Gadis Buleleng Tewas di AS, Melly Ungkap Cita-cita Saat Pulang ke Bali Jadi Pengendali Perusahaan
Eko Sutriyanto April 04, 2025 09:34 AM

TRIBUNNEWS.COM, BALI - Peristiwa kecelakaan persimpangan jalan St Claude dengan Jalan Sister, Kota New Orleans negara bagian Lousiana, Amerika Serikat (AS) pada Sabtu 29 Maret 2025 mengakibatkan Kadek Melly Mudiani menjadi korban. 

Perempuan asal Banjar Dinas Kanginan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, dikabarkan meninggal dunia di tempat. 

Kabar duka Kadek Melly telah sampai ke pihak keluarga.

Melly diketahui merupakan anak kedua dari pasangan Ketut Wandika (53) dan Komang Sudarmi (46). 

Bagaimana awal Melly bisa magang di Amerika Serikat? 

Wandika mengatakan, sejak awal pihaknya selaku orangtua tidak pernah membatasi anak-anaknya dalam meniti karier  termasuk keputusan Kadek Melly untuk bekerja ke luar negeri, itu merupakan inisiatif dan keinginannya sendiri. 

Pria 53 tahun itu mengungkapkan, saat kuliah di Denpasar, Melly sempat mendapat program pertukaran mahasiswa ke AS.

Pihak keluarga sempat berunding mengenai program ini. 

“Saya dan ibunya sempat berunding dan akhirnya mengizinkan, karena ini merupakan kesempatan namun program ini dibatalkan karena pada saat itu sedang Pandemi Covid 19,” ungkapnya saat ditemui di rumah duka, Kamis (3/4/2025).

Hingga setelah lulus, Melly sempat menjalani training di salah satu hotel di wilayah Kabupaten Badung dan karena dinilai ulet ia mendapat perhatian dari pihak manajemen hotel. 

Anak kedua dari tiga bersaudara ini bahkan dilarang berhenti dan akan direkrut menjadi karyawan tetap. 

“Sampai saat izin untuk berangkat (ke Amerika), dari HRD masih berharap agar Melly tetap di Indonesia. Karena dalam beberapa bulan ke depan sudah diangkat menjadi pegawai tetap apalagi sudah sempat nego gaji,” ungkapnya. 

Namun keinginan Melly sudah bulat.

Ia tetap ingin berangkat ke AS dan seluruh kebutuhan untuk keberangkatan sudah ia siapkan. 

Hingga akhirnya pada 27 November 2024, Melly terbang ke AS.

Di AS, Ia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan restoran. 

Melly juga sempat cerita ke keluarga bahwa dirinya nyaman dan betah. 

Ia sempat mengungkapkan 2 keinginan ke depan setelah kontrak kerjanya selama setahun habis. 

Mulai dari memperpanjang kontrak di AS atau pindah ke Australia untuk melanjutkan pendidikan perkuliahan sembari bekerja. 

“Kalau di Australia dia bisa kuliah sambil kerja.

Dia tidak ingin membebani orangtuanya lagi,” ujar Wandika. 

Wandika sempat mempertanyakan apa tujuan yang ingin digapai Melly. 

Melly mengaku jika dia tidak mungkin selamanya menjadi seorang imigran. 

“Melly ingin mengejar reputasi di negara migran. Mudah-mudahan di kampung halaman, dalam hal ini di Bali, dilirik pihak perusahaan sehingga tidak menjadi karyawan biasa. Minimal yang mengendalikan perusahaan itu. Seperti itu cita-citanya,” ungkap dia. 

Wandika mengaku terakhir kali komunikasi dengan Melly pada hari pengerupukan yakni Jumat 28 Maret 2025. 

Ketika itu Melly meminta dikirimkan video ogoh-ogoh di Desa Bontihing serta parade ogoh-ogoh di Denpasar. 

Kedua orang tuanya menyanggupi permintaan tersebut. 

Kemudian disambung dengan membicarakan ogoh-ogoh hingga pukul 21.30 Wita. 

Selanjutnya pada saat Nyepi, Melly sempat kembali menghubungi keluarga.

Namun karena jaringan internet pada saat itu mati, sehingga pihak keluarga baru menerima pemberitahuan panggilan keesokan harinya. Pihak keluarga berharap jenazah Melly bisa segera dipulangkan. Sehingga bisa dilangsungkan upacara pemakaman sesuai agama Hindu. 

Di sisi lain, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra segera mendatangi kediaman Melly usai mendengar kabar duka tersebut. Kedatangan Sutjidra untuk menyampaikan bela sungkawa serta memberikan santunan pada keluarga Melly.

Magang Setahun

Wandika mengungkapkan, Melly meninggalkan Indonesia pada 27 November 2024 lalu. 

Rencananya ia akan menjalani program magang selama setahun di Negeri Paman Sam itu. 

“Rencana setahun magang di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan restoran,” ujarnya.

RUMAH DUKA - Ayah Kadek Melly, Ketut Wandika (baju hijau) bercerita kepada Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra di rumah duka Kadek Melly Mudiani di Banjar Dinas Kanginan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Kamis (3/4).
RUMAH DUKA - Ayah Kadek Melly, Ketut Wandika (baju hijau) bercerita kepada Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra di rumah duka Kadek Melly Mudiani di Banjar Dinas Kanginan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Kamis (3/4). (TRIBUN BALI/ MUHAMMAD FREDEY MERCURY)
Sempat Tidak Percaya 

Mengenai kabar duka yang dialami Melly, Wandika mengaku awalnya dia dan keluarga tidak langsung percaya. 

Apalagi informasi yang beredar tidak disertai bukti seperti foto korban. 

Hingga akhirnya Wandika dihubungi oleh pihak agen keberangkatan. Kemudian ia disambungkan dengan pihak FBI dan pengacara Melly. 

Pada komunikasi itu, Wandika mengatakan jika peristiwa kecelakaan ini masih proses penyelidikan dan penyidikan. 

Ada 2 orang di dalam mobil itu, yakni Melly dan seorang temannya yang selamat. 

“Saat ini temannya masih di bawah penanganan FBI. Tidak boleh dijenguk siapapun, termasuk jenazah anak saya,” jelasnya.

Sebaliknya, Wandika hanya ditunjukkan identitas serta bukti berupa tas yang dibawa Melly saat peristiwa kecelakaan. 

Di dalam tas itu berisi paspor Melly, ATM, hingga beberapa lembar uang dolar tunai. 

Kepada awak media, Sutjidra mengatakan jika jenazah Melly sudah diautopsi dan FBI saat ini juga masih melakukan proses investigasi. 

Pihaknya berupaya melakukan komunikasi dengan Kedutaan Indonesia di AS untuk memastikan kepulangan jenazah Melly. 

“Pihak keluarga berharap jenazah korban bisa secepatnya dipulangkan dari Amerika, dan kami akan berupaya membantu keluarga korban,” tegasnya. (Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury)

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.