Kisah April dan Rozak, Sempat Putus Sekolah Kini Kembali Belajar di Sekolah Rakyat
Pipit Maulidya September 12, 2026 08:32 PM

 

SURYA.co.id, BLITAR - Kesempatan untuk kembali bersekolah akhirnya didapat Aprilia Ayu Agustin (16) dan M Kausar Rozak Saputra. Keduanya sempat tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP pada 2026.

Kini, April dan Rozak menjadi siswa Sekolah Rakyat Kota Blitar, Jawa Timur. Keduanya mulai mengikuti pendidikan di sekolah tersebut pada Sabtu (12/9/2026).

Mereka mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin. Pada hari pertama sekolah, Mas Ibin menjemput April dan Rozak dari rumah masing-masing untuk kemudian diantar ke Sekolah Rakyat.

Ratusan siswa Sekolah Rakyat turut menyambut kedatangan keduanya di aula.

Baca juga: Harga Cabai Rawit Makin Pedas, di Pasar Legi Blitar Tembus Rp75.000/Kg

Sempat Keluar dari SMK

April, yang tinggal bersama ibunya di Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, sebelumnya sempat masuk salah satu SMK negeri setelah lulus SMP.

Namun, ia hanya bertahan beberapa bulan sebelum memutuskan keluar karena merasa kurang cocok dengan lingkungan sekolah.

"Kemarin sempat masuk SMK, lalu keluar karena kurang cocok dengan lingkungannya," kata April.

Setelah keluar dari SMK, April tidak langsung melanjutkan pendidikan ke sekolah lain. Selama lebih dari satu bulan, ia hanya berada di rumah.

Keinginan untuk kembali sekolah kemudian membuat April memilih Sekolah Rakyat.

"Kemudian saya ingin melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat. Akhirnya difasilitasi bisa masuk di Sekolah Rakyat," ujarnya.

April mengaku sudah siap mengikuti pendidikan sekaligus tinggal di asrama. Ia bahkan memiliki cita-cita menjadi dokter.

"Saya ingin menjadi dokter. Saya sudah siap belajar di Sekolah Rakyat," katanya.

Baca juga: 15 Tenda Pameran Seni dan Budaya di Babat Lamongan Roboh Diterjang Angin Kencang

Rozak Terkendala Biaya Sekolah

Kondisi berbeda dialami Rozak. Setelah lulus SMP pada 2026, ia sebenarnya sudah mendaftarkan diri ke SMA negeri di Kota Blitar.

Namun, hingga proses pendaftaran berakhir, Rozak tidak diterima di SMA negeri yang diinginkannya. Ia kemudian berhenti sekolah untuk sementara.

"Saya sempat daftar di SMA negeri, tapi tidak diterima. Akhirnya berhenti dulu. Sekarang masuk Sekolah Rakyat," katanya.

Rozak sempat mempertimbangkan untuk mendaftar ke SMA swasta. Namun, rencana tersebut terkendala kemampuan ekonomi keluarganya.

"Sempat mau daftar ke SMA swasta. Tapi terkendala biaya. Akhirnya saya masuk Sekolah Rakyat. Cita-cita saya ingin menjadi polisi," ujarnya.

Baca juga: Proyek Pasar Taman Sidoarjo Bermasalah, Wabup Mimik Temukan Pekerjaan 0 Persen

Sekolah Rakyat Berbasis Asrama

Wali Kota Blitar Mas Ibin berharap April dan Rozak dapat segera menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Pasalnya, keduanya akan tinggal di asrama selama menjalani pendidikan.

"Sekolah Rakyat ini sekolah asrama, mungkin awal-awal perlu adaptasi. Ini proses yang dilewati dengan perjuangan, karena berpisah dengan orang tua dan lingkungan," katanya.

Menurutnya, kehidupan di asrama juga menjadi bagian dari proses pembentukan kemandirian siswa.

"Anak-anak memang harus diajari hidup mandiri agar menjadi generasi yang tangguh dan hebat serta sukses di masa depan," lanjutnya.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Blitar Eka Atikah menjelaskan, Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi entry multi exit. Dengan sistem tersebut, siswa dapat masuk maupun keluar dari sekolah sewaktu-waktu.

"Kebetulan dua siswa ini putus sekolah dan minat masuk Sekolah Rakyat. Wali Kota mengapresiasi anak putus sekolah yang mau sekolah di Sekolah Rakyat, lalu menjemputnya," katanya.

Eka mengatakan, keputusan April dan Rozak untuk masuk Sekolah Rakyat datang dari keinginan mereka sendiri. Orang tua keduanya juga memberikan dukungan.

"April ini anak yatim. Ibunya justru mendukung anaknya masuk Sekolah Rakyat, dari pada nanti terpengaruh pergaulan bebas di luar," ujarnya.

Sedangkan Rozak sebelumnya sudah mendaftar ke SMA negeri. Karena tidak diterima, ia sempat mempertimbangkan SMA swasta sebelum akhirnya memilih Sekolah Rakyat karena keterbatasan biaya keluarga.

"Rozak sudah daftar di SMA negeri, tapi tidak diterima. Awalnya, ia ingin masuk SMA swasta, tapi orangtua biayanya terbatas, karena masih biayai kuliah kakaknya. Akhirnya, ia ingin masuk Sekolah Rakyat," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.