TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Anggota Komisi XIII DPR RI, Drs. Rapidin Simbolon, MM, meninjau langsung kondisi jalan Ring Road Samosir yang putus total akibat longsor di Dusun III Sigarantung, Desa Hutaginjang, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Kamis (2/4/2025).
Jalan nasional yang menjadi akses utama warga ini ambruk total pada Selasa (1/4/2025) pagi, bahkan tak bisa lagi dilalui pejalan kaki.
Saat meninjau lokasi, Rapidin menyoroti kerusakan parah yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
"Sebagai wakil rakyat dari daerah ini, saya prihatin dan berkomitmen penuh untuk segera membawa persoalan ini ke tingkat pusat. Ini bukan hanya sekadar infrastruktur, ini menyangkut kehidupan warga, anak sekolah, dan petani. Saya akan segera bersurat kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Ketua Komisi V DPR RI agar tindakan cepat diambil," tegas Rapidin.
Rapidin menekankan bahwa jalan ini merupakan akses vital bagi masyarakat di Desa Parmonangan, Tanjungan, dan desa-desa lainnya.
Banyak anak sekolah yang harus ke Ambarita, serta petani yang mengandalkan jalan ini untuk aktivitas mereka.
Putusnya jalan ini telah melumpuhkan perekonomian warga dan menghambat sektor pariwisata yang menjadi andalan Samosir.
Dalam suratnya, Rapidin mengajukan permohonan perbaikan Jalan Nasional Lingkar Pulau Samosir yang longsor di Dusun III Hutaginjang, Sigarantung, Simanindo, Samosir, sejak 29 Maret 2025, menyebabkan akses terputus total.
Dalam surat yang dilayangkan kepada Menteri PUPR dan Komisi V DPR RI tersebut, Rapidin mengutarakan sejumlah dampak antara lain, 1) anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah tanpa solusi dari Pemda, (2) jalur produksi petani terganggu dengan waktu tempuh 10 kali lipat lebih lama, (3) tidak ada jalan alternatif, dan (4) akses ke destinasi wisata terputus.
Setelah menerima aspirasi masyarakat, Rapidin meninjau lokasi pada 3 April 2025 dan melampirkan bukti foto. Ia meminta Menteri Pekerjaan Umum segera memberikan solusi darurat agar masyarakat dapat beraktivitas kembali.
Ia juga menyoroti lambannya respons Pemkab Samosir dalam menangani masalah ini.
"Pemkab Samosir tidak boleh hanya menunggu! Mereka harus segera melaporkan ini ke Balai Jalan (BPJN) dan berkoordinasi untuk langkah darurat seperti membangun jalan sementara atau jembatan darurat. Jangan hanya diam melihat penderitaan warga!" serunya.
Rapidin juga menyinggung bahwa longsor ini bukan peristiwa mendadak. Jalan mulai amblas sejak Oktober 2024, dan meskipun telah dilakukan perbaikan, kondisinya justru semakin memburuk. Pada 26 Januari 2025, kerusakan bertambah parah hingga hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Akhirnya, pada 1 April 2025, jalan benar-benar putus total.
Tokoh masyarakat setempat, Ramli Situmorang dan Maslan Sitanggang, mengungkapkan keresahan mereka atas lambannya penanganan dari pihak terkait.
"Ini satu-satunya akses warga dari Kecamatan Simanindo ke Kecamatan Onan Runggu. Warga bergantung pada jalan ini untuk ke sekolah, ke ladang, dan beraktivitas sehari-hari. Kalau dibiarkan, dampaknya akan semakin parah," ujar Ramli yang akrab disapa Oppu Lovely.
Sementara itu, Maslan menambahkan bahwa setelah longsor pertama pada Oktober 2024, sempat ada pengerjaan, namun proyek tersebut terbengkalai tanpa kejelasan.
"Sejak 26 Januari 2025, jalan ini hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Pelaksana proyek pun menghilang, pengerjaan berhenti total. Pemkab Samosir hanya memberi imbauan tanpa solusi nyata," kritiknya.
Masyarakat berharap pemerintah segera bertindak sebelum dampaknya semakin meluas. Dengan kondisi jalan yang terputus total, kehidupan warga kian terpuruk. Rapidin menegaskan bahwa ia akan terus mengawal persoalan ini hingga ada solusi konkret dari pemerintah pusat.(Jun-tribun-medan.com).