TIMESINDONESIA, MALANG – Ketertarikan peneliti tentang Model pembelajaran mengajak peneliti meneliti lebih lanjut tentang model pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Penggerak. Banyak faktor yang mempengaruhi pendidikan, salah satu faktor pentingnya adalah kurikulum. Kurikulum sebagai pedoman pelaksanaan pengajaran dan pembelajaran memiliki peran yang penting untuk mensukseskan tujuan pendidikan.. Problematika penerapan kurikulum merdeka dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dihadapi oleh setiap guru mata pelajaran, tak terkecuali dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Hasil dari proses pembelajaran tidak hanya melahirkan peserta didik yang memiliki kecakapan akademis, melainkan juga memiliki kacakapan emosional yang dibuktikan dengan sikap, karakter dan akhlak yang baik.
Faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran diantaranya pendidik, peserta didik, lingkungan, metode/teknik serta media pembelajaran, pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan dengan pengelolaan pembelajaran yang baik membuka peluang selebar-lebarnya untuk menggapai keberhasilan maksimal, sebaliknya pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pengelolaan pembelajaran yang tidak baik juga membuka peluang selebar-lebarnya untuk gagal.
Model pembelajaran sebagai sebuah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang sistematis. Pemilihan model pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan karakteristik setiap kompetensi dasar yang disajikan. Tidak semua model pembelajaran cocok untuk setiap kompetensi dasar. Guru perlu memilih dan menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa.
Dalam melakukan proses pembelajaran kepada siswa, guru harus mampu menyesuaikan strategi, model dan metode pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik tersebut. Guru tidak dapat lagi mengajar dengan strategi pembelajaran yang konvensional, standar atau biasa-biasa saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai metode dan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru PAI, serta bagaimana hal tersebut diterima oleh siswa., menggali Model pembelajaran dan praktik terbaik dalam pembelajaran PAI yang dapat menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia dan model pembelajaran PAI dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang inovatif sekaligus mempertahankan nilai-nilai keislaman di tengah arus modernisasi. mengevaluasi apakah model pembelajaran yang digunakan mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, relevan, dan kontekstual bagi siswa, terutama dalam menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Program Sekolah Penggerak merupakan keberlanjutan dan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. Dalam sekolah bergerak, seluruh pelaku pendidikan mulai kepala sekolah, guru, maupun siswa diharapkan mampu lebih aktif dalam berinteraksi, melakukan presentasi, dan percaya setiap anak memiliki karakter masing-masing, dan harus diperlakukan berbeda. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. Program Sekolah Penggerak adalah upaya untuk mewujudkan visi Pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. program untuk meningkatkan kualitas belajar siswa untuk mengakselarasi sekolah bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun ajaran. Secara umum, gambaran akhir Program Sekolah Penggerak, akan menciptakan hasil belajar di atas level dari yang diharapkan dengan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif dan menyenangkan. Melalui pembelajaran yang berpusat pada murid, ciptakan perencanaan program dan anggaran yang berbasis pada refleksi diri, refleksi guru, sehingga terjadi perbaikan pada pembelajaran dan sekolah melakukan pengimbasan. SMPN 4 Rejang Lebong merupakan salah satu sekolah penggerak angkatan 1 yang menjadi pionir dalam menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar. Sekolah penggerak diharapkan dapat menjadi model untuk sekolah lainnya.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana model pembelajaran pendidikan agama Islam pada kurikulum merdeka belajar di sekolah penggerak dan bagaimana efektivitas model pembelajaran pendidikan agama Islam pada kurikulum merdeka belajar di sekolah penggerak (SMP Negeri 4 Rejang Lebong Bengkulu). Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Pembelajaran Abad ke 20 yaitu teori pembelajaran Konstruktivisme Jean Piaget . Implikasi konstruktivisme dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) beragam, menekankan peran aktif siswa dalam membangun pengetahuan dan pemahaman mereka sendiri tentang nilai-nilai agama. bahwa pengetahuan tidak diterima secara pasif tetapi secara aktif dibangun oleh peserta didik, yang selaras dengan tujuan PAI untuk membantu siswa menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Teori yang kedua adalah teori pembelajaran konstruktivime dan merdeka belajar Ki Hadjar Dewantara.
Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan teori pembelajaran konstruktivis keduanya menekankan pentingnya kemandirian siswa dan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Pendekatan Dewantara, sebagaimana tercermin dalam Kurikulum Merdeka, menganjurkan sistem pendidikan yang menghormati keunikan individu dan mempromosikan kebebasan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap potensi siswa, memungkinkan mereka untuk berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka. Pendekatan konstruktivis, khususnya dalam konteks Kurikulum Merdeka, mendorong siswa untuk mengeksplorasi dan belajar secara mandiri, menumbuhkan kreativitas dan keterampilan berpikir kritis.
Teori yang ketiga adalah teori pembelajaran abad ke 21 teori pembelajaran Konektivisme George Siemens dan Stephen Downes , teori pembelajaran khusus untuk era digital. Penerapan teori pembelajaran konektivisme dalam Pendidikan Agama Islam dapat memberikan dampak positif yang signifikan, seperti memperkaya pengalaman belajar siswa, memperluas akses ke sumber pengetahuan yang beragam, serta meningkatkan keterampilan digital dan kolaborasi. Dengan menggunakan teknologi dan jaringan informasi yang ada, siswa dapat menjadi pembelajar yang lebih mandiri, kritis, dan terlibat dalam pembelajaran yang berkelanjutan.
