Kecerdasan Buatan (AI): Kritik Seni dalam Demokrasi Estetika
Literasi Digital Indonesia April 03, 2025 01:20 PM
Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital, muncul kembali perdebatan lama yang belum juga usai: apakah sesuatu yang diciptakan melalui bantuan mesin digital (baca: komputer, Internet, AI, dll), dapat disebut sebagai sebuah karya seni? Apakah karya seni kontemporer yang dihasilkan oleh algoritma digital layak bersanding dengan lukisan cat minyak dari tangan seniman kawakan yang bisa merasakan lelah dengan 1001 pergulatan batinnya?
Pertanyaan di atas terpantik pada perdebatan dilematis ketika ChatGPT dapat menghasilkan gambar dalam berbagai karya seni termasuk ala animasi yang fenomenal.
Pertanyaan itu pun bukan sekadar soal teknis atau estetika ("estetika", KBBI: telaah dan bahasan tentang seni dan keindahan) belaka, namun juga menyangkut dialektika pengakuan hingga dinamika kelas dalam keseharian. Mencoba membaca kesana dan kemari, mendaratlah peramban (browser) saya pada laman tentang pendapat Immanuel Kant dalam bukunya (1790). Menurutnya, karya seni sejatinya mesti diukur dari "purposefulness without purpose", yaitu perannya dalam menghasilkan keharmonisan dialektika batiniah antara logika dan selera tanpa harus melayani fungsi tertentu lainnya
Konsep ini sangat penting dalam estetika Kant karena menjadi dasar bagi penilaian selera (judgment of taste), ketika sesuatu dianggap indah bukan karena ia berguna atau fungsional, tetapi karena ia mampu memanjakan kognitif ("kognitif", KBBI: kegiatan mental seperti berpikir, memahami, dan mengingat, berdasarkan pengetahuan faktual dan empiris) kita. Artinya, seni lebih merupakan pengalaman subjektif, yang tak selalu bisa dijelaskan secara rasional.
Maka, kritiknya adalah, siapa kita yang kemudian merasa lebih berhak membatasi sebuah seni sebagai sebuah karya yang secara tunggal dilahirkan dari tangan manusia yang menggenggam alat pahat, kuas atau pena, lantas meng-anaktiri-kan hasil dari olahan tangan manusia lainnya yang menggunakan papan bidai (keyboard) dan tetikus (mouse) sebagai alat kerja kreatifnya?
Teknologi dan Refleksi Melankolis
Sejarah seni selalu ditandai oleh perubahan teknologi. Saat teknik kamera pertama kali ditemukan, hal tersebut meresahkan para pelukis. "," ujar Paul Delaroche, pelukis kenamaan Perancis pada tahun 1890, saat dirinya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri hasil dari , teknik fotografi pertama di dunia. Namun sejarah pun mencatat, fotografi pulalah yang kemudian mendorong adanya perkembangan dalam seni lukisan yang penuh tangkapan cahaya dan warna dalam momen sehari-hari secara subjektif.
Di era budaya pop, kegusaran tersebut dimanifestasikandalam bentuk sebuah lagu beken yang berjudul "" oleh The Buggels pada tahun 1979. Lagu tersebut adalah refleksi melankolis tentang bagaimana kemajuan teknologi (seakan) dapat menggantikan medium lama, mengubah cara manusia mencipta, merasakan, dan memaknai seni budaya.
"They took the credit for your second symphony. Rewritten by machine and new technology, and now I understand the problems you can see," demikian lirik lagu tersebut.
Perbesar
Kecerdasan Buatan (AI): Kritik Seni dan Demokrasi Estetika
Oh ya, jangan lupa, bahkan kita mulai mengubah cara kita memaknai silaturahim jarak jauh saat lebaran, natalan atau tahun baruan semisal. Alih-alih mengunakan tangan untuk menulis pesan di kartu ucapan, menempelkan perangko dan mengantarkannya ke kantor pos (masih ada lho!) atau , kini kita sudah dapat merasa lebih plong dengan mengirim (kopasan) sebaris dua baris pesan template via WhatsApp atau sosial media. Lumayanlah, kadang kiriman tersebut kita lampirkan kreasi seni digital secukupnya. Anekah meme, poster pun stiker digital kini bisa dengan instan dan dimudah dibuat menggunakan beragam aplikasi.
