Ringkasan Berita:
- Kasus HIV di Trenggalek hingga 20 Nov 2025 (85 kasus) turun dibanding 2024 (114 kasus).
- Mayoritas kasus terjadi pada usia produktif (20-59 tahun), dengan usia terbanyak bergeser (misal, 40-49 tahun di 2025).
- Penemuan dini dan terapi ARV sangat penting untuk menekan penularan, terutama mengingat adanya kasus stadium lanjut (Stadium 3 & 4).
- Pelanggan pekerja seks adalah kelompok risiko terbesar. Deteksi dini dilakukan pada ibu hamil dan di tempat hotspot (kafe/karaoke) melalui mobil klinik.
SURYA.co.id, TRENGGALEK - Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Trenggalek mencatat ada 85 kasus HIV sepanjang tahun 2025 hingga 20 November.
Jumlah tersebut turun dibandingkan tahun sebelumnya, yang mana jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) pada tahun 2024 tercatat sebanyak 114 orang.
"Dari data SIHA (Sistem Informasi HIV AIDS), jumlah ODHIV tahun 2024 ada 114 orang, sedangkan tahun 2025 hingga 20 November tercatat 85 orang. Secara umum trennya mengalami penurunan," kata Kepala Dinkes P2KB Trenggalek, Sunarto.
Distribusi usia para penderita HIV di Trenggalek juga menunjukkan pola yang sama dari tahun ke tahun, yakni mayoritas berada pada rentang usia produktif.
Pada 2024, kasus terbanyak berada pada kelompok usia 30-39 tahun (26 orang), 50-59 tahun (26 orang), dan 20-29 tahun (25 orang).
Sementara pada 2025, hingga November, kasus terbanyak tercatat pada usia 40-49 tahun (26 orang), disusul 30-39 tahun (20 orang), dan 50-59 tahun (20 orang).
Sunarto juga memaparkan kondisi klinis penderita HIV berdasarkan stadium penyakit.
Pada 2024, tercatat 9 orang masih dalam status HIV (belum masuk stadium AIDS), kemudian 40 orang berada di stadium 1, 33 orang di stadium 2, 30 orang di stadium 3, dan 2 orang sudah di stadium 4 atau kategori parah.
Untuk 2025, data menunjukkan 16 orang masih dalam status HIV, 27 orang berada di stadium 1, 8 orang di stadium 2, 32 orang di stadium 3, dan 2 orang di stadium 4.
"Semakin tinggi stadium, maka kondisi penderita semakin berat. Oleh sebab itu penemuan dini sangat penting," tegasnya.
Dari data faktor risiko, Sunarto menyebut bahwa kelompok yang terinfeksi paling banyak adalah pelanggan pekerja seks.
"Terdapat 24 orang yang teridentifikasi tertular melalui hubungan seksual berisiko dengan pekerja seks," ujarnya.
Untuk menekan penularan HIV, Dinkes P2KB Trenggalek melakukan deteksi dini melalui berbagai layanan.
Pemeriksaan HIV dilakukan pada ibu hamil, serta melalui mobil klinik yang menyasar titik-titik hotspot seperti kafe dan tempat karaoke.
"Dengan penemuan dini, kami bisa segera memberikan terapi antiretroviral (ARV). Tujuannya agar viral load turun dan tidak menularkan ke orang lain, termasuk mencegah penularan dari ibu ke bayi," pungkasnya.