TRIBUNNEWS.COM - Tahun ajaran baru di Gaza segera dimulai setelah hampir tiga tahun anak-anak kehilangan pendidikan tatap muka akibat perang.
Namun, kembalinya mereka ke sekolah berlangsung dalam kondisi serba terbatas.
Sebagian anak harus belajar di sekolah sementara yang menggunakan tenda karena sebagian besar bangunan sekolah rusak atau hancur.
Yemen Abu Odeh, 7 tahun, menjadi salah satu anak yang antusias kembali belajar setelah kehilangan kesempatan bersekolah secara normal sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Yemen seharusnya sudah mulai bersekolah sejak tahun lalu, tetapi perang membuat pendidikan reguler bagi anak-anak Gaza nyaris terhenti.
The National melaporkan lebih dari 97 persen sekolah di Gaza rusak atau hancur akibat perang.
Sejumlah sekolah yang masih berdiri juga membutuhkan rehabilitasi besar setelah sebelumnya digunakan sebagai tempat penampungan warga yang mengungsi.
Ratusan guru dan staf administrasi sekolah juga dilaporkan tewas selama perang.
Ibu Yemen, Iman Abu Odeh, mengatakan kondisi pendidikan anak-anak Gaza saat ini sangat berbeda dibandingkan masa sebelum perang.
“Selama tahun-tahun perang sebelumnya, tidak ada pendidikan, sekolah, atau pusat pembelajaran seperti sekarang,” kata Iman.
Baca juga: Film Dokumenter Gaza NAZA Menang di Venesia, Israel Serukan Cabut Kewarganegaraan sang Sutradara
Menurutnya, banyak anak kehilangan kesempatan belajar hingga melewatkan satu tahun ajaran penuh.
Yemen sendiri masih berusia 4 tahun ketika perang dimulai sehingga ia kehilangan kesempatan mengikuti taman kanak-kanak dan kemudian sekolah secara normal.
Ahmad Al Najjar, direktur hubungan masyarakat Kementerian Pendidikan Gaza, mengatakan tahun ajaran baru dijadwalkan dimulai pada 19 September 2026.
Sebanyak 530.000 dari 541.000 siswa diperkirakan dapat kembali memperoleh pendidikan.
Kondisi di lapangan membuat pendidikan belum bisa diberikan kepada seluruh siswa.
Al Najjar mengatakan lebih dari 20.000 siswa serta lebih dari 770 guru dan tenaga kependidikan tewas sejak perang dimulai.
Kondisi tersebut membuat pemerintah menghadapi persoalan lain, yakni kekurangan guru dan tenaga administrasi untuk menjalankan kembali sekolah.
Sebagian orang tua juga masih enggan mengirim anak mereka ke sekolah karena faktor keamanan, kondisi ekonomi, minimnya layanan, serta berbagai persoalan lain akibat perang.
Kondisi itu dirasakan langsung keluarga Yemen.
Keluarga Iman sebelumnya tinggal di Beit Hanoun, Gaza utara, tetapi kemudian mengungsi ke Deir Al Balah.
Baca juga: Gencatan Senjata Kembali Ternoda, Serangan Israel di Gaza Tewaskan 2 Warga Palestina
Suaminya juga kehilangan pekerjaan sejak perang dimulai.
Dua anak mereka yang lebih tua kini bersekolah di sekolah negeri terdekat selama sekitar tiga jam setiap hari.
Mereka hanya mendapatkan lima hingga enam mata pelajaran utama, menyesuaikan dengan kemampuan sekolah.
Iman mengatakan kondisi sekolah saat ini jauh dari sekolah yang mereka kenal sebelum perang.
Sekolah-sekolah tersebut memiliki keterbatasan dari sisi guru, bangunan, penampilan, hingga layanan pendidikan.
“Segalanya tidak memadai,” ujarnya.
Menurut Iman, kondisi tersebut membuat manfaat pendidikan yang diterima anak-anak menjadi sangat terbatas dan terlihat adanya penurunan kemampuan akademik mereka.
Keterbatasan tersebut membuat sebagian anak Gaza kembali belajar di ruang kelas sementara yang dibangun menggunakan tenda.
Anak-anak juga mengandalkan pusat pembelajaran yang didirikan relawan, organisasi lokal, dan kelompok bantuan.