Perihal ucapan digital itu pun berawal sekian dekade silam, ketika adalah yang mula mendisrupsi karya seni lukisan indah kartu lebaran, baik yang berupa cetakan mesin ataupun lukisan tangan langsung. SMS pulalah yang salah satu mula pengikis teknologi djadoel macam telegram (bukan apps yaa) dan (pager). SMS pulalah yang kemudian memunculkan tantangan baru seperti penipuan, pembajakan token OTP (one time passsword), dan lainnya. Inilah yang dimaknai sebagai (teori). Soal ini, kita bicarakan di lain tulisan yaa.
Intinya, roda zaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih (maaf, kok tiba-tiba saya mengutip lirik lagunya ). Sekedar gambaran, pun ketika kamera digital mulai marak di Indonesia pada pertengahan 90-an, mendisrupsi sejumlah fotografer kawakan yang kala itu mencoba tetap keukeuh dan tekun dengan karya seni fotografi berbasis teknologi analog / manual. Namun, itu hanya soal pilihan, tho! And the rest is history...
Apalagi jika dilakukan perbandingan dengan kondisi sekarang, ketika nyaris semua gawai smartphone sudah dilengkapi dengan standar teknis yang luar biasa bak kamera profesional. Maka, akhirnya kita pun menjadi mafhum, ketika estetika dan keindahan dalam seni fotografi, yang walau subjektif namun universal, adalah bukan tentang alatnya. Karya seni foto berbasiskan pada keahlian sang juru foto yang diperolehnya dari ketekunan, dedikasi dan pengalaman yang tentu tak instan.
Perubahan-perubahan lantaran teknologi baru memang tidak dapat dielakkan. Sesederhana ungkapan, "if you can't beat them, join them".
-
AI Hadir dan (Mampu) Mencipta?
Kini, AI hadir dengan kemampuan baru: bukan hanya mengkopi, tapi juga "mencipta". Mencipta? Ya, robot humanoid seperti mampu menghasilkan sebuah karya seni lukisan yang berjudul "" dan berhasil terjual pada sebuah lelang amal. Sophia pun beberapa kali berkolaborasi dengan sejumlah seniman kenamaan, yang tentunya adalah manusia, dalam menghasilkan sejumlah karya seni. Di level yang sederhana, kini Midjourney, DALL·E dan ChatGPT mampu menghasilkan karya seni visual (termasuk lukisan, kartun, mangga) dari teks prompt di gawai yang digunakan setiap hari oleh kebanyakan orang.
Hingga kini tak sedikit seniman yang melakukan "perlawanan" terhadap AI, menggunakan kritikan tajam dan pedas, yaitu sebagai hal yang tidak otentik karena “imajinasi tanpa jiwa” dan sekadar "kalkulasi (algoritma) kering”. Sebutlah yang belum lama berselang, Balai Lelang Christie dibanjiri yang menandatangani petisi untuk membatalkan di balai lelang kenamaan tersebut.
"Many of the artworks you plan to auction were created using AI models that are known to be trained on copyrighted work without a license," demikian salah satu bagian dari isi surat petisi tersebut. Adapun pihak Christie sendiri menyatakan bahwa, "AI art is any form of art that has been created or enhanced with AI tools, many artists use the term ‘collaboration’ when describing their process with AI".
Marshall McLuhan pernah menegaskan satu kalimat pendek (namun panjang makna) yang sangat populer, yaitu “," melalui bukunya Understanding Media: The Extensions of Man yang terbit pada tahun 1964. Menurutnya, alat bukan hanya sarana, tetapi bagian dari makna itu sendiri. "Technology as extention of the human body," pertegasnya lagi dalam buku yang sama. Kutipan ini menggarisbawahi pandangannya bahwa setiap teknologi adalah perpanjangan dari kemampuan tubuh manusia, baik secara fisik maupun psikis.
