Mengapa Lahan Gambut yang Dikeringkan Bisa Memperparah Kebakaran?
GH News September 13, 2026 07:08 AM
Jakarta -

Gambut merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari tumpukan bahan organik yang belum terurai secara sempurna selama ribuan tahun. Secara alami, lahan gambut dapat menyerap dan menyimpan air dalam jumlah yang besar sehingga sulit untuk terbakar.

Namun saat musim kemarau tiba, lahan gambut yang dikeringkan, misalnya untuk membangun kanal, berpotensi mengalami kebakaran lahan yang lebih kompleks. Hal ini terkait dengan adanya proses alias api yang merambat di bawah permukaan lahan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.

"Jika wilayah gambut masih berada dalam kondisi alaminya dan selalu tergenang air, hal itu tidak akan menjadi masalah. Namun, ketika airnya dikeluarkan, bahan organik yang mengering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas," ujar pakar Ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Dr. Elham Sumarga, S Hut, M Si, dikutip dari ITB.

Bagai bahan bakar, lahan gambut yang sudah dikeringkan berkontribusi terhadap lamanya kebakaran berlangsung dan juga dapat menyebar ke wilayah yang sangat luas.

Gambut yang Rusak

Gambut yang dikeringkan untuk kepentingan pembangunan kanal untuk mendukung kegiatan budidaya berpotensi mengalami degradasi atau .

Kondisi ini kemudian bisa menyebabkan hilangnya kemampuan lahan gambut untuk menyerap air, sehingga air tidak memiliki tempat untuk berlabuh. Akibatnya, lahan menjadi tergenang bahkan banjir permanen.

Untuk mematangkan mitigasi, pemerintah selaku pembuat kebijakan perlu memperhitungkan konsekuensi dari berbagai pilihan pengelolaan lahan gambut. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pemodelan hidrologis dan spasial.

"Di sinilah fungsi utama pemodelan. Kita dapat menginvestigasi berbagai skenario untuk mengambil keputusan yang bersifat antisipatif dan preventif agar kebakaran yang lebih hebat pada masa depan dapat dicegah," kata Dr Elham.

Bagaimana Memperbaiki Lahan Gambut?

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari keringnya lahan gambut. Sehingga melakukan restorasi ekosistem gambut harus dilakukan, salah satunya dengan membasahi kembali lahan gambut yang kering atau dikenal dengan rewetting.

Rewetting dapat dilakukan di antaranya dengan membangun sekat kanal supaya ketersediaan air dan kelembapan lahan tetap terjaga. Dengan begitu, potensi lahan gambut untuk terbakar saat musim kemarau dapat ditekan.

Pengelolaan lahan gambut, yang disebut dengan paludikultur, juga dianjurkan supaya tidak perlu mengeringkan lahan demi kepentingan budidaya. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih komoditas lain untuk ditanam.

Untuk lahan gambut sendiri komoditas yang menjadi alternatif antara lain adalah jelutung, sagu, dan purun. Masyarakat tetap dapat memanfaatkan lahan dan bernilai ekonomi tanpa harus mengeringkan lahan tersebut.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Salah satu dampak kebakaran yang paling besar adalah asapnya. Bahkan pada beberapa lokasi hingga mengurangi jarak pandang secara signifikan.

Di dalam asap terdapat kandungan partikulat halus PM2.5 yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, utamanya pada sistem pernapasan. Selain pernapasan, kabut asap juga mengganggu aktivitas sehari-hari karena kualitas udara yang memburuk.

Dalam konteks lingkungan yang lebih luas, kebakaran lahan dalam jumlah besar turut berkontribusi terhadap bertambahnya jumlah emisi gas karbon yang mempercepat pemanasan global dan perubahan iklim.

Kebanyakan lahan yang terbakar merupakan hutan yang menjadi habitat bagi berbagai satwa liar. Di Kalimantan sendiri, orang utan terpaksa berpindah karena habitat aslinya terbakar habis.

"Orang utan di Kalimantan banyak yang terdesak dan terjebak akibat kebakaran. Bahkan, terdapat satwa liar yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kebakaran yang hebat," tuturnya.

Dr Elham mengingatkan perlunya kolaborasi dan evaluasi antara akademisi, pemerintah, berbagai lembaga, pelaku usaha, hingga masyarakat.

"Semua pihak harus bergerak bersama secara sinergis. Kebakaran hutan adalah masalah yang tidak bisa dilokalisasi, sehingga penanganannya membutuhkan kesadaran bersama, perbaikan regulasi, serta ketegasan penegakan hukum demi menjaga keberlanjutan ekosistem," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.