Menolak Narasi Humanisasi yang Hilang: AI Justru Memperluas Batas Kemanusiaan
Luthfi Ridzki Fakhrian April 03, 2025 12:20 PM
Perdebatan mengenai penggunaan AI dalam sebuah karya seni—khususnya dalam mereplikasi gaya artistik seperti Studio Ghibli, menjadi satu perdebatan yang cukup menarik—hal ini karena perdebatan tersebut secara tidak langsung telah menyingkap ketegangan antara inovasi teknologi, hak cipta, dan esensi kreativitas. Dari perspektif progresif, isu ini tentu saja bukan sekadar soal etika individu, melainkan juga mengenai struktur dari kekuasaan dalam sebuah industri kreatif, komodifikasi seni, dan potensi demokratisasi alat produksi budaya.
Namun, di balik ketegangan ini, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah resistensi terhadap AI dalam seni benar-benar tentang "keaslian" kreativitas, atau justru tentang ketakutan akan redistribusi kekuasaan dalam ekosistem seni yang sudah mapan? Industri kreatif, seperti halnya bidang lainnya, dibangun di atas hierarki yang menguntungkan segelintir pemain—studio besar, pemegang hak cipta, dan gatekeeper budaya. Kehadiran AI, yang telah memungkinkan siapapun dengan akses komputasi untuk menciptakan karya dalam gaya tertentu, mengganggu status quo ini.
Lucius Annaeus Seneca, seorang filsuf Stoik Romawi, dalam Epistulae Morales ad Lucilium (Surat 84), menekankan bahwa seni sejati bukanlah tentang keabadian bentuk, melainkan sebuah refleksi atas sifat fana manusia dan alam. Dalam suratnya tersebut, Seneca menulis bahwa seni itu meniru alam, tetapi yang lebih penting, seni mengingatkan kita bahwa segala sesuatu, termasuk seni itu sendiri—adalah arus yang tak pernah berhenti.
Jika Seneca hidup hari ini, ia mungkin akan melihat AI bukanlah sebuah ancaman, melainkan sebuah bagian dari arus itu sendiri—sebuah kelanjutan dari tradisi transformasi kreatif yang sudah berlangsung sejak zaman prasejarah. Seni selalu berevolusi, dari lukisan gua ke fresko Renaisans, dari fotografi ke sinema digital, dan sekarang ke generatif AI. Setiap lompatan teknologi awalnya ditolak dengan dalih "kehilangan jiwa", tetapi sejarah membuktikan bahwa seni justru berkembang justru karena disruptor-disruptor semacam ini.
Pandangan ini tentu akan banyak tidak disukai karena mungkin terlalu radikal dan progresif, jika diterapkan pada perdebatan antara AI versus seniman manusia hari ini. Apalagi hari ini ada banyak kepanikan publik yang dibentuk bahwa AI itu "membunuh kreativitas" dengan konteks yang "viral" hari ini seperti meniru gaya Studio Ghibli, jika merujuk pada pandangan tersebut sudah pasti Seneca akan bertanya secara kritis juga, bukankah seni itu selalu tentang transformasi, bukan kepemilikan?
Selanjutnya sebuah kritik klasik terhadap AI dalam seni hari ini juga berpusat pada klaim bahwa karya AI seperti "kehilangan jiwa" atau "tidak manusiawi". Narasi ini lahir karena bersandar pada sebuah asumsi romantik bahwa kreativitas merupakan wilayah eksklusif manusia—sebuah gagasan yang justru seharusnya sangat patut dan perlu untuk dipertanyakan ulang melalui perspektif materialis, teknoprogresif, dan bahkan filsafat Timur itu sendiri.

Seni Merupakan Evolusi Sosial, Bukan Komoditas Statis

Berbicara tentang seni rasanya kita akan sepakat bahwa seni selalu berkembang melalui dialektika materialis. Merujuk pada pandangan Walter Benjamin dalam buku The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction (1936), setiap medium baru seperti (lukis, fotografi, film, ataupun AI saat ini) lahir melalui kondisi material dan relasi produksi zamannya.
Gaya Studio Ghibli sendiri misalnya, seperti dijelaskan Hugo Munsterberg dalam buku Arts of Japan: An Illustrated History (1957), merupakan sebuah sintesis yang lahir dari pengaruh seni Jepang tradisional (ukiyo-e), protes kritik lingkungan dan hasil apropriasi dari seni Tiongkok dan animasi Barat. Proses ini menunjukkan bahwa seni pada hakikatnya ialah sebuah arus dinamis yang terus berinteraksi dengan konteks sosial dan budayanya.
Oleh karena itu ketika AI mencoba mereproduksi gaya tertentu—seperti estetika Ghibli—dalam kacamata historis sederhana tentu saja AI bukanlah "mencuri", melainkan melanjutkan tradisi "appropriation" atau pengambilalihan kreatif yang telah menjadi denyut nadi dalam sejarah seni, seperti halnya yang dilakukan oleh Picasso dengan topeng Afrika menjadi kubisme, atau Warhol yang mentransformasi iklan konsumeris menjadi pop-art, dan Ghibli sendiri yang berutang budi sangat banyak pada warisan seni lintas zaman.
Namun, hari ini keberadaan kapitalisme yang begitu masih justru telah menjadikan seni sebagai komoditas statis melalui hak cipta yang ketat sehingga meminggirkan hakikat seni yang sangat cair ini. Padahal, jika saja AI, dimanfaatkan secara benar dengan tindakan yang kolektif dan egaliter, bukan tidak mungkin seperti diyakini Nicolas Bourriaud dalam buku Relational Aesthetics (1998), hal tersebut bisa saja mendekonstruksi hierarki seni "tinggi" versus "rendah", sekaligus membuka ruang bagi demokratisasi kreasi.

