RI Kena Tarif Impor AS 32 Persen, Eksportir Lirik Pasar Afrika
kumparanBISNIS April 03, 2025 12:40 PM
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderang perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS, lebih cepat dari jadwal sebelumnya pada Kamis (3/4) pagi. Dia menyebutnya sebagai 'Hari Pembebasan' atau 'Liberation Day'.
Nama negara yang pertama disebut Trump adalah China yang dikenakan tarif impor atau tarif imbal balik (resiprokal) 34 persen.
Indonesia juga tidak luput dari target Trump. Dalam daftar yang dipegang Trump dalam konferensi pers, Indonesia kena tarif impor 32 persen.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, melirik peluang pasar negara-negara di benua Afrika yang sedang tumbuh dan potensial.
⁠"GPEI melihat pasar Afrika yang sedang tumbuh sebagai pasar masa depan," kata Benny kepada kumparan, Kamis (3/4).
Menurut Benny, eksportir RI mesti mempersiapkan diri menghadapi tarif impor baru yang 'diganyang' AS. Pasalnya, eksportir hanya mengekspor barangnya berdasarkan free on board alias pembeli yang akan membayar freight dan bea masuk ke negara Paman Sam itu.
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Long Beach, California, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Frederic J. Brown/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Long Beach, California, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Frederic J. Brown/AFP
Kata dia, tarif baru AS ini takkan mempengaruhi daya saing harga produk RI di pasar AS. Sebab, kebijakan tarif impor AS untuk China (34 persen) dan Vietnam (46 persen) lebih tinggi.
"Maka kıta malah memiliki daya saing terhadap kedua negara tersebut dan diversifikasi tujuan ekspor selalu dilakukan untuk menjaga tidak tergantung pasar tujuan USA," lanjutnya.
Benny meminta pemerintah melakukan diplomasi dagang untuk memberikan kemudahan dari AS ihwal kebijakan tarif impor ini. Misalnya seperti General Special Preference (GSP) terhadap produk manufaktur dan UMKM RI.
Dari sisi ekspor Crude Palm Oil (CPO), GPEI memprediksi ada perubahan volume ekspor setelah kebijakan impor 32 persen ke RI. Dalam arti, negara tetangga Malaysia bakal mengambil alih dan memanfaatkan posisi tersebut, karena tarif impor AS untuk Malaysia hanya 24 persen, salah satu yang terendah di Asia Tenggara.
"Pasar ekspor CPO sebaiknya konsentrasi ke Asia saja, China, India, Pakistan, Bangladesh, dan negara-negara lainnya," katanya.
© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.