Mahmoud Al Majdalawi, seorang aktivis sosial, mengatakan banyak keluarga berusaha mengembalikan anak-anak mereka ke ruang kelas meski infrastruktur pendidikan telah rusak parah.
Ia mencontohkan keponakannya yang berusia 10 tahun harus berjalan sekitar 2 kilometer menuju sekolah.
Anak itu tetap berjalan ke sekolah meski harus menghadapi panas maupun hujan.
Al Jazeera melaporkan, kondisi serupa terlihat di Elyaa School di Gaza tengah yang menggunakan tenda sebagai ruang kelas.
Baca juga: Drone Zionis Israel Hantam Gaza, Dua Warga Palestina Tewas, 13 Terluka
Sekolah tersebut hanya memiliki sedikit kursi dan meja sehingga sebagian siswa terpaksa duduk di atas kasur tipis atau karpet selama mengikuti pelajaran.
Tidak adanya pendingin ruangan maupun kipas juga membuat suhu panas mengganggu konsentrasi siswa.
Khadija Abu Qados, 39 tahun, kini menyekolahkan putrinya, Jouri, 11 tahun, dan Ritaj, 14 tahun, di sekolah tersebut.
Keluarga Khadija tinggal di sebuah kamp pengungsian di Deir el-Balah setelah rumah mereka di Sheikh Radwan, Gaza City, hancur akibat serangan Israel pada September 2025.
Khadija mengatakan anak-anaknya telah lama tidak bersekolah secara normal.
Mereka sebelumnya juga kesulitan mengikuti pembelajaran daring karena keterbatasan akses internet.
Kini Jouri dan saudara-saudaranya belajar di sekolah yang dikelola para relawan dengan biaya sekitar 30 shekel atau sekitar 8 dolar AS per bulan.
Meski relatif murah, biaya tersebut tetap menjadi beban bagi keluarga yang harus lebih dulu memenuhi kebutuhan makanan dan kebutuhan pokok.
“Jika saya mampu, saya akan menyekolahkan mereka di sekolah swasta,” kata Khadija.
Ia menilai kualitas pengajaran cukup baik, tetapi prihatin melihat anak-anak belajar tanpa tempat duduk yang layak dan dalam kondisi yang jauh dari lingkungan pendidikan ideal.
Harga alat tulis juga menjadi persoalan.
Menurut Khadija, satu buku tulis kini dapat berharga 4 hingga 6 shekel.
Padahal sebelum perang, 12 buku tulis hanya berharga sekitar 6 shekel.
Krisis tersebut menunjukkan besarnya waktu belajar yang hilang bagi anak-anak Gaza.
UNICEF pada Mei 2026 mencatat sekitar 700.000 anak berusia 4 hingga 17 tahun kehilangan pendidikan tatap muka selama hampir tiga tahun ajaran berturut-turut.
Hanya sekitar 2 persen bangunan sekolah di Gaza yang masih tidak mengalami kerusakan.
Sementara itu, sekitar 93 persen bangunan sekolah membutuhkan perbaikan besar atau pembangunan kembali secara total.
Sekitar 420.000 anak, atau tiga dari lima anak usia sekolah, juga belum mendapatkan pembelajaran tatap muka.
Baca juga: Gaza Kehabisan Listrik, Warga Sewa Generator demi Air hingga Cuci Baju: Semua Serba Bayar
Di tengah keterbatasan tersebut, sebagian warga berusaha membangun kembali ruang pendidikan dari fasilitas seadanya.
Noha Khadra, guru yang telah mengajar selama 10 tahun, membuka Elyaa School pada Januari 2026 di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan Gaza.
Lebih dari 1.100 siswa kini terdaftar di sekolah lapangan tersebut.
Sekolah itu dijalankan sekitar 40 guru dan staf administrasi sukarelawan.
Pada awalnya, tidak tersedia meja dan kursi sehingga siswa harus duduk di atas kasur.
Sebagian siswa juga datang tanpa alat tulis dan perlengkapan belajar.
Noha mengatakan para staf bahkan harus membeli sejumlah perlengkapan menggunakan uang mereka sendiri.
Ia mengaku kecewa melihat kondisi ruang kelas yang masih jauh dari layak meski sekolah tersebut dibutuhkan ribuan anak.
