Trump Tunjuk Eks Capres Partai Demokrat, Tulsi Gabbard sebagai Direktur Intelijen Nasional
Suci BangunDS November 14, 2024 10:35 AM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden terpilih Donald Trump memilih mantan anggota Partai Demokrat yang beralih menjadi pendukungnya, Tulsi Gabbard, sebagai Direktur Badan Intelijen Nasional pada hari Rabu (13/11/2024) waktu setempat.

Dalam penunjukkannya tersebut, Trump memuji Gabbard pada sebuah pernyataan yang ia rilis ke publik.

"Saya tahu Tulsi akan membawa semangat tanpa rasa takut yang telah mendefinisikan karirnya yang cemerlang ke Komunitas Intelijen kami, membela Hak Konstitusional kami, dan saya yakin dia dapat mengamankan Perdamaian melalui Kekuatannya" ungkap Trump.

Tulsi Gabbard bukanlah nama yang asing dalam dunia politik Amerika Serikat mengingat dirinya adalah salah satu kandidat calon presiden dari Partai Demokrat pada pemilu 2020 lalu.

Setelah kalah dari Joe Biden untuk maju menjadi capres Partai Demokrat, Veteran Garda Nasional Angkatan Darat ini pun memutuskan untuk meninggalkan partainya pada tahun 2022.

Unggahan Tulsi Gabbard dalam kampanye pencapresan Donald Trump
Unggahan Tulsi Gabbard dalam kampanye pencapresan Donald Trump

Selang beberapa waktu kemudian, dia turut berkampanye bersama Trump dan bekerja bersama tim transisinya.

Dalam banyak hal, transformasi Gabbard dari seorang ikon di Partai Demokrat menjadi kader favorit tim MAGA (Make America Great Again) telah berlangsung secara bertahap.

Transformasi tersebut mulai terlihat saat Gabbard turut membantu Trump untuk mempersiapkan diri jelang debat dengan Wakil Presiden Kamala Harris pada September lalu.

"Saya siap membantu Presiden Trump dengan cara apa pun, saya berbagi pengalaman dengannya saat saya satu panggung debat dengan dia (Kamala Harris) pada tahun 2020, dan sejujurnya saya siap membantunya (Trump) untuk menunjukkan beberapa cara untuk mengalahkan Kamala Harris yang terus berusaha menjauh dari rekam jejaknya," kata Gabbard dalam wawancara dengan Dana Bash di CNN dalam acara "State of the Union."

Tulsi Gabbard dan Kamala Harris sendiri memiliki sejarah perseteruan yang cukup panjang,

Keduanya sempat saling bertukar pendapat dan agenda politik yang memiliki perbedaan mencolok selama debat pemilu pendahuluan Demokrat di tahun 2020.

Pada saat itu, Harris mengkritik pandangan Gabbard terkait kebijakan luar negeri, sementara Gabbard menantang rekam jejak Harris dalam bidang keadilan pidana.

Setelah membantu Trump beradu debat dengan Harris, Gabbard pun terus melanjutkan transisinya sebagai kader Partai Republik.

Puncak transisinya tersebut, terjadi pada pengumuman bahwa dia bergabung dengan Partai Republik setelah membantu Trump dalam debat melawan Kamala Harris.

Selama masih menjadi kader Partai Demokrat, Gabbard memiliki sejumlah kesamaan prinsip dengan Donald Trump.

Gabbard dan Trump sama-sama memegang sikap yang tampaknya bertentangan terhadap militer AS: menghormati kekuatannya tetapi skeptis terhadap penggunaannya.

Dan seperti Trump, dia sering terlihat mendukung posisi yang lebih menguntungkan bagi pemimpin asing yang secara luas dianggap sebagai lawan Amerika.

Bahkan dalam beberapa kasus, Gabbard dan Trump termasuk sosok yang mendukung kebijakan Presiden Suriah, Bashar al-Assad dan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang selama ini dicap sebagai musuh Amerika.

Lantas, seberapa besar pengaruh Tulsi Gabbard setelah ia ditunjuk sebagai direktur Badan Intelijen Nasional AS?

Melalui posisi Direktur Badan Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard kini membawahi 18 lembaga intelijen dalam pemerintahan AS.

Satu di antara badan yang akan diawasi Gabbard adalah Badan Intelijen Pusat (CIA) yang memiliki  kemampuan pengumpulan dan analisis informasi berskala internasional.

Gabbard nantinya akan mengawasi sosok John Ratcliffe selaku pemimpin CIA yang sehari sebelumnya telah ditunjuk oleh Donald Trump.

(Bobby)

© Copyright @2024 LIDEA. All Rights Reserved.