Ray Sahetapy Pernah Stroke Sebelum Meninggal, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya Sejak Dini!
Mia Della Vita April 02, 2025 11:34 PM

Grid.ID- Dunia perfilman Indonesia sedang berduka atas kepergian aktor senior Ray Sahetapy. Mantan suami Dewi Yull ini meninggal dunia pada 1 April 2025.

Kabar ini disampaikan langsung oleh putranya, Surya Sahetapy, melalui unggahan di media sosial. "Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Titip salam cinta dan kangen ke Kak Gisca, Dad.” ditulis Surya Sahetapy, dikutip dari Kompas.com, Selasa (1/4/2025).

Sebelum wafat, Ray Sahetapy diketahui memiliki riwayat penyakit stroke, sebuah kondisi yang bisa menyerang secara mendadak dan berpotensi mengancam nyawa.

Kenali Gejala Stroke Lebih Dini

Stroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otak, sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak. Gejala stroke bisa muncul tiba-tiba dan berbeda-beda, tergantung pada bagian otak yang terkena.

Mendeteksi gejalanya lebih awal sangat penting agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat untuk mengurangi risiko kerusakan yang lebih parah. Beberapa tanda umum yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Senyum tidak simetris: wajah tampak mencong ke satu sisi.
  • Kesulitan menelan: bisa terjadi tiba-tiba dan menyebabkan tersedak.
  • Lemah pada satu sisi tubuh: biasanya terjadi pada tangan atau kaki.
  • Bicara pelo atau tidak jelas: bahkan bisa tiba-tiba sulit berbicara.
  • Kesemutan atau mati rasa: terutama pada satu sisi tubuh.
  • Pandangan kabur secara tiba-tiba: bisa terjadi pada satu atau kedua mata.
  • Sakit kepala hebat: sering disertai gangguan keseimbangan.

Jika seseorang mengalami salah satu atau lebih gejala di atas, segera cari bantuan medis!

Metode ‘SeGeRa Ke RS’ untuk Mendeteksi Stroke

Untuk mempermudah mengenali tanda-tanda stroke, ada metode sederhana yang bisa diingat, yaitu ‘SeGeRa Ke RS’:

Se (Senyum) – Apakah wajah terlihat tidak simetris?

Ge (Gerak) – Apakah ada kesulitan menggerakkan tangan atau kaki?

Ra (Bicara) – Apakah bicara menjadi pelo atau sulit dimengerti?

Ke (Kebas) – Apakah ada mati rasa atau kesemutan pada wajah atau tubuh?

R (Rabun) – Apakah penglihatan menjadi kabur atau ganda?

S (Sakit Kepala) – Apakah sakit kepala muncul mendadak?

Metode ini sangat membantu dalam mengenali stroke lebih cepat, sehingga bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Cara Mencegah Stroke Sejak Dini

Stroke tidak hanya menyerang orang lanjut usia, tetapi juga bisa terjadi pada siapa saja, termasuk di usia muda. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan pola hidup sehat guna mengurangi risiko stroke.

1. Konsumsi Makanan Bergizi

Pola makan sehat dapat membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan mengurangi risiko stroke. Mengutip Serambinews, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan soal asupan makanan.

Pertama, perbanyak konsumsi sayur dan buah. Kedua, kurangi makanan tinggi lemak dan gula.

Ketiga, Batasi asupan garam untuk menjaga tekanan darah. Terakhir, minum air putih yang cukup setiap hari.

2. Hindari Konsumsi Garam Berlebihan

Terlalu banyak garam bisa memicu hipertensi, yang merupakan salah satu faktor utama penyebab stroke. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan asupan garam harian tidak lebih dari 2.000 mg atau sekitar satu sendok teh per hari.

3. Berhenti Merokok

Kebiasaan merokok merupakan gaya hidup tidak sehat yang perlu diberhentikan. Soalnya, merokok bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penggumpalan darah, yang dapat memicu stroke.

4. Rutin Berolahraga

Olahraga minimal 4–5 kali seminggu dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa jenis olahraga yang disarankan, di antaranya jalan kaki atau jogging, bersepeda, dan berenang.

5. Menjaga Berat Badan Ideal

Obesitas dapat meningkatkan risiko stroke karena dapat menyebabkan penumpukan plak di arteri. Oleh karena itu, menjaga berat badan ideal dengan pola makan seimbang dan olahraga teratur sangat penting.

6. Kontrol Diabetes

Kadar gula darah tinggi dapat memicu terjadinya sumbatan pada pembuluh darah. Oleh karena itu, bagi penderita diabetes, sangat penting untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil guna mencegah komplikasi serius, termasuk stroke.

7. Rutin Cek Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan secara berkala membantu mendeteksi risiko stroke lebih dini. Cek tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol secara teratur untuk memastikan kondisi tubuh tetap dalam batas normal.

8. Kelola Stres dan Emosi

Saat seseorang mengalami emosi yang sangat kuat, tubuh menghasilkan lebih banyak hormon epinefrin. Hormon ini dapat menyebabkan tekanan darah meningkat, yang bisa berisiko menyebabkan hipertensi—salah satu faktor pemicu stroke.

Karena itu, jika sedang merasa emosional, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam agar tubuh lebih tenang. Cobalah teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau sekadar mendengarkan musik untuk menjaga kesehatan mental.

Stroke bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja. Namun, dengan pola hidup sehat dan deteksi dini, risiko stroke dapat diminimalkan.

Mulailah dengan mengatur pola makan, berolahraga secara rutin, dan menghindari kebiasaan buruk seperti merokok. Selain itu, penting untuk mengenali tanda-tanda stroke agar dapat segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.