Berefleksi pada pendapatnya, maka karya seni yang dibuat dengan atau oleh AI bukanlah sekadar produk, tapi juga pernyataan tentang hubungan manusia dengan mesin, dialektika tentang batas-batas kreativitas, dan diskursus tentang masa depan kebudayaan itu sendiri
Ketika AI (pun robot), sebagaimana teknologi lainnya, hanyalah ekstensi dari panca indra dan pikiran manusia, juga karena kalkulasi logik dan imajinasi estetik adalah yang hingga kini masih kita anggap sebagai supremasi umat manusia, maka pernyataan bahwa hasil karya seni AI adalah "tanpa jiwa dan kering", sejatinya menunjuk hidung sang penciptanya itu sendiri, yaitu manusia. Duh!
-
Seniman vs AI? Demokrasi Estetika!
Dalam pemahaman penulis yang sangat awam dan alakadarnya, nilai "orisinalitas" sebuah karya (apapun itu) bukan lagi sekadar sebagai “yang pertama ada”, tetapi lebih pada hakikat tentang kemampuan manusia mengolah gagasan, memprosesnya menjadi sesuatu yang konkrit, dan kemudian memiliki kontekstualitas (yang bisa jadi subjektif, namun universal).
Dalam konteks ini, penting untuk mengingat bahwa orisinalitas tidak mati karena teknologi AI. Perdebatannya bukan di situ, karena justru yang lebih genting adalah soal penghormatan terhadap integritas dan dedikasi dalam mewujudkan sebuah gagasan menjadi karya seni yang dapat dinikmati oleh orang lain. Memang betul, penggunaan AI yang hanya meniru (kloning) suatu karya seni tanpa mendapatkan izin dan/atau memberi kredit (pengakuan) pada senimannya, adalah problematik.
Namun ini bukan soal “Seniman versus AI”, melainkan soal etika digital dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Pastinya, ini adalah perangnya siapapun kepada mereka yang berkehendak mengekslotasi AI untuk penguasaan arena dan modal bagi kepentingan segelintir pihak.
Sama halnya manusia dengan teknologi apapun, AI bisa digunakan secara kreatif maupun secara oportunistik. Dalam perkembangan pesat inovasi digital, yang kita butuhkan bukan "penghakiman" yang mematikan semangat ekplorasi dan inovasi khalayak, tapi kerangka tata kelola yang ajeg dan kesadaran publik yang memadai.
Satu hal yang sering luput dari pembicaraan warganet terkait penggunaan teknologi digital, termasuk AI, adalah dimungkinkannya demokratisasi estetika.Orang-orang yang tak punya akses memadai ke museum atau sekolah seni serta tak punya kapasitas untuk menyambangi diskusi dan eksibisi kebudayaan, tak bisa berlangganan ke Netflix atau perpustakaan berkualitas, kini bisa bereksperimen dan mengeksplorasi estetika karya seni melalui platform digital.
Karya seni kini bisa dipelajari (walau alakadarnya dahulu, tak mengapa), diolah dan dinikmati dari bilik sempit di perkampungan ataupun oleh pemuda putus sekolah yang sedang luntang-lantung mencari pekerjaan di ibukota.
Olahan AI ala rakyat jelata ("rakyat jelata", KBBI: bukan bangsawan atau hartawan, rakyat / orang biasa) tersebut tentu saja dapat dengan mudah dianggap "tidak indah" atau "tidak berkelas". Ingatlah, menurut Kant, keindahan adalah bersifat subyektif dan juga universal. Lalu ketika kita menggunakan kategori "berkelas" tersebut, bukankah sama saja dengan melihat sesuatu berdasarkan strata / kasta "kelas (sosial)", yang lantas mencederasi azas universalitas itu sendiri?
Mungkin universalitas juga perlu ada batas atau standarnya, agar tidak terlalu subyektif seleranya. Pun ini agar mudah ditera, dikurasi, dipelajari dan di-diskusi publik-kan secara lebih luas. Namun, siapa yang berhak menentukan standar tersebut? Merekakah kaum borjuis, cendikiawan kampus atau "elit seni" tertentu?