Namun, sekolah tersebut tidak hanya menjadi tempat belajar.
Bagi anak-anak yang hidup dalam pengungsian, keberadaan sekolah juga memberi ruang untuk sejenak keluar dari tekanan kehidupan sehari-hari serta mendapatkan kebutuhan dasar seperti air.
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan finansial, sekolah swasta menjadi pilihan lain untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan.
Namun, biaya sekolah membuat pilihan tersebut hanya bisa dijangkau sebagian kecil keluarga.
Zahra Saleh, 25 tahun, menyekolahkan dua putranya, Ibrahim, 6 tahun, dan Karam, 5 tahun, di Abdul Aziz Private School di sebelah barat Gaza City.
Sekolah tersebut mengenakan biaya sekitar 400 shekel atau sekitar 131 dolar AS per bulan.
Bagi keluarga Zahra, biaya itu tetap sulit dipenuhi karena suaminya tidak memiliki pekerjaan.
Zahra kemudian bekerja di sekolah tersebut untuk membantu mengurangi biaya pendidikan anak-anaknya.
Ia ingin kedua anaknya kembali memiliki rutinitas belajar dan dapat mempelajari mata pelajaran seperti bahasa Arab, bahasa Inggris, dan matematika.
Sekolah Abdul Aziz sendiri sebelumnya dimulai sebagai sekolah lapangan berbasis tenda pada 2024 dengan tenaga pengajar sukarelawan.
Untuk tahun ajaran ini, sekolah tersebut pindah ke sebuah bangunan sewaan di Shujaiya.
Sekitar 300 siswa berusia 3 hingga 15 tahun kini belajar di sana dengan dukungan sekitar 20 tenaga pengajar.
Kepala sekolah Doaa Qdeih mengatakan biaya pendidikan disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
Baca juga: Gencatan Senjata Belum Menjamin Keamanan Gaza, 4 Anggota Keluarga Tewas Diserang
Sebagian biaya digunakan untuk membayar sewa dan operasional sekolah, sementara keuntungan dari usaha lain juga digunakan untuk meningkatkan fasilitas sekolah.
Menurut Doaa, sekolah swasta bukanlah solusi untuk krisis pendidikan Gaza karena tidak semua keluarga mampu membayarnya.
“Kami tidak mengharapkan imbalan apa pun. Kami hanya ingin terus melayani anak-anak dan memberi mereka pendidikan yang layak mereka dapatkan,” kata Doaa.
Krisis pendidikan juga dirasakan anak-anak Palestina di Tepi Barat.
Di wilayah tersebut, perpindahan warga dan operasi militer membuat sejumlah anak kesulitan mempertahankan pendidikan mereka.
Samer Al Jayousi, 42 tahun, telah mengungsi dari kamp pengungsi Tulkarm selama lebih dari satu tahun akibat operasi militer Israel.
Ia memiliki tujuh anak, empat di antaranya berusia sekolah antara 10 hingga 17 tahun.
Samer mengatakan perpindahan tempat tinggal dan sekolah memengaruhi prestasi akademik anak-anaknya serta membuat mereka kehilangan waktu belajar.
Orang tua di Tepi Barat juga menghadapi kekhawatiran terkait keselamatan anak, biaya transportasi dan perlengkapan sekolah yang meningkat, serta ancaman pemukim di sekitar sekolah.
Putra Samer, Sohaib, bahkan pernah diserang pemukim saat dalam perjalanan menuju sekolah tahun lalu.
Tangannya terluka dan ia harus menjalani perawatan di rumah sakit selama dua hari.
Cedera tersebut masih berdampak selama lebih dari dua bulan dan memengaruhi kemampuannya menulis.
Kementerian Pendidikan Palestina mencatat 634.294 anak belajar di 1.967 sekolah negeri di Tepi Barat.
Baca juga: 8 Negara Termasuk Indonesia Ingatkan Konsekuensi Fatal Jika Israel Usir Warga Gaza
Sebanyak 163.787 anak lainnya bersekolah di 480 sekolah swasta, sementara 48.208 anak belajar di 90 sekolah UNRWA.
Jumlah tenaga pengajar tercatat 40.747 orang di sekolah negeri, 11.578 orang di sekolah swasta, dan 1.871 orang di sekolah UNRWA.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)