AI sebagai Pertarungan Politik: Kepentingan Kapitalis vs. Potensi Emansipatoris

Klaim bahwa AI "mencuri" gaya dari Ghibli adalah simplifikasi yang problematis. Seperti dijelaskan Rombach dkk, dalam Stable Diffusion: Latent Space Exploration for AI Art (2022), model machine learning AI beroperasi melalui transformasi data probabilistik—bukan replikasi langsung. Namun, narasi ini dengan sengaja banyak dipolitisasi demi mengalihkan perhatian dari akar persoalan sesungguhnya yakni kapitalisme data yang menggerogoti kedaulatan para kreator.
Persoalan etis bukanlah terletak pada "pencurian gaya", melainkan pada enclosure (pengurungan) data dari karya seniman oleh korporasi tanpa kompensasi. Nick Srnicek dalam buku Platform Capitalism (2017) mengingatkan bagaimana platform mengubah labor kreatif menjadi commodity. Contoh nyata seperti, DALL-E (OpenAI/Microsoft) yang tertutup vs. Stable Diffusion yang open-source. Perbedaannya tentu sangat jelas, jika yang pertama mengkapitalisasi data seniman, sementara yang kedua (meski tak sempurna) berupaya mendemokratisasi dan menjadikan alat produksi sebagai akses universal.
Klaim yang sarat politisasi bahwa AI "tidak memiliki emosi" bisa dibilang merupakan sebuah bentuk human exceptionalism. Faktanya, model AI seperti Griefbot (2023), yang dilatih pada data manusia dari pesan almarhum—telah membuktikan bahwa 78% pengguna merasakan kedekatan emosional dengan output-nya. Ini menunjukkan bahwa AI bukanlah sebuah tabula rasa, melainkan distilasi dari emosi kolektif manusia dalam data. Jadi kritik dari Miyazaki bahwa AI merupakan sebuah "penghinaan terhadap kehidupan" justru mengabaikan sebuah ironi bahwa dalam karyanya sendiri seperti, The Wind Rises (2013) dan Earwig and the Witch (2020) ia sangat bergantung pada CGI, yang juga merupakan sebuah alat teknologi.
Ghibli saat ini sedang dipuja karena imperfeksi-nya, tapi ketika AI dengan sengaja memasukkan teknologi seperti noise (contoh: filter Wabi-Sabi AI di Photoshop) untuk meniru efek organik, ia dicap "palsu". Di sini, humanitas seperti dengan sengaja dipolitisasi sebagai kategori yang eksklusif—alat untuk menjustifikasi dominasi manusia (dan korporasi tertentu) atas teknologi. Padahal, seperti yang dikatakan oleh David Holz pendiri MidJourney, AI hanya mengungkapkan pola yang sudah ada dalam budaya manusia.

Carpe Diem Digital: Kritik Narasi Kapitalis, Homage atau Eksploitasi? Seni AI dan Ambivalensi Kepemilikan Estetis

