan berapa banyak yang sudah diberikan negara, melainkan apa yang berubah dalam kehidupan belajar anak.
Cara melihat seperti itu tidak selalu menuntut program baru. Yang lebih mendesak ialah kemampuan menyambungkan program yang sudah ada. Pemerintahan memang bekerja melalui banyak lembaga dan kewenangan.
Seorang anak di ruang kelas tidak mengalami negara dalam potongan potongan itu. Ia mengalami negara sebagai satu kenyataan sederhana: apakah pada hari itu ia dapat belajar dengan baik atau tidak.
NTT juga bukan daerah yang hanya menunggu bantuan. Keluarga telah lama membiayai pendidikan dari hasil kebun dan ternak. Guru serta masyarakat terus menjaga sekolah dalam keterbatasan.
Teknologi tidak datang untuk menciptakan harapan orang NTT. Teknologi datang untuk membantu harapan yang sudah lama mereka perjuangkan.
Memberikan barang yang sama kepada semua sekolah belum tentu menghasilkan kesempatan yang sama. Sekolah yang memulai dari keadaan berbeda membutuhkan dukungan yang berbeda agar anak anaknya memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Keadilan pendidikan bukan sekadar semua menerima. Keadilan berarti semua sungguh dapat menggunakan apa yang mereka terima.
Sesudah semua angka, anggaran, perangkat, rapat, laporan dan perdebatan selesai, ukuran keberhasilan pendidikan akhirnya kembali menjadi sangat sederhana. Apa yang berubah ketika seorang anak duduk untuk belajar?
Suatu pagi dalam cerita kita, genset kembali dinyalakan. Kali ini daya cukup. Layar perlahan hidup. Anak anak bersorak ketika sebuah tulisan muncul: CONNECTED SUCCESSFULLY.
Veronika terpukau. Dunia yang selama ini berada jauh di balik gunung dan laut kini terbuka beberapa langkah di depannya. Matanya kemudian beralih ke jendela, menuju ruang belajar di sebelah yang masih menunggu dibenahi.
“Pak Guru, sekarang kita sudah masuk masa depan?”
Pak Guru tersenyum.
Veronika menunjuk ke luar.
“Kalau begitu, kapan masa depannya masuk ke sana?”
Pak Guru tidak segera menjawab.
Barangkali pertanyaan itu memang bukan untuk Pak Guru. Jawabannya sedang menunggu kita. (*)
Daftar Rujukan