Junta militer Myanmar mengumumkan gencatan senjata sementara karena jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat meningkat. Pengumuman gencatan senjata dilakukan saat korban yang sudah putus asa memohon lebih banyak bantuan.
Dilansir AFP, Kamis (3/4/2025), gempa bumi dangkal dengan magnitudo (M) 7,7 yang terjadi Jumat (28/3) telah meratakan bangunan hampir di seluruh Myanmar. Kerusakan akibat gempa telah menewaskan hampir 3.000 orang dan membuat ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.
Pemerintah militer mengatakan akan memberlakukan gencatan senjata mulai Rabu (2/4) hingga 22 April untuk mempermudah upaya bantuan pascagempa. Pengumuman itu disampaikan setelah kelompok bersenjata yang terlibat dalam perang saudara berdarah selama 4 tahun di Myanmar memberikan janji serupa.
Kelompok hak asasi manusia dan beberapa pemerintah asing sebelumnya mengecam junta militer karena terus melakukan serangan udara bahkan ketika negara itu bergulat dengan dampak gempa. Junta militer mengatakan gencatan senjata itu 'bertujuan untuk mempercepat upaya bantuan dan rekonstruksi, serta menjaga perdamaian dan stabilitas'.
Namun, mereka memperingatkan para penentangnya yang merupakan kelompok bersenjata pro-demokrasi dan etnis minoritas bahwa serangan bersenjata, tindakan sabotase atau pengumpulan, pengorganisasian, serta perluasan wilayah yang akan merusak perdamaian bakal ditanggapi oleh militer. Junta juga mengatakan Min Aung Hlaing akan melakukan perjalanan ke Bangkok untuk menghadiri pertemuan puncak negara-negara Asia Selatan ditambah Myanmar dan Thailand di mana ia akan membahas tanggapan terhadap gempa.
Ini adalah perjalanan luar negeri yang langka bagi pemimpin Myanmar. Situasi ini juga menunjukkan perubahan kebijakan regional yang selama ini tidak mengundang para pemimpin junta ke acara-acara besar setelah kudeta 2021.
Situasi di Myanmar sendiri semakin parah. Ratusan orang yang putus asa berebut untuk mendapatkan bantuan makanan di Sagaing, kota yang paling dekat dengan episentrum gempa bumi, dengan beberapa orang berlarian di tengah jalan.
Relawan tampak membagikan air, beras, minyak goreng, dan perlengkapan dasar lainnya kepada penduduk yang meminta bantuan. Warga mengaku khawatir tak mendapat makanan.
"Saya belum pernah mengantre untuk mendapatkan makanan seperti ini sebelumnya. Saya tidak bisa mengungkapkan betapa khawatirnya saya. Saya tidak tahu harus berkata apa," kata seorang warga, Cho Cho Mar (35) sambil menggendong bayinya dan menggenggam bungkus kopi instan serta obat nyamuk.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan satu dari tiga rumah di Sagaing telah runtuh. Sementara, penduduk setempat mengeluhkan kurangnya bantuan selama 5 hari usai gempa.
Aye Thi Kar (63), seorang kepala sekolah untuk biarawati, mengatakan persediaan makanan menipis. Tetapi, dia mengatakan tempat berteduh merupakan prioritas yang lebih besar bersama dengan kelambu untuk mengusir nyamuk di tengah teriknya panas tropis.
Banyak orang telah tidur di jalanan sejak gempa terjadi karena tidak dapat kembali ke bangunan yang rusak atau takut akan gempa susulan.
"Saat ini kami membutuhkan atap dan dinding untuk mendapatkan tempat berteduh yang layak untuk malam ini. Kami juga membutuhkan kelambu dan selimut untuk tidur, karena kami tidak ingin tidur langsung di tanah," ujarnya.
Fasilitas perawatan kesehatan yang rusak akibat gempa dan kapasitasnya terbatas juga terus kewalahan menampung banyaknya pasien. Sementara, persediaan makanan, air, dan obat-obatan terus menipis.
Harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat juga semakin memudar, tetapi ada saat-saat gembira pada Rabu (2/4) ketika dua orang berhasil diselamatkan dari reruntuhan sebuah hotel di ibu kota Naypyidaw. Junta mengatakan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 2.886 dengan lebih dari 4.600 orang terluka dan 373 orang masih hilang.