-
Keberagaman Seni Digital Lintas Kelas
Pierre Bourdieu dalam: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979) menyatakan bahwa selera bukanlah sesuatu yang netral atau alamiah, melainkan merupakan hasil konstruksi sosial. Apa yang dianggap “berkelas”, "indah" atau “bernilai seni tinggi” sangat dipengaruhi oleh posisi sosial seseorang dalam masyarakat. Dalam logika ini, kecaman terhadap seni berbasis AI bisa jadi bukan murni soal estetika, melainkan mekanisme eksklusi, upaya mempertahankan dominasi simbolik kalangan elit seni terhadap bentuk-bentuk ekspresi baru yang dianggap “mengganggu tatanan”.
Kebudayaan (dan seni) menurut Bourdieu, adalah arena pertarungan (field of struggle), di mana para aktor (pelaku) saling bersaing, termasuk untuk menentukan definisi standar tentang seni dan siapa yang berhak disebut seniman. Maka, ketika seniman digital atau AI-generated art dimarjinalkan sebagai “tidak berkelas”, kita perlu bertanya: siapa yang mendefinisikan "kelas" tersebut? Dan untuk kepentingan siapa.
Padahal sebagaimana karya seni manusia: ada yang dipajang anggun di , ada yang dijajakan di pasar seni, dan ada pula yang diobral di trotoar berdebu. Demikian pula dengan seni digital hasil olahan AI, ada yang "alakadarnya", ada pula yang menggugah kesadaran kolektif. Ada yang generik ala template, ada pula yang mengubah cara kita memaknai dan merawat dunia.
Karya seni, termasuk dalam format digital dan yang diproduksi oleh AI, pada akhirnya adalah sebentuk medium ekspresi yang dikomunikasikan untuk memantik respon khalayak. Ia menjembatani rasa, membuka tafsir, dan menciptakan ruang bagi pertemuan gagasan-gagasan baru. Tidak semua orang menyukai bentuk yang sama, dan itu tak mengapa. Karena karya seni adalah soal selera, bukan dogmatis.
Maka mencoba menjawab pertanyaan pada paragraf pembuka tulisan ini, apakah sesuatu yang diciptakan melalui AI dapat dikatakan sebagai karya seni? Saya akan menjawab, "Ya!". Karena komputer dan AI hanyalah alat, sebagaimana kuas dan kanvasnya, mesin tik dan selembar kertas, alat pahat dan seonggok batu / kayu, panggung dan tata-cahayanya, juga kamera dan film camera / sd-card. Tidak akan jadi apa-apa, jika manusianya tidak berjiwa seni yang mampu mewujudkan ide / gagasan menjadi sebuah lukisan, sastra, ukiran, foto, tarian dan keindahan lainnya.
Apakah karya seni kontemporer ala AI layak bersanding dengan karya seniman kawakan yang menggunakan teknik konvensional / tradisional dalam berkarya? Jawabanya, bisa "ya", bisa juga "mungkin". "Mungkin", karena tentu tetap ada pro-kontra. Silakan baca kembali pemikiran Bourdieu terkait , termasuk yang tentunya mungkin terjadi pula di komunitas seni (seniman).
"Ya", karena memang sedang dan terus ada sejumlah upaya-upaya progresif yang dilakukan untuk mengangkat karya seni AI ke posisi yang lebih tinggi. Sebutlah Mori Art Museum di Tokyo yang menggelar eksibisi bertajuk , National Gallery di London yang punya gelaran , dan segera dibuka di Los Angeles, sebuah Museum of AI Arts pertama di dunia yang menggumandangkan tajuk, "where human imagination meets the creative potential of machines".
Maka, tetaplah semangat menjadi seniman digital yang kreatif dan produktif dalam menghasilkan karya seni digital, termasuk menggunakan AI. Mari rayakan keanekaragaman medium ekspresi, tanpa kehilangan hormat pada nilai-nilai dasar seni: orisinalitas, dedikasi, etika dan terutama hak atas kekayaan intelektual (HaKI). Biarkan ranah maya dan seni (digital) tetap menjadi ruang yang inklusif, tempat manusia dan teknologi saling bertemu, bukan untuk saling menggantikan, tetapi untuk saling memperkaya harkat manusia dan martabat kemanusiaan.
-
Penulis: Donny Utoyo, Pemerhati Sosiologi Digital dan Pegiat Literasi Digital pada ICT Watch () dan Gerakan Nasional Literasi Digital - Siberkreasi (). Dapat dihubungi melalui .