Ternyata Frekuensi Kencing dalam Sehari Bisa Jadi Tanda Kesehatan
GH News March 26, 2025 08:04 AM

Frekuensi buang air kecil dapat menjadi indikator kesehatan tubuh. Menurut dr Jamin Brahmbhatt, ahli urologi di Orlando Health, orang yang sehat biasanya buang air kecil sekitar 6 hingga 8 kali sehari, terutama di siang hari. Ini berarti kencing setiap 3 hingga 4 jam dianggap normal.

dr Brahmbhatt juga menekankan pentingnya memperhatikan frekuensi buang air kecil di malam hari. Idealnya, seseorang hanya perlu bangun sekali atau bahkan tidak sama sekali untuk buang air kecil. Jika terbangun lebih dari itu, bisa jadi ada masalah kesehatan yang perlu diwaspadai.

Frekuensi kencing juga dapat bervariasi tergantung pada jumlah cairan yang dikonsumsi serta jenis minuman yang diminum. Minuman seperti kopi, teh, dan alkohol memiliki efek diuretik yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil.

"Hal tersebut dapat mencakup alkohol, teh, dan kopi, yang memiliki efek diuretik dan mengiritasi kandung kemih, kata dr David Shusterman, seorang ahli urologi bersertifikat di NY Urology di New York City, dikutip dari CNN.

Di sisi lain, dr Brahmbhatt mengingatkan bahwa setiap orang memiliki pola buang air kecil yang berbeda. Frekuensi normal dapat bervariasi tergantung pada faktor seperti cuaca, tingkat aktivitas, dan kondisi tubuh.

Jika frekuensi buang air kecil tiba-tiba berubah-menjadi lebih sering atau lebih jarang-hingga mengganggu kenyamanan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

"Yang penting adalah mengetahui apa yang normal bagi Anda. Jika Anda tiba-tiba lebih sering atau lebih jarang ke kamar mandi, mungkin ada baiknya Anda memeriksakan diri, terutama jika hal itu mengganggu kualitas hidup Anda," katanya lagi.

Beberapa kondisi medis, seperti infeksi saluran kemih hingga diabetes dapat menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil. Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu, seperti diuretik, juga bisa berpengaruh. Pada ibu hamil, peningkatan kebutuhan cairan tubuh sering kali membuat frekuensi kencing lebih tinggi.

Stres atau kecemasan juga dapat membuat seseorang lebih sering buang air kecil, karena respons "melawan atau lari" (fight-or-flight) serta pelepasan adrenalin dapat memicu kontraksi kandung kemih atau meningkatkan produksi urine.

Kandung kemih yang terlalu aktif juga dapat disebabkan oleh masalah hormonal, seperti sindrom genitourinari menopause, yang merupakan kumpulan gejala akibat penurunan kadar estrogen.

"Yang menarik, diperkirakan ada reseptor estrogen di kandung kemih," kata dr Jason Kim, profesor klinis urologi di Renaissance School of Medicine di Stony Brook University di Long Island, New York.

Jika pola buang air kecil mengganggu aktivitas sehari-hari atau sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis urologi.

Dokter dapat membantu menentukan penyebabnya dan mungkin menyarankan latihan kandung kemih. Jika masalah tampaknya berkaitan dengan disfungsi dasar panggul, dokter juga dapat merujuk pasien ke terapis dasar panggul.




© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.