Meski Produknya untuk Pasar Ekspor, Perajin Marmer Tulungagung Tak Ikut Nikmati Kenaikan Dolar
Alga W September 15, 2026 11:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, David Yohanes

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Kenaikan kurs Dolar Amerika ke rupiah membuat perajin marmer di Kabupaten Tulungagung, cukup terpukul.

Pasalnya, mereka tidak menikmati nilai tukar ini, meski penjualannya untuk pasar ekspor.

Baca juga: Jenazah Korban Meninggal Kapal Virgo Transport 8 Asal Ngantang Malang Akan Dimakamkan di Blitar

Penyebabnya, para perajin menjual produknya kepada perusahaan eksportir dengan patokan harga rupiah.

Hal itu diungkapkan salah satu perajin marmer dari Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Oscar Tabun.

Ia mengaku, sempat terpukul dengan kenaikan kurs dolar.

"Produk kami dibelinya tetap pakai rupiah. Makanya saat dolar naik, kami ikut merasakan dampaknya," ujarnya, Senin (14/9/2026).

Lanjutnya, saat dolar naik, maka semua komponen produksi ikut naik.

Oscar menyebut, bahan baku batu ikut naik, alat-alat produksi, dan biaya produksi juga ikut naik.

Sementara pihak eksportir tidak bisa serta merta melakukan penyesuaian harga baru berdasar kenaikan kurs dolar.

"Kami harus tetap kerjakan, karena pesanan sudah lebih dulu masuk. Cukup berat juga bagi kami saat itu," ungkapnya.

Perajin marmer seperti Oscar akhirnya tertolong setelah dilakukan penyesuaian harga.

Setiap produk yang dibuat harganya dinaikkan sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000.

Rata-rata harga beli saat ini Rp35.000 sampai Rp150.000 sesuai dengan ukurannya.

"Harga rata-rata, produk yang paling kecil Rp35.000, yang paling besar Rp150.000," paparnya.

Oscar mengirim barang ke eksportir seminggu sekali, dengan volume beragam.

Jika produk yang dipesan ukuran kecil, biasanya mencapai 300 per sekali kirim.

Namun jika produknya ukuran besar, jumlah barangnya antara 100-150 buah.

"Yang sedang tren saat ini produk-produk jenis bowl (mangkuk) dan tempat lilin," jelasnya.

Mangkuk pesanan pasar Eropa ini beraneka bentuk, mulai dari bulat biasa, lonjong, sampai bentuk roda gigi.

Produk ini dimanfaatkan untuk tempat buah, sampai tempat pakan untuk hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.

Sementara untuk tempat lilin, saat ini yang sedang tren berbentuk seperti benteng pada buah catur.

Batu yang digunakan ada yang dari marmer putih, ada pula dari marmer hitam.

Untuk pengerjaan produk, ada 10-15 orang yang ikut bekerja bersama Oscar.

"Permintaan saat ini tidak menurun, tidak ada perubahan seperti sebelum dolar naik," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.