Paradigma yang dibangun oleh peneliti dalam menggali data penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme. Paradigma konstruktivisme bersifat normatif, berdasarkan realitas yang ada pada masyarakat. Paradigma ini merupakan cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma konstruktivisme bermanfaat menjadi cara pandang peneliti untuk dapat mengkaji dan menggali tentang Model pembelajaran PAI pada kurikulum merdeka belajar di sekolah penggerak.
Pendekatan penelitian yang digunakan pada riset ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus (case study). Penggunaan penelitian studi kasus dalam penelitian ini untuk menemukan penjelasan komprehensif yang berkaitan dengan berbagai model pembelajaran PAI pada kurikulum merdeka belajar di sekolah penggerak yang diteliti, untuk diupayakan dan ditelaah sedalam mungkin. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sifat deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif ini tidak membutuhkan kontrol terhadap peristiwa yang diteliti, namun cukup mengobservasi dan kemudian dijelaskan.
Peneliti melakukan wawancara mendalam, pengamatan yang cermat dan dokumentasi yang tepat. Teknik analisa data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan model Robert K. Yin yang meliputi penjodohan pola, pembuatan penjelasan (eksplanasi) dan analisis deret waktu. Melalui desain penelitian studi kasus dengan teknik analisis data model Robert K. Yin yang dipadu dengan teori pembelajaran , fokus permasalahan penelitian ini adalah melakukan analisis data pada muatan model pembelajaran pendidikan agama Islam, serta menganalisis efektivitas model pembelajaran Pendidikam agma Islam pada kurikulum merdeka belajar di sekolah penggerak. Temuan baru yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bentuk skema model pembelajaran pendidikan agam Islam pada kurikulum merdeka belajar di sekolah penggerak (SMPN 4 Rejang Lebong)
Model pembelajaran yang diterapkan di SMP N 4 Rejang Lebong dalam konteks Kurikulum Merdeka bersifat bervariasi dan interaktif. Semua aspek model pembelajaran tetap bermuara pada pembelajaran diferensiasi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Hal ini dibuktikan bahwa proses pembelajaran yang berlangsung pada pemenuhan kebutuhan belajar siswa yang beragam. Pembelajaran berdiferensiasi ini mencakup diiferensiasi Konten yaitu Guru menyesuaikan materi ajar berdasarkan kemampuan siswa, seperti memberikan materi lebih sederhana atau lebih kompleks sesuai kebutuhan. Diferensiasi Proses yaitu Menyediakan berbagai metode belajar, seperti diskusi kelompok, presentasi, atau pembelajaran mandiri. Diferensiasi Produk Siswa dapat menunjukkan pemahaman melalui berbagai bentuk tugas, seperti esai, proyek kreatif, atau presentasi.
Efektifas Dalam pelaksanaan proses pembelajaran dapat di lihat dari aktivitas,proses dan hasil . aktivitas siswa dalam pembelajaran pendidikan agama Islam pada kurikulum Merdeka menjadi lebih baik. Siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran karena metode yang digunakan bersifat partisipatif, penggunaan teknologi dan Sumber Daya. Aktivitas siswa tidak lagi hanya sebatas mendengarkan dan mencatat, melainkan juga melakukan eksplorasi, presentasi, dan pemecahan masalah terkait materi pendidikan agama Islam, yang sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran yang mandiri dan kreatif.
Secara keseluruhan, model pembelajaran pendidikan agama Islam pada kurikulum Merdeka sudah efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar, respon positif siswa, dan hasil belajar. Pembelajaran yang lebih fleksibel, berpusat pada siswa, dan pada proyek berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan agama Islam, baik dari segi keterlibatan siswa maupun pencapaian akademik. Meskipun demikian, beberapa kendala seperti adaptasi awal terhadap metode baru dan kebutuhan pelatihan lebih lanjut bagi guru masih perlu diperhatikan agar efektivitas ini dapat lebih dioptimalkan. Secara keseluruhan, model pembelajaran ini membawa perubahan positif terhadap proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam, selaras dengan tujuan Kurikulum Merdeka untuk menghasilkan siswa yang mandiri, kreatif, dan berkarakter kuat sesuai Profil Pancasila.
Temuan baru dibidang model pembelajaran pada kurikulum merdeka belajar dari hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkaya hazanah keilmuan dalam bidang model pembelajaran Pendidikan Agama Islam hingga dapat menjadi salah satu alternatif rujukan bagi yang berkepentingan untuk peningkatan kualitas dan efektifitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada kurikulum merdeka belajar melalui kerangka kurikulum merdeka belajar di sekolah penggerak. Dan sebagai acuan dalam mengimplementasikan model pembelajaran baik pendekatan, strategi , dan model pembelajaran dalam mata pelajaran pendididkan agama Islam tingkat sekolah menengah pertama pada sekolah penggerak., dapat secara kreatif mencoba dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
***
*) Oleh: Desi Firmasari K, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id