Oleh: Pastor Frans Banusu
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik hari ini Selasa 15 September 2026.
Tema renungan katolik hari ini 'kemuliaan hidup: butuh ratap tangis".
Renungan katolik hari ini disiapkan untuk, perayaan wajib SP Maria Berdukacita.
Perayaan wajib SP Maria Berdukacita dengan warna liturgi putih.
Bacaan hari Selasa: Ibr. 5:7-9; Mzm. 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20; Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35 dan BcO Est 4:1-16.
Baca juga: Renungan Katolik Hari Selasa 15 September 2026, Inilah ibumu
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,
Mazmur Tanggapan: Mzm. 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20;
Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku!
Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.
Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.
Engkau benci kepada orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN.
Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!
Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!
Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu terhadap persekongkolan orang-orang; Engkau melindungi mereka dalam pondok terhadap perbantahan lidah.
Bait Pengantar Injil:
P: Alleluia
U: Alleluia
Bacaan Injil Katolik: Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
P: Demikianlah Injil Tuhan
U: Terpujilah Kristus
Renungan Harian Katolik
"KEMULIAAN HIDUP: BUTUH RATAP TANGIS"
(Ibr. 5:7-9; Mzm. 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20; Yoh. 19:25-27).
"Ibu, inilah anakmu! Inilah ibumu." (Yoh. 19:26.27).
Dalam menata hidup yang baik sikap yang perlu dimilili adalah kesabaran, ketabahan dan kesetiaan. Sukacita, kegembiraan, tawa-ria pasti kita alami. Dukacita, penderitaan, ratap tangis pun menghampiri hidup kita sebagai bagian terpadu tak terpisahkan. Nestapa datang dan menimpa hidup tak memandang status. Beriman atau pun tak beriman penderitaan pasti datang pada waktunya. Beda sikap dalam menghadapi penderitaan besar dalam hidup: orang beriman sejati menerimanya dengan kesabaran, sementara yang tak beriman mengutuki dirinya, putus asa dan kehilangan daya hidup. Bahkan imannya pun tergoncang hebat.
Orang beriman tetap berharap ketika mengalami kesusahan dan penderitaan. Hidup rohaninya tak terganggu. Bunda Maria tak pernah menggugat Allah ketika melihat Yesus Anak Allah yang ia kandung dan lahirkan menderita begitu hebat dalam jalan salib menuju Golgota. Sekalipun berstatus Bunda Allah, Maria tak luput dari kepedihan mendalam bersama putranya. Ia belajar taat seperti Yesus taat kepada Allah Bapa-Nya dalam penderitaan-Nya. Ketaatan-Nya menyatu dengan ketaatan Bunda-Nya, demikian juga penderitaan-Nya. Bahkan ketika di atas salib, Yesus tak peduli pada penderitan-Nya yang tak terperikan, Ia justru peduli pada penderitaan ibu-Nya yang tak tertahankan. Ia peduli pada Bunda-Nya yang berdukacita, karena sesaat lagi Anaknya menghembuskan nafas terakhir di atas salib. Ia merelakan Bunda-Nya menjadi ibu murid yang dikasihi-Nya. Maka kepada murid kesayangan-Nya, Ia menyerahkan Bunda-Nya. "Ibu ini anakmu! Inilah ibumu." Murid-Nya itu dengan tulus hati menerima Bunda Berdukacita menjadi ibunya.
Kepada setiap keluarga yang berdukacita atas kehilangan anak atau anggota keluarga Yesus pun peduli sebagaimana Ia peduli pada Bunda-Nya yang berdukacita. Ketika ada penderitaan, dukacita kepedulian perlu, saling menerima, saling meneguhkan sangat dibutuhkan. Tanggung jawab seorang ibu melekat atas hidup dan mati anaknya. Berperan swbagai Bunda Allah, Maria bersatu dengan Yesus Sang Anak Allah sejak dalam kandungannya hingga puncak hidupnya di Kalvari dalam peristiwa tragis penyaliban-Nya. Maria berdukacita atas kematian Anaknya dan atas dosa-dosa dunia. Dukacita Santa Perawan Maria adalah rencana Allah sendiri, persis seperti ramalan Simeon sebilah pedang akan menembus jiwamu sendiri - supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang (Luk. 2:35). Maka Maria tetap berdiri kokoh di kaki salib dan ikut menderita. Gereja dalam ziarah pengharapannya, bersatu dengan Bunda Allah dalam sengsara Kristus hingga diperkenankan ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya.
Santo Paulus menegaskan, Yesus belajar taat sebagai Putra Allah dalam penderitaan-Nya. Dalam penderitaan dahsyat Yesus menggapai kesempurnaan-Nya. Dengan jalan ini Ia menjadi sumber keselamatan abadi bagi siapa pun yang taat pada-Nya. "Dalam hidup sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan demgan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut." (Ibr. 5:7a).
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku." (Mzm. 31:2-3a).
Hikmat yang dapat kita petik:
Penderitaan, ratap tangis karena iman akan Yesus Kristus menghantar hingga menggapai kejayaan dalam kemuliaan hidup kita
Maria Sang Perawan yang berdukacita, memberi kesaksian indah tentang teladan ketabahan dalam menghadapi peristiwa berat dalam hidup.
Santo Petrus mengatakan, "Bergembiralah bila kamu menderita bersama Kristus, supaya kamu ikut bersukacita bila Ia menyatakan kemuliaan-Nya." (1Ptr. 4:13).
Kesuksesan besar dalam hidup butuh air mata dan penderitaan lebih dulu.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Selasa/Pekan Biasa XXIV/A/II, 150926).
(sumber iman katolik.or.id/adiutami.com/the katolik.com/www.renunganpkarmcse.com/kgg).