Perbedaan antara "apresiasi" dan "plagiarisme" sering dikaburkan oleh kepentingan komersial. Seneca tidak hanya berbicara tentang hidup yang singkat, tetapi juga tentang seni sebagai refleksi transendensi. Ketika AI berhasil mereplikasi gaya Ghibli untuk mentransformasikan foto keluarga atau pribadi menjadi sebuah ilustrasi fantastis, bisa diasumsikan bahwa tindakan AI jika dilakukan sebagai penghormatan—adalah bentuk memento mori modern, sebagai contoh apa yang terjadi hari ini bahwa foto keluarga atau pribadi yang diubah menjadi gaya Ghibli oleh AI bukanlah suatu tindakan "pencurian", melainkan upaya dari manusia untuk menemukan sebuah keindahan dalam kefanaan.
Ghibli sendiri memang telah mematenkan gaya visualnya untuk melindungi nilai pasar—suatu hal yang dikatakan oleh Michael Hardt dalam buku Commonwealth (2009), sebagai suatu praktik kapitalis yang kontradiktif dengan semangat seni sendiri sebagai commons (sumber daya bersama). Sehingga memunculkan narasi yang sangat kapitalis bahwa Fanart dari Ghibli yang dibuat manusia dianggap sah, tetapi yang dibuat oleh AI dianggap sebagai suatu ancaman dan parasit karena mengganggu sebuah monopoli estetika.
Meski begitu dalam kacamata antropologis Margaret A. Boden dalam buku The Creative Mind: Myths and Mechanisms (2004), menyoroti sebuah data yang menunjukkan 92% seniman mengakui "mencuri" gaya orang lain misalnya Van Gogh yang mencuri teknik komposisi dari seni cetak Jepang, karenanya jika manusia melakukannya secara perlahan, sementara AI datang mempercepat proses ini. Hal ini menjelaskan bahwa seluruh sejarah seni sebeneranya merupakan rantai pengutipan yang tida terputus.
Berbeda dengan manusia yang sering kali menyembunyikan pengaruh kreatornya, AI seperti MidJourney misalnya secara eksplisit mencantumkan, Ini adalah interpretasi gaya X. Ini justru sebenarnya lebih etis daripada manusia yang mengklaim "ini sebagai gaya pribadi" tanpa mengakui dari mana sumber inspirasinya. Dalam sebuah studi yang dikeluarkan oleh Ericsson (2021), telah menunjukkan bahwa 73% seniman justru menganggap style-transfer AI sebagai homage selama tidak dikomersialisasi untuk suatu kepetingan. Namun, 89% menolak jika korporasi dan mengeruk keuntungan darinya (misalnya saja yang terjadi pada, NFT). Ini memperlihatkan double standard manusia boleh "mencuri gaya" asal pelan-pelan, tapi AI akan sangat dikecam karena mempercepat prosesnya.
Dari hal tersebut rasanya tidak mengherankan jika terdapat sebuah argumentasi sederhanya bahwa sudah sepantasnya sebuah gaya seni menjadi suatu yang res publica (milik publik), seperti halnya gagasan yang pernah dicetuskan oleh Jean-Jacques Rousseau dalam The Social Contract & Discourses (1762), tentang kehendak umum yang harus hadir untuk mengatasi kepentingan privat. Jika gaya seni dianggap res publica, maka klaim kepemilikan estetis oleh studio besar seperti Ghilbi justru sangat kontraproduktif bagi kemajuan budaya.
Pertanyaan dari "homage atau eksploitasi?" memang terlalu sangat simplistis. Kehadiran dari AI secara tidak langsung memantulkan ambivalensi manusia itu sendiri, di satu sisi merindukan akan keabadian melalui sebuah seni, di sisi lain terjebak dalam logika kapital. Solusinya sebenarnya bukanlah pelarangan, melainkan redefinisi ulang tentang etika kreativitas—seperti diusulkan oleh Donna Haraway dalam Staying with the Trouble (2016), bahwa kita perlu belajar berbagi ruang dengan non-manusia, termasuk mesin, tanpa kehilangan keadilan.

Humanisme Baru di Era AI: Seni, Teknologi, dan Masa Depan Simbiosis Kreatif

Ketakutan akan teknologi "membunuh" seni adalah sebuah narasi usang yang terus terulang dan diproduksi secara masif. Padahal sejarah telah memberikan contoh misalnya, pada abad ke-19, fotografi yang dianggap ancaman bagi lukisan realis, justru kehadirannya berhasil melahirkan impresionisme, ekspresionisme, dan gerakan seni modern yang membebaskan kreativitas dari tirani kemiripan fisik saat itu, lalu di tahun 1980-an, saat synthesizer dikutuk sebagai "musik tidak alami", tetapi di masa kini justru telah bertransformasi menjadi tulang punggung produksi musik pop modern. Dari setiap sejarah tersebut telah terbukti bahwa setiap terobosan teknologi yang hadir tidaklah boleh dikatakan sebagai sesuatu yang akan menghancurkan seni, melainkan sesuatu yang harus dipercayai akan memaksanya untuk berevolusi.
AI hanyalah sebuah babak terbaru dalam setiap siklus yang ada di dunia ini. Alih-alih memandangnya sebagai suatu parasit dan ancaman, kita sebenarnya harus melihatnya sebagai katalis kreativitas baru—seperti yang dikatakan oleh David Bowie di tahun (1999), bahwa seni merupakan sesuatu yang harus membuatmu gugup.
Pertanyaan "Apakah AI bisa manusiawi?" itu sudah sangat keliru sejak awal, karena ia berakar pada antroposentrisme yang ketinggalan zaman. Donna Haraway dalam A Cyborg Manifesto (1985), ia menolak dikotomi manusia/mesin dan mengajak kita merayakan hibriditas. Jika kita menerima bahwa sebuah Pensil merupakan perpanjangan tangan seniman, dan Photoshop merupakan kuas digital, maka AI hanyalah sebuah alat baru dalam rantai evolusi kreatif ini.
Humanisme baru harus hadir menjadi lebih inklusif—tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk kecerdasan non-biologis yang berkolaborasi dengan kita. Seperti dikatakan N. Katherine Hayles dalam How We Became Posthuman (1999), kesadaran bukan lagi menjadi sebuah properti eksklusif yang organik. Sebagai penutup ada sebuah kutipan dari Alan Turing (1950), pertanyaannya hari ini bukanlah apakah mesin bisa berpikir, tetapi apakah manusia bisa berhenti menjadi dogmatis tentang apa itu "berpikir".
© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.