Suka Duka Mardi Berjualan Siomay di Tengah Aksi Demo: Ramai Pembeli, Tapi Selalu Was-was
Dodi Esvandi August 29, 2025 08:33 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi yang kerap memadati jalanan ibu kota, ada sosok Mardi (34), seorang pedagang siomay yang setia menggelar dagangannya di lokasi-lokasi aksi. 

Bagi Mardi, keramaian massa bukan hanya simbol perlawanan, tapi juga peluang untuk mengais rezeki.

"Kan kita dagang carinya keramaian. Kali aja orang-orang demo pada lapar," kata Mardi saat ditemui Tribunnews di depan Gedung Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (29/8/2025).

Namun, di balik potensi keuntungan itu, tersimpan rasa was-was yang tak pernah benar-benar hilang.

"Aksi rame sih, orang banyak. Tapi kita juga dagang sambil deg-degan," katanya. "Was-was juga. Kan kita juga manusia," imbuhnya. 

Mardi bercerita, pada Senin (25/8/2025) lalu, ia berjualan di sekitar Pintu 10 Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, saat demonstrasi berlangsung di depan Gedung DPR. 

Awalnya, suasana cukup kondusif. 

Namun, kericuhan tiba-tiba pecah dan merembet hingga ke tempat ia berdagang.

"Saya sempat kena gas air mata. Sesak, pusing. Saya mah enggak pakai odol-odol kayak yang lain. Tapi Alhamdulillah masih aman," katanya sambil tersenyum kecil.

Tak hanya sekali, Mardi juga mengalami situasi serupa saat aksi demo pada Kamis (28/8/2025). 

Saat itu, ia berjualan di depan Gedung Kemenpora, Senayan. 

Lagi-lagi, kericuhan pecah dan membuatnya harus berlari menyelamatkan diri.

"Chaos lagi. Sampai pintu 1 saya lari. Saya lari ke arah belakang Brimob. Untungnya kalau sama pedagang, Brimob enggak galak," kenangnya.

Meski penuh risiko, Mardi tetap bertahan. 

Ia mengaku, dalam satu hari aksi, pendapatan bersihnya bisa mencapai Rp200 ribu. 

Jumlah yang cukup, tapi jauh dari harapannya.

"Kalau demo kayak Hari Buruh dulu, bisa dapat Rp500 ribu lebih. Sekarang kayaknya rusuh terus, jadi orang enggak sempat jajan, pendapatan juga turun," ujarnya.

Bagi Mardi, berdagang di tengah demonstrasi adalah perjuangan tersendiri. 

Ia mencari nafkah di antara teriakan tuntutan, asap gas air mata, dan ketidakpastian. 

Tapi selama masih ada keramaian, ia akan tetap datang, membawa gerobak siomay dan harapan sederhana: pulang dengan rezeki yang cukup.

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.