Profil Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Legendaris yang Pernah Dipenjara oleh Belanda Gegara Ini
Siti M November 30, 2025 07:34 AM

Grid.ID - Profil Pramoedya Ananta Toer sebagai sastrawan legendaris Indonesia memang tak perlu diragukan lagi. Namun siapa sangka, di masa lalu Pramoedya Ananta Toer ternyata pernah dipenjara.

Yakni tatkala masih dalam masa dimana Indonesia kala itu di bawah penjajahan dari belanda.

Profil Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Legendaris Indonesia yang Tak Pernah Padam

Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai salah satu maestro sastra Indonesia sekaligus tokoh penting dalam Lekra. Lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925, Pram begitu ia akrab disapa tumbuh dari keluarga terpelajar.
Ayahnya, Imam Badjoeri, merupakan guru di Institut Boedi Utomo, sementara ibunya, Saidah, tercatat sebagai seorang penghulu di Rembang.

Pendidikan Awal dan Karier di Masa Pendudukan Jepang

Pram menempuh pendidikan dasar di sekolah tempat ayahnya mengajar, kemudian melanjutkan ke Sekolah Teknik Radio Surabaya pada 1940–1941. Pada masa pendudukan Jepang, ia bekerja sebagai tukang ketik di kantor berita Jepang, “Domei”, di Jakarta.

Di sela pekerjaannya, Pram masih sempat mengikuti pendidikan di Taman Siswa serta kursus stenografi sebelum akhirnya menempuh studi di Sekolah Tinggi Islam Jakarta pada 1945.

Terjun ke Dunia Militer

Tahun 1946, Pramoedya bergabung dalam latihan militer Tentara Keamanan Rakyat dan ditempatkan di Resimen 6 dengan pangkat letnan dua. Ia sempat bertugas di Cikampek sebelum kembali ke Jakarta pada 1947.

Penangkapan oleh Belanda

Pada 22 Juli 1947, Pram ditangkap oleh Belanda karena dituduh menyimpan dokumen pemberontakan. Ia dipenjara di Pulau Edam dan kemudian dipindahkan ke Bukit Duri hingga 1949. Selama masa tahanan, ia tetap produktif menulis berbagai cerita dan buku.

Kembali Berkarya dan Bergabung dengan Lekra

Usai bebas, Pram bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka (1950–1951) sebelum mendirikan “Literary and Fitures Agency Duta”. Ia juga sempat mengikuti pertukaran budaya di Belanda.

Sekembalinya ke tanah air, Pram bergabung dengan Lekra, organisasi kebudayaan berhaluan kiri. Pada 1958, ia dipercaya menjadi pimpinan pusat Lekra dan semakin dikenal luas sebagai intelektual progresif.

Karier Pram semakin melesat ketika ia diangkat sebagai dosen sastra di Universitas Res Publica tahun 1962, serta mengajar di Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai. Ia juga aktif sebagai redaktur majalah Lentera.

Penangkapan Pasca G30S dan Pembuangan ke Pulau Buru

Setelah peristiwa G30S/1965, pemerintah mengejar tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan PKI, termasuk anggota dan pimpinan Lekra. Pram ditangkap tanpa proses pengadilan dan dipenjara hingga 1969 sebelum dipindahkan ke Nusakambangan. Selanjutnya, ia diasingkan ke Pulau Buru dari 1969 hingga 1979.

Meski dibatasi dalam banyak hal, Pram tetap menulis secara diam-diam. Karya monumentalnya, Bumi Manusia, lahir dari masa pembuangan ini. Ia dibebaskan pada Desember 1979 setelah dinyatakan tidak terlibat dalam peristiwa G30S. Namun, ia masih menjalani tahanan rumah hingga 1992 dan tahanan kota sampai 1999.

Pramoedya menghabiskan hampir separuh hidupnya dalam tahanan. Meski demikian, namanya tetap bersinar sebagai sastrawan besar Indonesia hingga akhir hayatnya pada 2006.

Prestasi dan Penghargaan Pramoedya Ananta Toer

Hadiah Sastra Balai Pustaka – Perburuan (1950)
Hadiah Sastra BMKN – Cerita dari Blora(1952)

Freedom to Write Award – PEN American Centre (1980)
The Fund for Free Expression, New York (1992)
Stichting Wertheim Award, Belanda (1995)
Ramon Magsaysay Award, Filipina (1995)

Penghargaan Lain

UNESCO Madanjeet Singh Prize (1996)
Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres, Prancis (2000)

Daftar Karya Pramoedya Ananta Toer:

Sepuluh Kepala Nica (1946)
Kranji Bekasi (1947)
Perburuan (1950)
Keluarga Gerilya (1950)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
Bukan Pasar Malam (1951)
Di Tepi Kali Bekasi (1951)
Gulat di Jakarta (1953)
Midah, Si Manis Bergigi Emas (1954)

Korupsi (1954)
Calon Arang (1957)
Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958)
Bumi Manusia (1980)
Anak Semua Bangsa (1980)
Jejak Langkah (1985)
Gadis Pantai (1987)
Hikayat Siti Mariah (1987)

Rumah Kaca (1987)
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995)
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996)
Arus Balik (1995)
Arok Dedes (1999)
Larasati (2000)
Subuh (1950)
Percikan Revolusi (1950)
Cerita dari Blora (1952)
Cerita dari Jakarta (1957). Itulah profil Pramoedya Ananta Toer yang berhasil Grid.ID rangkum.

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.